Cerita Sex Pembantu Tetangga Ku Gagahi

Cerita Sex Pembantu

Dimulai dari tetangga ane yang punya pembantu baru untuk mengurusi anaknya yang masih balita.

Cerita Sex Pembantu Tetangga ane memang punya anak perempuan juga yang masih kelas 1 SMA, namun karena saking banyak lesnya si kakak tak bisa menemani adiknya. Tetanggaku merupakan seorang guru dan suaminya seorang dosen, jadi sehari-harinya memang tidak bisa menemani sang buah hati yang masih kecil itu. alkhasil didatangkanlah seorang pembantu.

Sebut saja namanya Sari. Sari didatangkan dari sebuah desa yang memang sudah putus sekolah dari 2 SMP. Ane tahu, karena sering mendengar ibuku bergosip. tampaknya Sari tak beda umur denganku. mungkin dia beda dua tahun. terlihat sangat jelas raut mukanya masih muda.

Karena kebiasaanku yang sering

membaca cerita-cerita panas, terlebih lagi tentang pembantu, membuat aku merasa ingin mencoba sensasinya. maklum daerah ane banyak pembantu (Komplek ya gan ) namun kebanyakan tua. Namun, kedatangan Sari membuat semuanya berubah.

Ane memang tak akrab dengan pembantu, namun, suatu hari, di depan rumah ane, kira-kira sekitar pukul 3 sore, Sari sambil mengendong anak tetangga (namanya Tristan) berada di depan rumahku. Saat itu,Cerita Sex Pembantu  ane sedang mencuci ane. Dengan sengaja (namun, tanpa maksud apapun ya) ane menggoda si Tristan, ane berniat menggendongnya. dengan basa-basi sedikit, ane pun berhasil membuat Tristan mau digendong denganku.

Tanpa sengaja, tangganku mengenai payudara Sari yang terbilang tidak terlalu kecil namun tidak besar juga. Sari diam tanpa ada rona marah. dalam hati ane berpikir, apa perlu dites sekali lagi. Setelah tidak terlalu lama ane bermain dengan Tristan, Ane kembalikan Tristan, namun kali ini ane mencoba sengaja sedikit memegang Payudaranya.

Ya, Sari pun masih diam tanpa protes sedikit pun. Dalam benaku ada sedikit sinyal untuk memulai hasratku, tapi aku tidak ingin bergerak terlalu cepat. hal itu selalu aku lakukan, kurang lebih seminggu (saat ane ada dirumah aja ya) dengan respon Sari yang sama.

Disuatu kesempatan, tepatnya malam hari, ane yang baru pulang bermain, melihat Sari berjalan menuju ke arah warung ruang komplek, tanpa segan-segan ane pun menawarinya untuk dibonceng.

“Malam Sari, mau kemana udah malem gini,” Ujarku,
“Oh, iya.., kamu anaknya Ibu Fitri khan,” Tanya Sari, “mau ke warung mas, disuruh Ibu beli korek mas,” Tambahnya
” Kok tahu, oh ya udah, mau aku temenin gak, warung yang deket, malem gini udah tutup, adanya agak jauh”
” Jangan Mas, Ngerepotin, apalagi ntar diliat tetangga ama satpam depan, gak enak mas,”
“Gpa” Sar, Udah malem, kasian anak cewek jalan Sendirian, Kilahku.
“bener Gpa” mas, ya udah, klo gitu, maaf ngerepotin,”

Sari akhirnya berhasil kuboncengi, dengan kubawa muter-muter dan mencari warung yang lumayan jauh. biarpun jauh, bagiku tak masalah, karena Payudara Sari menempel dipungunggku. Usai ketemu warung, Sari lalu turun membeli korek, namun ada hal yang mengejutkan, “mas aku lupa bawa uangnya, tadi kayaknya ketinggalan di dalem kamar,”
Oh, gpa” Sar, aku kira apa, Ini pakai saja dulu uangku, nanti dikembalikan pas besok aja,” Ujarku.
Setelah tanpa segan Sari menerima uangku, Sari pun kembali berkata, “Mas gpa” aku boncengan kayak gini, nanti ada yang lihat, Malu”

(aku berpikir awalnya, kiranya Sari sadar dengan kelakuanku untuk menikmati sentuhan Payudaranya, ternyata bukan itu), Gpa” Sar, khan tadi udah bilang, sudah malam.

Setelah mengantari Sari sampai kerumah, ane kembali juga pulang. Tepat dua hari setelah kejadian itu, adalah hari 17 Agustus, dimana seluruh warga komplek membuat panggung di depan komplek.

Acara tersebut yang berlangsung malam hari, tentu didominasi oleh Bapak-Bapak dan Para ibu untuk seru-seruan, sedangkan anak mudanya, sedikit terpisah.
Saat ane ingin mengambil rokok yang tersimpan dirumah, Sari memanggilku, untuk mengembalikan uangnya, “Mas, ini uang waktu itu beli korek,” sembari menyodorkan lima ribu rupiah.

“Tak usah sar, toh juga gak ada kembalian, oh ya kok Sari gak ikut di depan,” tanyaku
“Gak mas, Tadi sebentar kesana, eh Ibu suruh aku untuk suruh bawa pulang Tristan supaya tidur,” ujarnya
“Sekarang Tristan mana Sar,”
“Ada mas, Didalam udah nyenyak tidur, dia klo tidur susah bangunnya,”
(pucuk dicinta ulam pun tiba dibenaku) ya udah, Sari ikut aja kerumah, ambil kembaliannya, aku gak bawa uang soalnya, gpa” khan Tristan ditinggal sebentar,”
“Gpa” mas, klo cuma sebentar, jawab Sari
Alkhasil Sari berhasil mengajak Sari kerumahku yang jaraknya cuma satu rumah saja, awalnya Sari menunggu diluar, tapi kusuruh masuk saja dengan dalih rumah sedang sepi. tanpa penolakan pun, Sari mau ikut masuk.
Mas, cari apalagi mas, uangnya gak ketemu, Sari yang dari tadi menunggu di depan kamarku, bertanya
bukan Sar, Rokokku, bisa minta tolong bantuin aku gak?
Gpa” mas, aku masuk, tanya Sari penuh keraguan

Gpa” kok, juga sepi ini, kilahku
dengan pura-pura mencari, kusengaja menyenggol pintuku agar tertutup. hal itu membuat Sari kaget. “mas, kok pintunya ditutup?
“oh ya Sar, gak sengaja kesenggol, tapi ada yang mau aku obrolin sebelumnya sar,” cakapku agar dia tidak curiga
“apa itu mas, kok serius amat,”
“gini sar, sudah lama, aku suka melihat kamu, apalagi kadang aku gak sengaja menyentuhmu sar, maaf Sar bukan maksud aku kurang ajar, tapi aku jujur Sar, aku cuma minta maaf atas kelakuanku”
“oh, aku kira apa mas, Sari udah tau kok mas, tapi Sari gak bilang, karena Sari sebenarnya naksir mas,”
“hal itu membuatku bukan kaget, tapi kudekatkan diriku ke dia,” yang benar Sar? berarti klo aku boleh menyentuh kamu,”
“jangan mas, gak enak klo sampai diliat orang,” ujar Sari.
“gpa” kok Sar, gak ada orang ini apalagi acara itu sepi,” ujarku. tanpa banyak basa-basi, Sari kutarik tangannya, dan kulumat bibirnya, awalnya sedikit kaku, tapi Sari mulai menikmati.
Kudorong dia ketempat tidurku, sambil tanganku memegang payudaranya yang sudah kuidam-idamkan, Sari tak berontak sedikit pun. tak lama kuturunkan celananya hingga celana dalamnya melorot. awalnya ingin kumasukan tanganku, ternyata Sari sudah basah, tanpa ragu-ragu, aku mulai buka celanaku.
Tampangnya basah tak selalu mulus, lubang Sari begitu sempit, sehingga sulit, bahkan sampai Sari pun sedikit teriak, namun, niat itu tak aku urungkan, aku dorong agak sedikit kencang hingga akhirnya masuk. kugoyang Sari perlahan-perlahan, Sari pun mulai mendesah, bahkan dirinya tanpa disuruh, membuka bajunya, kemudian bangun melumat bibirku.
aku pun semakin menderu-deru, kukecangkan lagi goyanganku, Sari pun semakin berisik. aku suruh Sari untuk berposisi Doggy, awalnya sedikit binggung dia, namun, secepat kilat aku mengajarinya. disinilah “Senjataku” bagai diisap oleh vacum cleaner, Sari semakin becek dan berisik, akupun semakin cepat bergoyang, karena ini bukan pengalaman pertamaku, aku tahu kapan saat aku sudah mau keluar, namun apadaya, saat aku ingin keluar, Sari semakin mendesah dan menarikku, alhasil aku pun keluar dari dalam.
Sari sedikit binggung, tapi aku bilang, gpa” Sar abis ini kau ke kamar mandi bersihkan, namun sebelum itu, kau jilat dulu punyaku agar kau semakin tidak hamil, ujarku sedikit menipunya.
kurang lebih kami 15 menit, dan Sari menyiram vaginanya, sambil aku bantu untuk membersihkannya. tepat saat aku mengantarkannya ke pintu depan rumahnya, orang rumahnya pun berjalan, dan Sari pun segera masuk.
Kejadian ini sering aku ulangi saat siang hari, waktu orang tuaku tak ada dirumah, terkadang Tristan asyik sedang bermain di ruang tamuku, aku pun main bersama Sari.
Setelah 5 bulan, Sari disuruh balik ke rumah orang tuanya, karena ada juragan kambing yang ingin mempersuntingnya. alhasil sampai sekarang aku tidak bertemu dengan Sari lagi, si pembantu tetangga yang montok.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *