Seorang Majikan Perawanin Pembantu Nya

Cerita sex pemerkosaan

Tema kali ini menghadirkan Cerita Sex dari seorang Pria yang sudah berkeluarga Bernama Beni dengan Asisten rumah tangganya. Beni ini sebenarnya sudah mempunyai istri yang sangat cantik dan sexy. Namun yang namanya lak-laki tidak pernah puas dengan apa yang sudah dimilikinya, sampai pada akhirnya pembatunya-pun di perawani ketika tertidur pulas.Mau tahu kelanjutan ceritanya, Langsung aja yuk baca dan simak baik baik cerita dewasa ini.

Saya adalah seorang Pria yang sudah beristri, profesi saya saat ini sebagai wiraswasta yang yang lumayan mapan. Panggil saja Saya Beni, Saya akan menceritakan cerita sex pribadi saya dengan pembantu yang bekerja dirumah saya. Istriku bernama Revita, dia berprofesi sebagai pengsaja r di salah satu SMP ternama di kota saya. Cerita sex saya ini terjadi 1 tahun silam, tepatnya satu bulan sebelum bulan Ramadhan.

Begini awal cerita kisah sex saya ini, pembantu saya ini orangnya cukup cantik dan menggemaskan. Pembantu saya ini bernama Anita, sebenarnya dia mempunyai postur tubuh yang sedang-sedang ssaja . Dengan tinggi badan kira-kira 164 cm, dan berat badan 55 kg dia terlihat begitu menggemaskan.

Dengan kriteria postur tubuhya seperti itu Anita terlihat semok, ditambah lagi dia mempunyai payudara yang masih kencang, dan montok sekali. Kalau saya tafsirkan ukuran Bra Anita kira-kira 34B, dan itu hanya sebuah perkiaraan, soalnya saya belum pernah melihat secara langsung pada saat itu. Oh iya para pembaca, Anita ini sudah bekerja di rumah saya sejak 3 tahun yang lalu, yaitu sejak anak ke 2 saya terlahir.

Selain rajin Anita ini mempunyai sifat penyayang kepada anak-anak saya, karena perlakuan Anita seperti itu saya dan istri saya-pun percaya dengan dia. Karena sibuknya kami berdua sibuk bekerja, maka semua urusan rumah tangga diserahkan kepada Anita. Anita ini berpendidikan hanya tamat SD dan sekarang usianya sudah menginjak 17 tahun.

Anita ini mempunyai kebiasaan tertidur di Sofa ruang keluarga kami sembari mengendong anak saya yang kedua. Ketika itu kebetulan istri saya juga telah tertidur pulas di dekat sofa dimana Anita tertidur tadi. Di ruang keluarga kami ada Televisi LED ukuran 40 Inc, dan disamping Sofa ada sebuah meja makan. Saya mempunyai kebiasaan membukukan hasil penjualan saya di meja makan itu hingga larut malam.

Karena seringnya Anita tertidur di atas sofa ruang keluarga kami, saya-pun secara tidak sengsaja sering memperhatikan Anita yang tertidur pulas. Ternyata setelah saya perhatikan Anita ini cantik dan sensual sekali. Dengan kulit bersih, rambut terurai panjang, dan kaki jenjang, menurut saya Anita tidak pantas jadi pembantu. Sebenarnya saya ini tipe suami yang setia dan tidak aneh-aneh.

Kalau boleh jujur nih para pembaca, saya belum pernah sekalipun merasakan main serong atau berhubungan sex dengan wanita lain selain istri saya. Sebelumnya saya berfikir kenapa hanay harus aneh, istriku ssaja suda cukup cantik, berkulit putih mulus dan bodinya bahenol layaknya para gadis yang masih perawan. Bahkan ketika kami sedang berhubungan Sex istriku ini sangat liar dan tahan banting para pembaca.

Kalau bicara mengenai nafsu sex istri saya, beuhhh…. Mantaplah pokoknya. Sekarang waktunya kembali pada Anita, terkadang waktu ia ketiduran di sofa, belahan dadanya terlihat sanat jelas sekali olehku. Sampai pada suatu malam saya sedang ingin bersetubuh, tetapi sial sekali istriku saat itu sedang datang bulan. Seperti biasa si Anita pembantuku, ketiduran di atas sofa yang menghadap ke arah saya.

Dengan perasaan takut dan tangan gemetar pada saat itu saya iseng menghamprinya, sebenarnya saya takut sekali jika sampai istri saya bangun dan mengetahui perbuatan saya, tapi rasa takut itu teratasi oleh rasa penasaranku. Mulailah saya belai rambut Anita, ternyata dia diam ssaja . Lalu saya usap-usap pipinya, Eh ternyata dia masih Diam saja.

Saya-pun makin berani, saya mulai meraba-raba dadanya yang masih dalam terbungkus oleh bajunnya. Sementara anak saya tertidur dalam pelukan Anita, sambil tidur saya mulai curiga dia ketiduran atau pura-pura tidur. Kemudian saya mulai mengecup keningnya dilanjutkan dengan mendarat di bibirnya, eh… ternyata Anita masih terdiam saja. Saya penasaran, dan saya mulai isep mulutnya.

Ketika saya kecup bibirnya dia bergerak, otomatis saya kaget dong, kemudian saya-pun melepas ciuman saya, dan dia-pun tertidur lagi. Kemudian saya cium lagi bibirnya sambil tangan saya membelai-belai payudaranya masih dalam bungkus bajunya, saya jadi penasaran, ia benar-benar tidur atau tidak. Saya takut lalu saya-pun duduk di kursi makan untuk menenangkan diri.

Saya melihat si Anita masih terpenjam matanya tiba-tiba ia bangun karena anak saya saya dipelukkan bangun karena minta susu, kemudian si Anita bikinkan susu untuk anak saya. Setelah memberi anak saya susu, anak saya tertidur lagi, si Anita-pun minta pamit pada saya untuk menidurkan anak saya di kamar anak saya yang nomor satu. Saya-pun hanya mengangguk sambil pura-pura sibuk.

Setelah satu jam saya lihat si Anita tidak keluar dari kamar anaknya saya. Saya penasaran, kenapa ia ngak keluar dari kamar anak saya. saya dekati kamar anak saya, dan saya buka pintu pelan-pelan takut ketahuan istri saya, tiba saya kaget ternyata si Anita tertidur pulas bersama anak saya dan yang lebih membuat saya panas dingin adalah roknya tersingkap.

Hal itu membuat pahanya yang mulus terbentang dalam kondisi mengangkang. Kemudian saya-pun masuk kekamar pelan-pelan. Lalu saya berdiri disamping ranjang saya lihat wajah Anita, ketika itu ia benar-benar tertidur pulas, saya usap pelan-pelan celana dalam dekat Vaginanya pelan-pelan, sambil tangan kiri saya mengusap-usap payudaranya yang menonjol seski, saya terus mengusap-usap Vaginanya, dan setekah cukup lama saya merasakan celana dalamnya basah. saya kaget ternyata ia menikmati usapan tangan saya. saya mulai curiga jangan-jangan ia pura tidur.

Saya menuju mulutnya, saya kecup pelan-pelan mulutnya sambil tangan saya terus mengusap payudaranya. mulutnya saya isep keras. terdengar lenguhan nafasnya, perutnya terangkat. dadanya ia busungkan ke atas Saya makin penasaran. Saya buka kancing bajunya diatas dadanya. Sekaranag bajunya tersingkap ke atas, dan terlihat-lah dua bukit kembar yang ranum dan montok.

Hal itu membuat saya terkesima, bentuk payudaranya indah sekali, masih kencang sekali. Berbeda sekali dengan payudara istriku yang mulai kendor dan tidak begitu besar ukurannya. Saya membelai payudaranya dengan penuh sayang sekali-kali bibir saya mengusap-usap kulit payudaranya yang mulus. Lagi-lagi dia mendesah pelan, dan tangan kananku mulai saya selipkan di antara daging payudaranya.

Bra-nya agak sempit, saya berusaha masukin tangan saya hmm bukan maenterasa daging payudaranya kenyal dan dingin sejuk sekali. saya remas-remas payudara berkali sambil tangan saya bergantian meremas-remas payudaranya. mulut saya terus mengecup bibirnya. lidah saya kadang saya masukin kedalam mulutnya, diapun sedikit merespon saat lidahku saya masukan kedalam mulutnya.

Dia sedikit mengisap lidah saya. saya tambah nyakin kayaknya ia pura-pura tidur. meskipun matanya terpenjam, namun nafsu nya mulai naik. Saya tak sabaran lagi pengen lihat payudaranya secara utuh. saya buka tali BH nya dan sekarang payudaranya benar-benar dah teanjang. namun untuk jaga-jaga Saya tetap tidak melepas bajunya yang tersingkap.

Ketika itu hanya bhnya yang saya lepas talinya, kemudian saya tarik ke atas sehingga payudaranya yang montok itu menyembul keluar. saat itu juga saya langsung menyergap kedua putingnya. Saya hisap bergantian kiri dan kanan, sementara tangan kanan saya terus memasukkain jari tangan saya kedalam Vaginanya, lalu dia-pun mengegeliat dengan pelan, saya puas mengisap putingnya.

Pada saat itu Penis saya sudah sangat tegang sekali. saya lepas celana pendek saya. terus memperhatikan mulutnya yang sedikit terbuka, matanya masih terpenjam, kayaknya ia pura-pura tidur, kemudian saya naikin dadanya, posisi ia telentang pasrah. Sampai di dadanya, paha saya geser dikit ke atas. terus Penis saya yang udah asngat tegang langsung Saya sodorkan kedalam mulutnya.

Saya masukin dengan paksa Penis saya yang besar dan tegang itu ke mulutnya agak susah dn ada sedikit penolakan. tetapi penolakan tersebut tidak begitu kuat. saya terus memasukkan Penis saya kedalam mulutnya saya majukan pelan-pelan, terasa Penis saya menyentuh giginya ia mengerakkan giginya, wow… ia betul-betul ngak tidur nagk mungkin ia tidur.

Melihat dia menggerakan giginya sambil menekan Penis saya, oghh… sensasi yang luar bisa, sambil memaju mundurklan Penis saya kedalam mulutnya. Tangan saya yang kiri menjulur ke arah payudaranya saya remas-remas payudaranya, wow… benar-benar nikma, pikirku ia masih perawan dan belum pengalaman yang beginian. Ketika berdiri dari atas dadanya, Penis saya lepaskan dari mulutnya.

Namun saya kaget pada saat Penis saya lepaskan dari mulutnya pelan-pelan tiba mulutnya menjepit Penisku. Saya agak susah menarik Penisku, namun pelan-pelan akhirnya Penisku lepas. Saya biarkan ia telentang dengan baju tersingkap dan kedua payudaranya menyembul bebas dengan seksinya. Saya pakai celana dan terus Saya kekamar mengintip istri ku wow ternyata ia tidurnya sangat pulas. \

Kemudian saya tutup pintu kamarku da kembali kekamar anakku yang ada si Dnna begitu Saya lihat di ranjang, posisi Anita tidak berubah posisinya Saya semakin dapat angin. Penis masih tegang dan tidak turun-turun, Saya elus Vaginanya masih pakai celan dalam. Vaginanya dah basah sekali. Saya buka celan dalamnya pelan-pelan terus, Saya pelorotkan sampai ke mata kakinya.

Saya ngak berani melepas total celana dalamnya. pelan-pelan Saya naikin dia dan Penisku Saya arahkan ke lobak Vaginanya yang bsah itu Saya bimbing Penis-ku yang panjang dan tegang ke arah lobang Vaginanya. kakinya Saya reanggangkan lobang Vaginanya masih sempit. kuliahat wajahnya pasarh dan mata nya tetap terpenjemn dan kelihatan mulutnya bergeraka menahan nikmat ia pura-pura tidur.

Tetapi saya ngak peduli yang penting saya lagi masukin Penisku ke Vaginanya. Ternyata Vaginanya sempit dan susah sekali masuk Penis saya. Dia mendesah berlahan, lalu tubuhku Saya rebahkan diatas tubuhnya. Payudaranya menekan dadSaya. So WoW… nikmat sekali ternyata, lalu tiba-tiba tanganya dirangkulkan ke leherku dan menekan-nekan pinggulnya ke arah Penis-ku yang sedang bersusah payah menuju lobang kenikmatannya.

Pelan-pelan Penis-ku masukdan seperti batang Penisku telah amblas. ia merintih-rintih ngak karuan tetapi dengan mata yang masih terpenjamn. mulutnya Saya ciumi lagi dengan ganasnya, ia membalas ciuman ku. sekarang ia dah mulai menghisap-hisap lidahku dan mengginggit ujung lidah dengan pelan nafsu ku tak karuan ia terus menekan pinggulnya ke arah Penis.

Pada saat itu dengan tiba ia-pun tersendak oughhh.ooughhhoughh, bersamaan dengan terasa Penis-ku menembus sesuatu, saya melihat kebawah pada saat Saya maju mundurkan Peniskuada warna merah mudah di batang kotolku yang lagi maju mundur tersebut, Saya kaget dan ngak sadar ternyata Saya telah memecah perawanya tetapi ia kelihatan senyum tipis, wajahnya menegang.

Pada saat itu ada rasa penyesalan namun kenikmatan duniawa mengalahkan semuanya akhir Saya genjot Penis keluar masuk Vaginanya sambil tanganku tak henti-henti-nya meremas-remas kedua payudara nya seksi sementara mulutku terus mengisap-hisap lidahnya dan mencupang lehernya, oughnikmat tiba-tiba ia mengejang bersaman dengan itu Sayapun menyemburkan air mani panas kelobang Vaginanya.

Cukup banya air mani, yang masuk kelobang Vaginanyaakhir Saya lemas dan diam-diam Saya tarik kontoku dari lubang Vaginanya. Saya turun dari ranjang. Saya lihat anakku masih tidur pulas. dan pembantuku Anita juag dalam keadaan tidur pulas, dan matanya terpenjamn. Saya rapikan pakaiannya setelah celana dalam dan bhnya Saya kancingkan lagi.

Saya keluar kamar anakku masuk ke kamar tidurku dan kulihat istri tidur dengan pulas., untung ia ngak bangun. Besok paginya Saya bangun, istriku dah berangkat kerja. kulihat Anita, sikapnya menunjukkan biasa saja , ia sempat tanya ke saya, pak semalam Saya mimpi aneh deh, kok lain dan anuku terasa perih, terus ia bilang kenapa ada warna merah ya pak di paha dan dalam celananyaia nanya dengan lugu Saya pura ngak tahu, namun kelihatan ia puas. sambil tersenyum ia pergi kekamar mandi sambil untuk mencuci baju. Selesai.

Cerita Pegawai Salon Pemuas Ibu Pejabat

Cerita Sex Selingkuh

Tema kali ini menceritakan pengalaman Sex dari seorang Remaja bernama Gibran. Karena tekanan ekonomi, dan rasa ingin untuk melanjutkan sekolah keperguruan tinggi, Gibran ini rela bekerja disalon kecantikan. Pada sampai akhirnya diap-pun mendapatkan pelanggan istri pejabat. Singkat cerita karena sering bertemunya mereka, akhirnya mereka-pun melakukan hubungan sex terlarang. Mau tahu kelanjutan ceritanya, Langsung aja yuk baca dan simak baik baik cerita dewasa ini.

Salam sejahtera untuk semua para pembaca, saya akan menuangkan cerita Sex kisah pribadi saya. Sebelum memulai cerita sex saya ini ada baiknya bila saya memperkenalkan diri dahulu. Panggil saja nama saya Gibran, kisah ini terjadi kira-kira beberapa tahun sejak aku lulus SMA, ketika itu umurku menginjak 21 tahun. Pada saat itu terus terang saja keadaan ekonomi keluargaku sedang jatuh.

Akibat ekonomi dalam keluargaku sedang jatuh, dan kebetulan kakakku sudah telanjur masuk perguruan tinggi swasta, maka orang tuaku saat itu hanya mampu membiayai kuliah kakakku saja untuk menyelesaikan kuliahnya saja. Dalam kondisi yang seperti ini aku terpaksa mengalah demi kakakku dan bisa melanjutkan sekolah lagi dalam perguruan tinggi.

Bahkan aku harus ikut banting tulang juga demi mencari tambahan untuk sesuap nasi dan untuk tambahan biaya kuliah kakakku. Walaupun memang pada usiaku yang saat itu seharusnya aku mendapatkan pendidikan, tapi niatku untuk menjadi orang yang sukses dan berguna bagi orang tua amatlah besar. Aku mengatakan dalam hatiku, bahwa aku harus tetap semangat.

Bagaimanapun aku harus mencari cara agar aku bisa melanjutkan sekolah sampai mendapat gelar sarjana, Itu sudah menjadi tekadku. Aku harus bisa mencari uang sendiri untuk biaya kuliahku kelak di perguruan tinggi. Sampai pada akhirnya aku-pun mencari perguruan tinggi swasta yang bisa memberikan jadwal kuliah pada malam hari, sehingga aku pada siang hari aku bisa mencari uang untuk biaya kuliahku.

Namun rencana dan kenyataanya itu memang jauh berbeda, di era yang maju ini seorang lulusan SMA seperti aku ini mana mungkin bisa dengan mudah mendapatkan pekerjaan. Sedangkan yang sarjana bahkan S2 saja masih banyak yang menganggur. Namun aku kembali menyemangati diriku, hidup memang butuh perjuangan. Aku berkata dalam hatiku, asalkan mendapat gaji, kerja apapun aku mau.

Sampai pada akhirnya akupun mulai melamar pekerjaan, mulai dari kantor satu ke kantor yang lainnya sudah aku coba, namun terasa sulit sekali untuk mendapatkan pekerjaan dengan modal tanpa keahlian dan dasar pendidikan yang tinggi. Namun dalam kesulitan itu aku teringat pepatah lama, ( di mana ada kemauan, di situ ada jalan ), hanya hal itu yang bisa memberikan aku semnagat pada saat itu.

Tekad bulatku-pun selalu mendapingiku, setelah sibuk ke sana ke mari yang memakan waktu cukup lama, pada akhirnya aku-pun mendapatkan pekerjaan di sebuah salon kecantikan di Tamrin. Namun karena aku tidak punya keahlian apa-apa, aku hanya dijadikan tukang creambath untuk para pelanggan sebelum dicukur. Walaupun hanya menjadi tukang creambath aku sudah sangat bersyukur.

Pekerjaan ini aku terima dengan ikhlas. Kata orang tua, kalau bekerja dengan ikhlas, maka di situ ada hikmah dan tidak terasa capai. Pemilik salon tersebut seorang wanita keturunan China yang baik sekali dengan postur yang mempesona. Lagi-lagi aku mulai menilai seSetiap wanita yang aku temukan. Usianya kira-kira antara 32 tahun dan dia belum punya suami, entah kalau menikah, aku tidak tahu sudah apa belum.

Dadanya sebetulnya tidak begitu besar, mungkin kira-kira ukuran BRA-nya sekitar 32B. Tapi bulat pinggulnya, aduh… indah sekali, membuat laki-laki tidak berkedip matanya kalau mamandangnya. Dengan kebiasaan sehari-hari dia selalu memakai pakaian yang ketat, maka bentuk tubuhnya yang cukup padat, membuat postur tubuhnya sangat enak untuk dipandang, apalagi dengan kulit yang putih.

Aku sudah mulai lagi dengan membayangkan bagaimana kalau pembungkus itu tidak ada. Tapi kenapa belum ada laki-laki yang mau menikahinya? Andai kata dia menawariku, pasti tanpa berpikir panjang lagi kuterima. Oh ya teman-teman, dia selalu memakai rok mini, sehingga menambah inventaris pandangan pada dirinya, kadang-kadang terlihat paha mulusnya terkuak agak ke atas.

Pelanggan di salon itu cukup banyak, laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda, tetapi yang paling banyak adalah ibu-ibu yang kelihatannya usianya sekitar 33 sampai 35 tahun. Aku cukup berpengalaman menaksir usia seorang wanita. Dan dapat dipastikan yang datang adalah orang-orang beruang. Kalau pelanggan laki-laki yang banyak, itu disebabkan karena penampilan pemiliknya yang menarik.

Ditambah lagi pemilik salon amatlah ramah, hal ini jarang dimiliki pemilik salon yang lain, dan juga pemilik salon ini kadang-kadang suka menggoda para pelangganya.
Banyak juga pelanggan rutin yang hampir Setiap hari Sabtu datang, dan ini didominasi oleh kaum ibu. Dan salah satunya adalah seorang ibu kira-kira usianya 35 tahun dengan wajah cukup cantik tetapi kulit tidak terlalu putih, tapi juga tidak terlalu hitam.

Tinggi wanita itu kira-kira 167 cm, cukup ideal untuk ukuran seorang wanita. Ukuran BRA-nya belum kelihatan meskipun dilihat dari samping, karena dia selalu memakai pakaian blouse longgar, sehingga sulit untuk memprediksi ukurannya dari luar, entah kalau nanti dari dalam. Dan anehnya seSetiap dia datang, dia selalu meminta aku yang melayani untuk mencuci rambutnya, bahkan dia rela menunggu ketika aku sibuk.

Oh iya, rambutnya cukup lebat, hitam mengkilat (seperti iklan shampo di TV) dan kalau diurai, bukan main indahnya dengan potongan yang sangat bagus, dengan panjang sampai ke punggung. Hal itu yang membuat kecantikannya semakin bertambah, karena potongan rambutnya. Penampilan rambutnya dalam keseharianya, dia selalu disanggul modern seperti layaknya istri seorang pejabat.

Dia selalu datang seSetiap hari Rabu jam 09.00, jam datangnya hampir selalu tepat. Seringkali minta dicreambath, tetapi kadang-kadang juga hanya cuci saja. SeSetiap datang, dia paling sedikitnya menghabiskan uang lebih kurang dua ratus ribu rupiah, ya untuk perawatan lainnya. Sampai suatu hari, hari itu hari Rabu pagi kira-kira jam 10.00, dia datang dengan tergesa-gesa masuk ke dalam salon sambil mencariku.

“ Gibran, mana Gibran… ” katanya.

“ Ya Bu… Gibran ada di sini ” , sambutku sambil ketakutan, ada apa kiranya dia mencariku.

“ Ah kamu Bra dicari-cari nggk nongol, cepet cuciin rambutku, soalnya aku ada undangan nih. Udah agak terlambat, maklum bangunnya kesiangan, hhe… ” , katanya.

“ Rambutnya mau diapain Bu ? ” kataku.

“ Cuma dicreambath saja kok Bran ” , katanya lagi.

“ Baik Bu, di sini Bu… ” kataku sambil menunjuk tempat duduk untuk mencuci rambut.

Dia langsung merebahkan tubuhnya ke kursi tersebut sambil menyibakkan rambutnya ke belakang, baunya wangi. Aku mulai mencuci rambutnya sambil memijat-mijat kecil kepalanya, kemudian pipinya kuusap lembut dengan telapak tangan diiringi pijatan kecil. Hal ini sering kulakukan kepada pelangganku untuk merangsang syaraf rambut dan syaraf muka.

Mataku dari atas kepalanya memandang tubuhnya yang telentang di atas kursi cuci. Oh, kelihatannya dia tidak memakai BRA. Hal ini terlihat dengan tonjolan dari puting susunya. Memang kalau sedang dalam posisi berdiri tidak seorang pun yang dapat melihatnya karena bajunya yang longgar. Dengan kancing blouse bagian atas terlepas satu, aku dapat menangkap belahan dada yang terkuak keluar.

Kelihatannya dia tidak menyadari akan hal itu, bahkan malah memejamkan matanya, menikmati pijitan kecilku, yang sudah sampai ke lehernya.

“ Bran… kamu udah lama kerja di sini? ” tiba-tiba keheningan dipecahkan suara ibu tadi.

“ Baru dua bulan Bu… saya perhatikan Ibu hampir Setiap minggu ke sini ya Bu? ” namun pembicaraan ini tiba-tiba terputus.

“ Aduh Bran… itu jerawat kok kamu pijit, sakit dong! ” katanya sambil meraba jerawat yang dengan tidak sengaja kupijit.

“ Oh ini toh, maaf Bu saya nggak sengaja. Habis sembunyi tertutup rambut sih… ” kataku.

“ Ibu kok jerawatan sih? Anu ya… nggak… ” ucapku,

Dan aku tidak berani melanjutkan, takut ibu itu marah. Eh malah sebaliknya, dia malah dengan santainya yang melanjutkan ucapanku,

“ Kamu mau ngomong, nggak tersalurkan ya? Kamu memang nakal kok ” , katanya acuh tak acuh.

“ Rambut Ibu bagus loh, lebat dan hitam kayak yang di TV ” , kataku mulai berani menggoda.

“ Ah masak sih… ” katanya tersipu-sipu.

Memang begitulah wanita kalau mendapat pujian atau godaan meskipun dari seorang lelaki pencuci rambut, perasaannya terbang menerawang nun jauh di sana.

“ Bran… bisa nggak sih kalau cuci begini dipanggil ke rumah. Kalau bisa kan enak ya. ” ucapnya,

“ Nggak berani Bu saya, nanti kalau ketahuan dimarahin. Cari kerja susah ” , kataku.

“ Kalau aku bilang Bosmu gimana? ” katanya tidak mau kalah.

“ Terserah Ibu, “ kataku lagi tanpa bisa membela diri lagi.

“ Ses… Ses… ” teriaknya langsung ke pemilik salon.

“ Ada apa Bu? ” jawab pemilik salon itu.
“ Boleh nggak kapan-kapan aku cucinya di rumah saja. Nanti aku tambah biayanya ” , katanya lagi.

“ Waduh Bu maaf nggak bisa Bu. Soalnya kan masih banyak pelanggan lainnya, Bu. Betul-betul maaf Bu… tapi kalau di luar jam kerja atau pas dia libur boleh-boleh saja sih ” , kata pemilik salon.

Waduh, aku nggak bisa menolak deh. Bossku sudah mengatakan seperti itu. Aku nggak enak kalau mencuci di rumah, soalnya aku rasa nggak bebas, apalagi belum tentu ada kursi cuci seperti di salon. Kerjanya kurang enak.

“ Tapi Bu… di sini saja ya Bu… ” pintaku.

“ Kenapa? kamu nggak mau ya mencuci aku di rumah ” , katanya dengan nada agak tinggi.

Waduh marah nih orang, biasa istri seorang pembesar kalau kamauannya tidak dituruti cepat ngambek.

“ Nggak gitu Bu, kan di rumah nggak ada kursi seperti ini Bu… ” kataku menolak dengan halus.

“ Siapa bilang nggak ada… kamu menghina ya… kalo nggak mau ya sudah ” , katanya semakin tinggi. Wah… wah… ini benar-benar marah.

“ Maafkan saya Bu, saya nggak bermaksud untuk menolak permintaan Ibu. Tapi baiklah Bu, kapan Ibu mau Gibran siap kok Bu… ” kataku mengakhiri permintaannya.

“ Nah gitu dong… terima kasih ya Bran… ” katanya puas.

Aku terus memijit bahunya dengan jari-jariku sedikit masuk ke dalam lubang leher bajunya,

“ Hmm… enak di situ Bran ” , suara itu keluar dari mulutnya yang mungil.

Di situ aku urut agak lama, sekitar 15 menit. Belahan dadanya semakin terkuak saat jariku turun masuk. Dari sini aku dapat melihat dan memperkirakan ukuran Payudaranya, pasti ukuran BRA-nya 34 A, B atau C, aku nggak perduli, yang penting Payudara itu sungguh besar meskipun sudah agak turun. Cuma sampai saat itu aku belum melihat putingnya sebesar apa dan warnanya apa.

“ Bu sekarang sudah setengah sebelas loh Bu, Ibu mau berangkat undangan jam berapa? ”

“ Nanti aku dijemput bapak jam 11 persis ” , katanya.

Aku berpikir, aku selesaikan 15 menit lagi kemudian mengeringkan 15 menit sambil merapikan, aku kira cukup, karena rambutnya hanya disisir dengan teruai alami saja, sehingga tidak perlu waktu banyak untuk menyanggul segala. Saat jam 11.00 tepat suaminya menjemput dan langsung pergi.

“ Terima kasih ya Bran… ” katanya sambil memberikan tip kepadaku,

Ketika itu aku melihat uang lima puluh ribuan dua lembar. Aku bersyukur sekali karena uang sebesar itu pada saat itu sangat berharga. Hari itu rasanya cepat sekali berlalu. Aku pulang dari kerja jam empat sore, istirahat sebentar kemudian aku berangkat kuliah. Aku mengambil Fakultas Ilmu Komunikasi, yang tugasnya nggak begitu banyak.

Sampai di rumah jam sepuluh lewat lima belas menit, aku mencuci muka kemudian langsung beranjak ke tempat tidur. Mata rasanya mengantuk sekali tapi nggak bisa ditidurkan. Pikiranku melayang dan mengkhayal apa yang telah aku lihat pagi tadi. Payudara yang masih segar, dengan warna coklat muda mendekati warna cream. Lama aku mengkhayal, dan akhirnya aku pun tertidur pulas.

Pagi harinya, sesampainya aku di salon, bossku menyampaikan pesan telepon dari ibu pejabat kemarin, katanya dia minta untuk dicuci rambutnya di rumah mengingat dia tidak ada kendaraan untuk jalan ke salon. Kalau aku kurang jelas supaya aku telepon balik ke sana. Aku pikir sedikit aneh, kemarin baru dicuci kok sekarang minta dicuci lagi. Tapi peduli amat, yang penting uang masuk kantong, pikirku.

Lalu kutekan nomor telepon yang diberikan oleh bossku itu,

“ Hallo… ini dari salon… di Tebet, bisa bicara dengan Ibu… aduh siapa ya namanya Ibu itu… ” aku sedikit gugup.

“ Ya halo… oo… dari salon… dengan siapa nih. ”

“ Dengan Gibran Bu… ” kataku.

“ Oh ya Bran, tadi Ibu telpon tapi kamu belum datang. Gini… aku minta kamu datang ke rumah… bisa? untuk cuci rambutku… aku nggak ada kendaraan Bran ”

“ Maaf Bu, kalau jam kerja ini nggak bisa… sedangkan kalau sore saya sekolah Bu… gimana kalau besok padi Bu, kebetulan giliran saya libur ” , kataku.

“ Aduh gimana ya… tapi oke lah kalo nggak bisa… besok jam berapa kamu datang? ”

“ Jam sembilan Bu… ya lebih-lebih sedikit gitu… ” kataku.

Esok harinya aku benar-benar datang ke alamat yang diberikan, di bilangan daerah Tebet juga. Rumahnya minta ampun besarnya. Pintu pagarnya tinggi sekali sehingga orang tidak bisa melihat aktifitas yang dilakukan oleh penghuni rumah. Aku jadi berpikir, dari mana uang sebanyak ini untuk beli rumah sebesar itu.

Sedangkan keluargaku untuk mencari biaya sekolah anaknya saja tidak mampu. Singkat cerita lalu Kupencet bell yang ada di samping pintu gerbang. Tidak berapa lama keluar seorang perempuan separuh baya membuka pintu, kelihatannya dia adalah pembantu dirumah itu,

“ Cari siapa Dek? ”

“ Ee… e… Ibu… ”

Pada saat itu aku tidak melanjutkannya karena aku belum tahu nama ibu pejabat yang kemarin. Aku juga bodoh, kenapa kemarin nggak aku tanyakan ke orang salon.

“ Ibu Trias maksud adek… ” katanya.

Oooh, tenyta namanya Ibu Trias, baru tahu aku.

“ I… iya… Bik… ” kataku sedikit gugup.

“ Adek dari salon ya? udah ditunggu Ibu di dalam ” , katanya.

Aku masuk lewat pintu garasi yang menuju ke bagian belakang rumah. Di garasi berjajar dua buah mobil bermerek, warna biru tua dan silver. Aku semakin minder saja melihat pemandangan tersebut.

“ Kok sepi Bik… ” tanyaku agak heran mengingat rumah sebesar itu tidak ada penghuninya.
“ Kami hanya berempat Dek… Bapak, Ibu, supir yang kebetulan adalah suami saya sendiri dan saya sendiri… sekarang Bapak sedang pergi ke Bandung diantar supir pakai mobil dinas. ”

“ Ooo… ” hanya kata-kata itu yang keluar dari mulutku terheran-heran.

Aku masuk ke belakang, ditunjukannya jalan menuju ke suatu ruangan. Di ruangan tersebut, kira-kira ukuran 6 x 7 meter persegi tersedia peralatan salon lengkap dengan dua buah kursi cuci dan satu buah pengering. Untuk apa barang sebanyak ini kalau Setiap minggu tetap pergi ke salon, pikirku.

Sungguh heran saya, terkadang orang yang kebanyakan uang jalan pikirannya kurang rasional, yang dipikirnya hanya bagaimana caranya menghabiskan uangnya. Tanpa berpikir bagaimana supaya uangnya bisa bermanfaat untuk orang lain yang membutuhkan dari pada orang kaya. Lalu berapa lama, muncul Ibu Trias di belakangku,

“ Pagi Bran… ”

“ Pagi Bu… ” kataku agak kaget.

Ibu Trias pagi itu memakai pakaian senam warna cream dipadu dengan bawahan warna merah muda, dengan rambut digelung ke atas, sehingga menampilkan lehernya yang mulus dan tergolong panjang. Keringatnya masih mengucur dari tubuhnya, membuat tubuhnya makin menempel pada baju senamnya.

Ketika itu terlihatlah lekuk tubuhnya yang menempel pada baju senamnya, terutama bagian dadanya, nampak tonjolan kecil yang kelihatan sedikit tegak. Sedang bagian bawahnya, terlihat membekas belahan kecil di antara selangkangannya yang semok dan menggairahkan itu, mantap…

“ Kamu kok bengong Bran ” , katanya memecah kesunyian.

“ Ah nggak Bu… saya cuma… ”

“ Cuman apa… cuman ngeliatin gitu ” , katanya terus terang.

Ibu Trias membuka gelungannya dan menyibak-nyibakkan rambutnya ke belakang sehingga tergerai lepas. Betul-betul potongan rambut yang sangat menggairahkan.

“ Sekarang kita mulai ya Bran… ” katanya sambil merebahkan tubuhnya di atas kursi cuci.

Dengan pakaian ketat seperti itu dan posisi rebahan seperti itu, kelihatan sekali kalau Payudaranya masih kencang diusianya yang 36 tahun. Payudaranya masih mendongak ke atas dengan putingnya yang agak menonjol. Belahan dadanya terlihat di balik pakaian senamnya yang terbuka agak lebar di bawah leher. Aku termangu memandang pemandangan yang menggairahkan nafsuku sebagai laki-laki normal.

Kubuka kran air di wastafel yang telah disediakan khusus untuk cuci rambut, kumasukkan semua rambut yang panjang dan hitam mengkilap itu, mulailah aku mencucinya sampai beberapa menit. Aku lihat Ibu Trias memejamkan matanya sambil kedua tangannya bersedekap di bawah Payudaranya.

Sehingga Payudaranya tertarik ke atas, hal itu membuat dua buah puting kembar di atas dua bulatan Payudaranya. Pada saat itu aku memandanginya sambil tanganku sedikit memberikan pijitan-pijitan kecil di kepalanya, setelah proses pencucian rambut selesai. Pemijitan mula-mula aku lakukan hanya di bagian kepala, kemudian turun di belakang leher, dan kemudian sampai di kedua bahunya.

“ Nah di situ Bran… enak Bran… aku jarang pijat sih akhir-akhir ini… ” katanya sambil matanya tetap terpejam.

Sambil memijat bahunya, jari-jariku kucoba sedikit turun menuju belahan dadanya yang montok itu, sambil kuberikan pijitan kecil. Ibu Trias malah membusungkan dadanya sambil menghela nafas. Makin besar helaan nafasnya, semakin menonjol Payudaranya, dan semakin senang aku melihat pemandangan gratis ini. Aku coba lagi jariku lebih turun agak masuk ke dalam belahan dadanya.

Kemudian sambil terus melakukan pijitan kecil. Tapi pijitanku lebih cenderung meraba, karena saking lembutnya. Ternyata pijitanku tadi membuat Ibu Trias agak gelisah, mendongakkan kepala, menaikkan dadanya, menggeser posisi tidurnya dan lain sebagainya. Kelihatan Ibu Trias mulai terangsang dengan rabaanku tadi. Tapi Ibu Trias tidak mengadakan reaksi apapun kecuali menurut apa yang aku lakukan.

Aku semakin berani mengadakan percobaan selanjutnya. Kali ini aku sudah kepalang nekat, kumasukkan kedua tanganku ke dalam belahan dadanya dan menyentuh kedua buah kembarnya, dan kuusap keduanya dengan memutar arah keluar. Ibu Trias semakin membusungkan dadanya seakan-akan mau diserahkan buah kembar itu kepadaku dengan ikhlas. Gairah sudah menjalar ke dalam tubuh Ibu Trias.

“ Bran… ” ucapnya,

Spontan aku kaget setengah mati, cepat-cepat kutarik kedua tanganku dari daerah terlarangnya.

“ Ya… Bu… rambutnya mau dikeringin Bu… ” kataku sekenanya untuk mengalihkan perhatiannya.

Pada saat itu Tubuhku gemetaran menanti apa yang akan dilakukan padaku yang telah berbuat kurang ajar tadi.

“ Ma… maaf Bu… kelakuan saya tadi Bu… ” kataku sambil menghiba.

“ Oh nggak apa-apa… enak kok… Oh ya, rambutnya nggak usah dikeringin pakai pengering… biar kering sendiri… Nah sekarang teruskan pijitanmu ” , kata Ibu Trias seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.

Tapi tubuhnya digesernya ke atas, sehingga posisi dadanya semakin mendongak ke atas. Aku menenangkan diri beberapa saat, kemudian mulai memijit-mijit lagi di bagian depan. Aku ulangi lagi apa yang tadi kulakukan. Ibu Trias diam, bahkan reaksinya di luar dugaanku.

Tanganku ditangkapnya dan dimasukkan ke dalam belahan dadanya. Pucuk dicinta ulam tiba, Tanganku menyambut tarikan itu dengan buru-buru meremas kedua Payudara tersebut. Reaksinya di luar dugaan, bahkan kali ini tidak ketinggalan, pantatnya pun ikut diangkat.

“ Bran… kamu kok nakal sih… ” desahnya hampir tidak bersuara.

Masih kenyal dan keras Payudara Ibu Trias. Tanganku masih menelusup ke baju senamnya meraba, meremas, dan sesekali kusentuh puting susunya yang sudah tegak berdiri.

“ Eum… ussss…. Ahhhh… ouhhh… ” hanya itu ucapan yang keluar dari mulutnya.

Kemudian tangannya merangkul kepalaku yang berada di atasnya dan ditariknya wajahku mendekati wajahnya dan seterusnya diciumnya bibirku dengan ganasnya. Astaga nikmatnya, sungguh pada saat itu aku kaget bukan main. Aku tidak siap dengan gerakan tersebut, sehingga aku gelagapan dan agak terdorong ke depan hampir jatuh. Akibatnya peganganku pada Payudaranya semakin erat.

“ Aduh Bran… jangan kencang-kencang dong pegangnya… ” kata Ibu Trias sambil mencium bibirku,

Sedangkan lidahnya mulai beraksi di kerongkonganku, memutar-mutar, menyedot lidahku dengan penuh gairah. Aku tidak sabar, kulorotkan baju senamnya dari belahan lehernya turun ke bawah sampai perut sehingga terbukalah tubuh bagian atasnya, dan tersembullah dua Payudara yang indah dengan puting yang kecil berdiri tegak.

Aku merubah posisi, tidak lagi dari atas kepalanya, tetapi berada di sampingnya sambil tanganku mengusap-usap Payudaranya. Kutundukkan wajahku, kucium Payudaranya dan…

“ Eghhh… egh… ” nafas Ibu Trias terdengar ngos-ngosan menahan birahi yang sudah memuncak.

Aku jilat puting susunya, makin kelihatan memerah berkilau karena basah oleh air liurku.

“ Ouh… Geli… Bran… aduh… eenak Bran… uhhh… uhhh… ” kembali nafasnya tidak terkontrol lagi.

Sementara tangannya menggapai-gapai mencari pahaku, kemudian dipeluknya pahaku sekuat tenaga seakan menahan sesuatu yang akan pecah, sehingga jilatanku pada puting Payudaranya terlepas. Sekarang posisiku berdiri sedang Ibu Trias menciumi pahaku sambil mencari selangkanganku. Diremasnya pantatku yang masih padat berisi, digigitnya tonjolan di dalam celanaku.

“ Aduh Bu… ”

“ Kenapa Bran… ”

“ Enak Bu… ” kataku sambil terpejam merasakan kejutan yang diberikannya.

Sambil berdiri, tanganku mencari Payudaranya yang menggantung karena posisinya yang membungkuk. Kuremas, kumainkan putingnya kembali dengan sedikit memberikan cubitan-cubitan kecil, sementara gigitannya masih terus dilanjutkan. Kemudian tangan yang mulus itu mencari retsliting celanaku dan dibukanya, terus dipelorotkan sekalian celana dalamku.

Secara langsung, Penisku yang sudah sejak tadi tegang mencuat keluar tegak membentuk sudut 45 derajat ke atas. Ibu Trias kelihatan kaget menyaksikan apa yang baru saja terjadi, diam sebentar kemudian mulailah tangannya memegang Penisku dengan lembutnya sambil berdiri dan sekarang posisi kami saling berhadapan, lalu kami-pun saling memegang.

Tanganku memainkan Payudaranya, sedang tangannya memainkan Penisku. Bibirnya didekatkan ke bibirku sambil berbisik,

“ Bran… aku pingin Bran… ”

Aku diam tidak menjawabnya, bukan karena aku tidak mau, tapi sudah tidak ada lagi kata-kata yang bersarang di kepalaku, yang ada hanya nafsu yang sudah memuncak.
Beberapa saat kemudian langsung dikulumnya bibirku dan kami saling berpagut, lidah kami saling melilit, saling sedot.

Tanganku mulai bergerilya ke bawah menelusup ke dalam celana senamnya yang tidak memakai celana dalam sehingga tanpa kesulitan sampailah aku pada gundukan yang sudah basah tertutup oleh rambut-rambut halus. Jari tengahku mencari lembahnya, kemudian terus aku sentuh klitorisnya.

“ Aduh Bran… geli sayang… ”

Aku tidak peduli, aku lanjutkan gerilyaku. Aku gosok-gosok klitorisnya dengan perlahan-lahan takut kalau menimbulkan rasa sakit. Sementara tangan kananku memainkan Vaginanya, bibirku tetap bermain dengan lidah ke dalam bibirnya, sedang tangan kiriku meremas pantatnya yang masih keras. Dan sebaliknya, tangan kanannya masih memainkan Penisku, sedang tangan kirinya meremas pantatku.

Dengan gairah yang semakin besar, mulutku kuturunkan ke Payudaranya, dan kuciumi, serta aku sedot puting susunya yang sejak tadi sudah berdiri tegak dengan warna merah kehitam-hitaman. Ibu Trias menggelinjang sambil membusungkan dadanya, sambil mendesah kenikmatan dan semakin bernafsu aku dibuatnya dengan dada yang makin ke depan.

“ Bran… cepet masukin… ”

Kelihatannya Ibu Trias ingin cepat-cepat menyelesaikan permainan ini. Aku kemudian mengambil posisi jongkok, kupelorotkan celana senamnya maka terlihatlah olehku benda yang tertutup oleh rambut-rambut kecil yang sedikit basah sudah terpampang di hadapanku.

Sambil memeluk kedua pahanya, kucium Vaginanya dengan ganas. Lalu aku sibakkan rambut-rambut tersebut, kumasukkan mulutku ke celahnya dan kusedot cairan lendir yang ada di sekitarnya sampai kering.

“ Aachhh… Bran… ” teriak Ibu Trias.

“ Eeh Ibu… nanti kedengaran orang lo Bu… ”

“ Habis kamu nakal sih. ”

Saat itu rambutku dijambak dan kepalaku ditekankan ke dalam sehingga makin kencang menempel ke dalam Vaginanya.

“ Bran… kita ke ruang sebelah yuk… ” katanya.

Sambil berpelukan kami berdua berjalan menuju ruang sebelah yang berukuran cukup besar dilengkapi meja, kursi santai dan satu sofa berbentuk empat persegi panjang. Ibu Trias membimbingku menuju sofa tersebut. Kemudian dia membaringkan tubuhnya di atas sofa dengan posisi telentang dan rambutnya yang panjang dan sudah kering tersebut tergerai ke lantai.

Pemandangan yang sangat mengesankan, sebentar-sebentar Ibu Trias menyibakkan rambutnya. Nafsuku semakin menggebu, mungkin Ibu Trias sengaja untuk memancing nafsuku dengan keindahan rambutnya. Ditariknya kepalaku ke arah Vaginanya kembali. Di situ aku teruskan permainanku. Kujilati klitorisnya, kusedot, kumasukkan lidahku dalam-dalam dan Ibu Trias merintih,

“ Aduh… Bran… enak… ” suaranya hampir tidak bersuara.

Ibu Trias kemudian meyuruhku naik ke atas tubuhnya dengan kepalaku tetap memainkan Vaginanya. Diciuminya Penisku sambil dikocok-kocok kecil dengan tangannya.

“ Aduh nikmat Bu… ” ucapku,

Adegan tersebut kami lakukan cukup lama, tetapi Ibu Trias tidak pernah memasukkan Penisku ke dalam mulutnya. Aku tidak mengerti, mungkin gengsinya masih besar, meskipun nafsu sedang menjalar ke seluruh tubuhnya. Tapi dengan ciumannya dan kocokannya sudah cukup membuatku merem melek. Kujilati terus klitorisnya sehingga
“ Acchh… Gibran… aku… mau… kee… aduh… aduh… Gibran… aauucchh… eenak… oh ya… oh ya… aku nggak tahan… ”

Tapi aku tetap saja memainkannya sampai akhirnya Ibu Trias sudah betul-betul tidak tahan. Dan tiba-tiba Ibu Trias bangkit dan membalikkan tubuhnya, mengangkangkan kakinya ke kanan dan ke kiri sofa, menarik kepalaku, dan sambil menciumi bibirku dia berbisik lirih,

“ Bran masukkan ya… ” tangannya sambil memegang Penisku menuntunnya ke lubang Vaginanya yang sudah basah.

Digesek-gesekannya Penisku ke bibir lubangnya, kemudian…

“ Blessssssssssss… ” , masuklah Penisku semuanya.

Ditekannya pantatku seakan-akan Ibu Trias tidak mau ada sebagian Penisku yang tersisa. Dengan posisi Penisku di dalam, aku diamkan beberapa saat, sambil bibirku mengulum bibir Ibu Trias dan tanganku meremas Payudaranya, terasa sedotan kecil dari Vagina Ibu Trias terhadap Penisku. Enak sekali, makin lama makin keras sedotannya,

“ Ouh… Sssss.. aaahhh… ” aku mengerang kenikmatan.

“ Ibu… Ibu… aauucch… oh… oh… ” tapi aku tidak mau keluar duluan.

Aku buang konsentrasi pikiranku ke tempat lain, dan aku mulai memompa Penisku di Vagina Ibu Trias. Ganti dia yang mengerang kenikmatan.

“ Aaucchh… auch… heh… Bran… aduh… terus Bran… lebih cepet… auch… aduh enak sekali Bran… ”

Lalu pompaanku semakin cepat dan semakin cepat, sementara puting susunya aku sedot sampai ludes,

“ Ach… ach… ach… ” hanya suara itu yang keluar dari mulut Ibu Trias.

“ Aduh… aduh… ach… ach… ”

Ketika itu kaki Ibu Trias menjepit pinggulku, diangkatnya pantatnya, tangannya merangkul leherku dengan keras sekali dan bibirnya melumat bibirku dengan ganas, terasa cairan di lubang Vaginanya semakin deras membasahi Penisku. Ibu Trias kemudian lemas sambil terengah-engah puas,

“ Kamu hebat Bran… ” tangannya tetap merangkul leherku dan bibirnya tetap mencium bibirku.

Sedangkan aku tetap memompa Penisku ke dalam Vaginanya, basah sekali.

“ Saya cabut dulu ya Bu… dikeringkan dulu… ” kataku. Ibu Trias maklum atas permintaanku.

Setelah berada di luar, dibersihkannya Vaginanya dan Penisku dengan kain bersih, sambil tangannya mengocok Penisku agar tetap berdiri tegak. Setelah beberapa saat aku mulai memompanya kembali di dalam Vaginanya dan kembali sedotannya terasa pada Penisku.

“ Aauch… auch… ” dia mengerang lagi.

Lama hal ini kulakukan dan… “ Aduh Bran aku mau keeluaarr… ”

Kelihatan Ibu Trias untuk kedua kalinya mencapai kepuasannya. Terasa sekali jepitannya semakin kencang, membuat aku tidak tahan dan aku pun ikut mencapai kenikmatan.

“ Aaacchh… Bu… Bu… ” Kemudian kami pun lunglai dengan posisi aku tetap di atasnya. Kucium bibirnya.

Setelah kami sama-sama mendapat kenikmatan, aku punya kerja lagi yaitu mengkramasi kembali rambutnya tapi tidak apalah, rambut seorang wanita cantik. Sambil memelukku dan menciumku,

“ Makasih ya Bran… ” , katanya sambil menyelipkan sesuatu ke dalam genggaman telapak tanganku.

“ Saya juga terima kasih, Bu… dan maafin ya Bu kelakuan saya tadi ” , kataku sambil tersenyum.

“ Sampai Rabu depan ya Bran… ”

“ Wah pekerjaan lagi nih… ” batinku dengan senang, kemudian kutinggalkan rumah mewah tersebut dengan perasaan puas sekali.

Sungguh pada harin itu adalah rejeki nomplok bagiku, selain mendapatkan pengalaman baru, aku juga mendapatkan kepuasan dari Bu Trias. Setelah kejadian hari itu akupun sering dipanggil oleh Bu Trias untuk memuaskan nafsunya. Serasa seperti Gigola saja aku.hha. Hubungan kami-pun berjalan selama 4 tahun sebelum pada akhirnya suami Bu Trias mengetahui hubungan kami.

Sejak saat itu kamipun tidak berhungan lagi. Oh iya dan akupun mendapatkan gelar sarjanaku disalah satu Universitas Swasta Dijakarta berkat Biaya Bu trias. Terima kasih Bu Trias, semoga beliau mendapatkan kehidupan bahagia dengan suaminya dan bisa menghargai seberapa bergunanya uang bagi kami kaum yang mempunyai ekonomi rendah. Selesai.

Gara Gara Salah Telepon Jadi Dapat Rejeki SEX

oyam 21

Tema kali ini menceritakan pengalaman Sex dari seorang Remaja bernama Anton. Kisah ini terjadi dari salah sambung ketika Anton Berniat menelefon temanya. Setelah tersambung, ternyata yang menerima telefon adalah wanita Setengah Baya yang telah bersuami. Singkat cerita mereka-pun berjanji untuk bertemu dan berakhir dengan Hubungan Sex Di hotel. Mau tahu kelanjutan ceritanya, Langsung aja yuk baca dan simak baik baik cerita dewasa ini.

Aku akan menceritakan pengalaman Cerita sex nyata dari pengalaman aku sendiri. Tapi sebelum aku mulai bercerita, pertama-tama perkenalkan nama aku dahulu, namaku Anton, umurku sekarang 23 tahun domisili asliku dari salah satu kota di pulau sumatera. Terasa begitu indah dan tak terlupakan, bisa bersetubuh dengan tante Ajeng seorang wanita yang telah bersuami.

Awal kisah ini terjadi pada 1 tahun yang lalu, pada saat itu berawal dari salah sambung ketika aku berniat menelepon teman aku. Setelah telefonnya tersambung ternyata aku tersambung dengan orang lain. Terdengar dari suaranya yang seperti suara ibu-ibu, aku menafsirkan yang mengangkat telepon adalah seorang wanita yang berumur sekitar 32 tahunan.

Karena cara berbicaranya begitu sopan dan berwibawa, ketika itu aku mencoba untuk mencari bahan pembicaraan lain, bertujuan agar telefonnya tidak terputus. Dia-pun meresponku, lalu aku iseng dengan bertanya kepada dia apakah sudah punya pacar atau belum, dan dia menjawab belum punya pacar. Setelah beberapa menit kami berbicara di telepon akhirnya, kami saling menyimpan nomor masing-masing.

Singkat cerita pada esok harinya aku-pun mencoba menelefon dia lagi, obrolan kami kali ini sudah tidak karuan. Oh iya aku hampir lupa memperkenalkan wanita itu, dia bernama Tante Ajeng. Baiklah kembali kecerita lagi. Saking serunya kami mengobrol , tanpa disadari kami-pun mencapai tahap pembicaraan tentang pengalaman pacaran, dan Tante Ajeng tiba-berkata,

“ Sebenarnya aku ini sudah Married, tapi hubunganku saat ini sudah tidak harmonis karena aku bosan dengan suamiku “ , ucapnya dengan lantang,

Hahaha, ternyata kemarin dia berbohong kepadaku, pada akhirnya dia mengakui bahwa dia sudah Married dan telah dikaruniai satu anak. Mendengar pengakuanya aku-pun makin berani, lalu aku mencoba bertanya tentang bagaimana rasanya bulan madu itu. Aku bertanya bukan saya pura-pura polos, namun karena aku sama sekali belum pernah merasakan nikmatnya bersetubuh dengan seorang wanita.

Bahkan untuk sekedar berciuman-pun aku tidak pernah, benar, hhe. Pada saat itu Tante Ajeng berkata kalau bulan madu itu rasanya sungguh nikmat sekali, tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata dan hanya bisa dirasakan. Kemudian aku bertanya kembali,

“ Biasanya Posisi sex apa yang biasa tante lakukan dengan suami Tante ??? ”

Tante Ajeng-pun dengan lantangnya menjawab pertanyaanku dengan berkata,

“ Suamiku untuk memulai awal permainan kami, biasanya sih berawal dari mencium leherku kemudia, menghisap buah dada Nton “,

“ Oh begitu ya Tante… tante paling suka dengan posisi Sex apa ? ”

lalu tante Ajeng menjawab,

“ Aku paling suka dengan posisi Sex Women On Top ” balasnya dengan nada manja,

Masih dipercakapan telepon juga kutanyakan, “ Tante mau nggak ajarin aku begituan … hhe ”

“ Weitsss… Enak aja, sana cari wanita yang masih single, trus Married biar kamu bisa ngerasain enaknya hubungan intim…. Weeek… ” , balasnya dengan nada sedikit genit.

Ternyata tante Ajeng ini jinak-jinak merpati, aku makin menjadi semakin tertantang. lalu kucoba pancing lagi.

“ Gitu aja sewot sih Tante, yaudah deh ngak usah yang begituan, gimana kalau Tante ajarin aku ciuman saja… ” pintaku padanya,

Ternyata tante Ajeng mulai memberi lampu hijau dengan memberi jawaban,

“ Lihat aja belum udah mau cium-cium aja kamu ini. entar kalau udah lihat Tante malah lari kamu nanti ” ucapnya,

Aku menimpa kembali,

“ Siapa juga yang lari, yang lari Tante atau aku ? ” ucapku,

“ Sudah deh nggk usah banyak omong, kita ketemuan aja deh, Waktu dan tempat kamu yang nentuin, Gimana berani nggak ??? ” tantangnya kepadaku,

Lalu dengan cepat aku langsung menjawab, “ Oke deh tante kita ketemuan di restaurant B, sehabis itu makan kita langsung nonton film, Gimana Tante ? ”

“ Oke deh, Tante nurut kamu aja deh Ton ” Jawabnya,

Pada akhirnya percakapan kami berujung dengan keputusan untuk berjanjian untuk ketemu besok jam 15.00 sore. Singkat cerita keesokan harinya setelah saya sampai pada direstoran tepat jam 15.00 sore ada seorang wanita berambut panjang, tinggi badan 164 cm, dengan baju berwarna hitam dan rok berwarna merah seksi, datang menghampiriku.

Pada saat itu fikiranku langsung tidak karuan, dalam hatiku berkata, aku harus bisa mencium dan berhubungan intim denganya. Direstoran itu setelah makan dan minum kami hanya mengobrol sebentari. Lalu kamipun langsung menuju ke bioskop, sesampainya di bioskop kami beli tiket dan kebetulan kami berdua mendapat tempat duduk paling belakang.

Tidak lam film-pun mulai diputar, ditengah diputarnya film itu, tiba-tiba isi didalam celanaku terasa ada yang ganjil, ( ternyata Penisku sudah berdiri dengan kuatnya ) hha… ). Pada saat itu dengan hati seikit deg-degkan aku memberanikan diri untuk memegang tangannya yang begitu halus dan lembut. Setelaha aku pegang ternyata tante Ajeng hanya diam saja. Lalu aku membisikan ke telinganya,

“ Tante bohong padaku ya waktu itu, kata Tante waktu ditelefon, tante bilang sudah nenek-nenek, ternyata tante masih seperti Gadis yang berumur 22 tahuna…hhe… sungguh beruntung sekali ya suami tante ” rayuku,

Belum sempat dia menjawab, lalu aku berbisik lagi,

“ Oh iya tante, mana janji tante, katanya aku boleh cium tante kalau aku nggak lari dari tante ”tagihku,

Tanpa menjawab kemudian Tante Ajeng
melihat sekeliling ruang bioskop itu, “ Jangan disini ah, Tante malu kalau nanti ketahuan sama orang ” jawabnya,

Lalu aku mencoba sedikit merayu lagi,

“ Udah cuekin aja deh Tante orang lainnya, anggep aja kita lagi berduan…hhe …” ucapku,

Rayuanku-pun berhasil, dalam keremangan aku melihat tante Ajeng merapat-rapatkan kedua bibirnya untuk membersihkan lipstiknya. Lalu aku mulai mendekatkan bibir aku pada telinga tante Ajeng. Busyet… wangi sekali, kemudian tanpa ragu lagi aku makin berani mendekatkan bibir aku dipipi tante Ajeng dan seterusnya kulumat bibir tante Ajeng.
Ternyata tante Ajeng terbawa arus dan segera melawan lumatanku dengan penuh gairah. Kemudian tanganku mulai kumainkan di badannya tante Ajeng,dan sampai di buah dadanya.Waduh montok sekali buah dadanya tante Ajeng,setalah itu langsung kuremas dan pelintir puting susunya. Nafas tante Ajeng mulai ngos-ngosan.
Tiba-tiba tanganku disentakkan dan ciuman kami dihentikan,

“ Cukup ton, jangan terlalu jauh, Inget aku sudah Married ” ucapnya,

Tapi aku tidak mau nyerah,dengan penuh trik aku pegang tangannya lalu kubimbing kearah kemaluanku yang sudah besar.( kupikir aku pasti ditampar karena kurang ajar).Ternyata tante Ajeng hanya diam saja terpaku dengan besarnya barangku, lalu aku keluarkan Penisku,dan aku tempelkan pada tangan tante Ajeng,

“ Kamu ini yah, bener-bener Nekad., ” ucapnya terheran kepadaku,

“ Biarin aja sih tante ” ,balasku nakal,

“ Besar dan panjang juga barang kamu ” Bisik tante Ajeng genit,

“ Iya,tante aku sudah tidak tahan lagi. ” balasku mesra,

“ Nanti aja keluarin dikamar mandi ”, goda tante Ajeng,

“ Enggak mau, pinginnya sama tangan tante Ajeng ! ” bisikku manja,

“ Dasar anak nakal kamu ini… Udah nggk tahan lagi ya kamu ??? ” tante Ajeng terus menggodaku,

“ Iya nih tante… ” balasku mantap,

Akhirnya tante Ajeng mau juga mengocok barangku yang sudah besar, Sungguh nikmat sekali kocokanya, ditambah lagi tangan tante Ajeng yang super halus dan penuh pengalaman, dia mengocok barangku dengan lincahnya. Kemudian selang beberapa menit Penisku mulai berdenyut dan,

“ Crot… Crot… Crot…”

Akhirnya, tersembulah sudah air maniku akibat kocokan mesra tangan tante Ajeng.
Ketika film selesai aku dan tante Ajeng keluar dan jalan-jalan.aku membelikan dia baju untuk anaknya,terus jalan-jalan kembali, makan, hingga jam menunjukkan pukul 9 malam.kemudian aku bertanya pada tante Ajeng,
“ Tante Ajeng nggak dimarahin sama om kalau pulang terlambat? ”

“ Tadi sudah bilang ada teman yang ulang tahun, jadi pulang agak lambat… ”

Aku mengantarnya pulang.Didalam perjalanan pulang terlihat plang hotel,pikiranku mulai nggak karuan.bawah saja tante Ajeng kesini. Aku memasukkan mobil ke hotel,

“ Tante Ajeng protes ” ,mau ngapain kesini… .?

“ Kita ngobrol dulu biar kita saling kenal lagi tante, aku janji deh nggak akan nakal tante ” , balasku mesra,

Tante Ajeng pada saat itu hanya terdiam saja. Pada akhirnya ternyata tante Ajeng mau juga, sesampainya didalam, tante Ajeng tampak kaku. Lali aku mencoba menenangkannya,

“ Udah Tante santai saja, jagan terlihat kaku seperti itu ” ucapku,

Tanpa menjawab tante Ajeng membuka sepatunya, keudian aku-pun menghampirinya.

“ wah tante Ajeng badannya lebih pendek dari aku yah, tapi tidak berpengaruh kalau sudah ditempat tidur,hhe… Tante aku pingin cium bibir tante lagi yah ” godaku kepada tante Ajeng,

Kemudian aku menghampirinya ,tante Ajeng diam saja, Kemudian kulumat bibirnya.Dengan setengah paksa kubuka bajunya lalu celana panjangnya sampai tante Ajeng terlihat bugil, tante Ajeng berontak lalu kujepit badannya yang seksi dan montok itu,

“ Ton… jangan Anton… .jangan maksa tante gini dong… ” ucapnya,

Aku tidak peduli dengan ucapanya, dengan cepat aku buka celana aku kemudian dengan sigap kujilati toketnya tante Ajeng, sampai ke lubang VAgina tante Ajeng. Pada saat itu Tante Ajeng merasakan kenikmatan yang luar biasa. Kemudian aku mengocok-ngocok lubangnya sampai tante Ajeng merasakan nikmat untuk yang kedua kalinya, kemudian kami-pun berganti posisi.

Sekarang gilirannya tante Ajeng yang menghisap Penisku. Singkat cerita setalah puas aku dikulum oleh tante Ajeng, kumasukkan Penisku-pun yang besar dan panjang ke lubang Vagina tante Ajeng yang sudah basah itu. Dengan cepat kugerakkan Penisku turun naik. Dengan posisi Penisku masih menancap dilubang vagina tante Ajeng, aku guling-gulingkan badannya sehingga kadang dia diatas kadang dia dibawah.

Pada saat itu kami melakukannya dengan banyak posisi, lama-lama tante Ajeng terangsang juga dan ingin cepat keluar, akhirnya sama-sama kami mencapai orgasme. Aku memasukkan semua air mani aku ke lubangnya. Kemudian dengan cepat aku jilati bibir kemaluan tante Ajeng sampai kemudian tante Ajeng orgasme kembali, setelah itu kami berdua mandi.

Ketika kami mandi, kami-pun melakukan hubungan sex lagi dikamar mandi. Lalu setelah itu tante Ajeng berbisik,

“ Ssss…. Aahhh… Anton kamu lebih hebat dari suami aku, jika tante ingin berhubungan lagi dengan kamu, bolehkah tante Ajeng menghubungi kamu… ohhh… ahhhh… ” ucapnya ditengah persetubuhan kami,

“ Ouh…. Ssss… Ahhhh… boleh… aku siap melayani tante ” Ucapku sembari memompa Penisku dengan kuat,

Tidak lama setelah itu, Penisku-pun mulai berdenyut-denyut lagi, ini bpertanda bahwa aku akan Orgasme lagi. Keudian aku memompa kuat-kuat Penisku kedalam Vagina Tante ajeng,

“ Uhhh… Ahhh…. Ouhhh… Tante aku mau keluar nih… Ahhh…” Ucapku penuh dengan gairah,

“ Ssss… Ahhh… Aku juga mau keluar juga Ton, Ahhh… Kita keluarin sama-sam ya… Uhhh… ahhh… ”

Dan tak lama kemudian,

“ Crott… Crott… Crott… “

Akhirnya kamipun mendaptkan Klimaks secara bersamaan, air maniku membanjiri Vagina Tante Ajeng dan Penisku tertanam dalam basahnya Vagina Tante Ajeng yang klimkas juga. Setelah itu kamipun terkapar sejenak didalam kamar mandi. Karena waktu sudah cukup malam, kamipun bergegas meneruskan mandi kami, lalu merapihkan diri.

Singkat cerita, kamipun keluar dari hotel, dan aku mengantarkan tante Ajeng pulang kerumahnya. Akhirnya impianku terwujud juga, sungguh sangat istimewa service dari tante Ajeng itu. Hubungan kami-pun sampai saat ini masih berlanjut, tante Ajeng sering menghubungiku untuk memuaskan hasrat sex-nya.

Akupun dengan senang hati menjalani hubungan ini, karena memang aku suka sekali, dan lagian suami tante Ajeng tidak dapat memuaskan hasrat sexnya yang begitu liar. Entah sampai kapan hubungan ini akan berakhir, hanya waktu yang dapat menjawabnya. Selesai.

Sex Lesbi Dengan Ibu Kos

oyam 16

Tema kali ini menceritakan pengalaman sexs pribadi dari mahasiswi yang mempunyai kepribadin sex lesbi antara ibu kos, dan teman kosnya. Langsung aja yuk baca dan simak baik baik cerita dewasa ini.Sebelum memulai ceritaku perkenalkan Aku adalah seorang mahasiswi disebuah universitas swasta di kota “ B ”, sebut saja namaku Sevi. Awal mula aku mengalami hubuunganku dengan seorang wanita yang mengubah orientasi seksualku menjadi seorang biseksual. Aku melakukan percintaan sesama jenis ketika usiaku 21 tahun dengan seorang wanita berusia 45 tahun, entah mengapa semuanya terjadi begitu saja terjadi mungkin ada dorongan libidoku yang ikut menunjang semua itu dan semua ini telah kuceritakan dalam situs ini.

Awal mula aku melakukan hubungan sexs sesama jenis yitu dengan ibu kosku, dia bernama Tante Asih, suaminya seorang pedagang yang sering keluar kota. Dan akibat dari pengalaman bercinta dengannya aku mendapat pelayanan istimewa dari Ibu Kosku. tetapi aku tak ingin menjadi lesbian sejati, sehingga aku sering menolak bila diajak bercinta dengannya, walaupun Tante Asih sering merayuku tetapi aku dapat menolaknya dengan cara yang halus, dengan alasan ada laporan yang harus kukumpulkan besok, atau ada test esok hari sehingga aku harus konsentrasi belajar, semula aku ada niat untuk pindah kos tetapi Tante Maria memohon agar aku tidak pindah kos dengan syarat aku tidak diganggu lagi olehnya, dan ia pun setuju. Sehingga walaupun aku pernah bercinta dengannya seperti seorang suami istri tetapi aku tak ingin jatuh cinta kepadanya, kadang aku kasihan kepadanya bila ia sangat memerlukanku tetapi aku harus seolah tidak memperdulikannya. Kadang aku heran juga dengan sikapnya ketika suaminya pulang kerumah mereka seakan tidak akur, sehingga mereka berada pada kamar yang terpisah.

Pada suatu hari ketika aku pulang malam hari setelah menonton bioskop dengan teman priaku, waktu itu jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam, karena aku mempunyai kunci sendiri maka aku membuka pintu depan, suasana amat sepi lampu depan sudah padam, kulihat lampu menyala dari balik pintu kamar kos pramugari itu,

“ Rupanya dia sudah datang ,” gumamku, aku langsung menuju kamarku yang letaknya bersebelahan dengan kamar pramugari itu. aku bersihkan wajahku dan berganti pakaian dengan baju piyamaku, lalu aku menuju ke pembaringan, tiba-tiba terdengar rintihan-rintihan yang aneh dari kamar sebelah. Aku jadi penasaran karena suara itu sempat membuatku takut, kucoba memberanikan diri untuk mengintip kamar sebelah karena kebetulan ada celah udara antara kamarku dengan kamar pramugari itu, walaupun ditutup triplek aku mencoba untuk melobanginya, kuambil meja agar aku dapat menjangkau lubang udara yang tertutup triplek itu.

Kemudian pelan-pelan kutusukan gunting tajam agar triplek itu berlobang, betapa terkejutnya aku ketika kulihat pemandangan di kamar sebelahku. Aku melihat Tante Asih menindih seorang wanita yang kelihatan lebih tinggi, berkulit putih, dan berambut panjang, mereka berdua dalam keadaan bugil, lampu kamarnya tidak dipadamkan sehingga aku dapat melihat jelas Tante Asih sedang berciuman bibir dengan wanita itu yang mungkin pramugari itu. Ketika Tante Asih menciumi lehernya, aku dapat melihat wajah pramugari itu, dan ia sangat cantik wajahnya bersih dan mempunyai ciri khas seorang keturunan ningrat. Ternyata pramugari itu juga terkena rayuan Tante Asih, Dia memang sangat mahir membuat wanita takluk kepadanya, dengan sangat hati-hati Tante Asih menjilati leher dan turun terus ke bawah. Bibir pramugari itu menganga dan mengeluarkan desahan-desahan birahi yang khas, wajahnya memerah dan matanya tertutup sayu menikmati kebuasan Tante Asih menikmati tubuhnya itu. Tanganya mulai memilih puting payudara pramugari itu, sementara bibirnya menggigit kecil puting payudara sebelahnya. Tiba-tiba Jantungku berdetak sangat kencang sekali menikmati adegan itu, belum pernah aku melihat adegan lesbianisme secara langsung, walaupun aku pernah merasakannya. Dan ini membuat libidiku naik tinggi sekali, aku tak tahan berdiri lama, kakiku gemetaran, lalu aku turun dari meja tempat aku berpijak, walau aku masih ingin menyaksikan adegan mereka berdua.

Jantungkupun berdebar tidak karuan. Entah mengapa aku juga ingin mengalami seperti yang mereka lakukan. Lalu jariku kuarahkan keliang vaginaku, dan kuraba klitorisku, seiring erangan-erangan dari kamar sebelah aku bermasturbasi sendiri. Tangan kananku menjentik-jentikan klitorisku dan tangan kiriku memilin-milin payudaraku sendiri, kubayangkan Tante Maria mencumbuiku dan aku membayangkan juga wajah cantik pramugari itu menciumiku, dan tak terasa cairan membasahi tanganku, walaupun aku belum orgasme tapi tiba-tiba semua gelap dan ketika kubuka mataku, matahari pagi sudah bersinar sangat terang.

Kemudian akupun mandi membersihkan diriku, karena tadi malam aku tidak sempat membersihkan diriku. Aku keluar kamar dan kulihat mereka berdua sedang bercanda di sofa. Ketika aku datang mereka berdua diam seolah kaget dengan kehadiranku. Tante Asih memperkenalkan pramugari itu kepadaku,

“ Sevi sini!!! Kenalin ini pramugari yang tinggal disebelah kamarmu.”

Kusodorknlh tanganku kepadanya untuk berjabat tangan.
“ Hey, cantik namaku kenalin namaku Deris, aku sudah tahu namamu dari Ibu Kos, semoga kita dapat menjadi teman yang baik ya.” Ujarnya padaku.

Kulihat sinar matanya sangat agresif kepadaku, wajahnya memang sangat cantik, membuatku terpesona sekaligus iri kepadanya, ia memang sempurna. Aku menjawab dengan antusias juga,

“ Hey juga kak, kamu juga cantik sekali, baru pulang tadi malam ya.” Jawabku.

Diapun mengangguk kepala saja, aku tak tahu apa lagi yang diceritakan Tante Anis kepadanya tentang diriku, tapi aku tak peduli kami beranjak ke meja makan. Di meja makan sudah tersedia semua masakan yang dihidangkan oleh Tante Anis, kami bertiga makan bersama. Kurasakan ia sering melirikku walaupun aku juga sesekali meliriknya, entah mengapa dadaku bergetar ketika tatapanku beradu dengan tatapannya.
Tiba-tiba Tante Anis memecahkan kesunyian,

“ Hari ini Tante harus menjenguk saudara Tante yang sakit, kalau ada telepon untuk Tante atau dari suami Tante, tolong katakan Tante ke rumah Tante Rosa ya.” Pesan tante anis kepada kami.

Kami berdua mengangguk tanda mengerti, dan selang beberapa menit kemudian Tante Anis pergi menuju rumah saudaranya. Dan tinggallah aku dan Vera sang pramugari itu, untuk memulai pembicaraan aku mengajukan pertanyaan kepadanya,

“ Kak Deris udah lama ya kos di tempat tante Anis.” Tanyaku pada Kak Deris.

“ Belum terlalu lama juga kog sev, baru setahun, tapi aku sering bepergian, asalku sendiri dari kota “Y”, aku kos disini hanya untuk beristirahat bila perusahaan mengharuskan aku untuk menunggu shift disini.” Jawb kak Deris padaku.

Aku mengamati gaya bicaranya yang lemah lembut menunjukan ciri khas daerahnya, tubuhnya tinggi semampai. Dari percakapan kami, kutahu ia baru berumur 25 tahun. Tiba-tiba dia menanyakan hubunganku dengan Tante Anis. Aku sempat kaget tetapi kucoba menenangkan diriku bahwa Tante Anis sangat baik kepadaku. Tetapi rasa kagetku tidak berhenti disitu saja, karena Pramugari itu mengakui hubungannya dengan Tante Anis sudah merupakan hubungan percintaan.Aku pura-pura kaget,

“ Hahhh… Bagaimana mungkin kakak bercinta dengannya, apakah kakak seorang lesbian,” ktaku dengan berpura-pura polos.

“ Hufttttttttttt…. entahlah Sev, Selama ini aku tak pernah berhasil menjalani hubungan dengan beberapa pria, aku sering dikhianati pria, aku berusaha kuat, dan ketika kos disini aku dapat merasakan kenyamanan dengan Tante Anis, walaupun Tante Anis bukan yang pertama bagiku, karena aku pertama kali bercinta dengan wanita yaitu dengan seniorku.” Jawabny padaku.

kjKini aku baru mengerti rahasianya, tetapi mengapa ia mau membocorkan rahasianya kepadaku aku masih belum mengerti, sehingga aku mencoba bertanya kepadanya,

“ Kog kak Deris membocorkan rahasia kakak kepadaku.” Tanyaku padanya.

“ Aku membocorkn rahasiku kepadamu, karena aku mempercayaimu, aku ingin kamu lebih dari seorang sahabat denganku.” Ujarny padaku.

Aku sedikit kaget walaupun aku tahu isyarat itu, aku tahu ia ingin tidur denganku, tetapi dengan Vera sangat berbeda karena aku juga ingin tidur dengannya. Aku tertunduk dan berpikir untuk menjawabnya, tetapi tiba-tiba tangan kanannya sudah menyentuh daguku. Dia tersenyum sangat manis sekali, aku membalas senyumannya. Lalu bibirnya mendekat ke bibirku dan aku menunggu saat bibirnya menyentuhku, begitu bibirnya menyentuh bibirku aku rasakan hangat dan basah, aku membalasnya. Lidahnya menyapu bibirku yang sedkit kering, sementara bibirku juga merasakan hangatnya bibirnya. Lidahnya memasuki rongga mulutku dan kami seperti saling memakan satu sama lain. Sementara aku fokus kepada pagutan bibirku, kurasakan tangannya membuka paksabaju kaosku, bahkan ia merobek baju kaosku. Walau terkejut tapi kubiarkan ia melakukan semuanya, dan aku membalasnya kubuka baju dasternya. Ciuman bibir kami tertahan sebentar karena dasternya yang kubuka harus dibuka melewati wajahnya.

Kulihat Bra hitam yang menopang payudaranya yang lumayan besar, hampir seukuran denganku tetapi payudaranya lebih besar. Ketika ia mendongakkan kepalanya tanpa menunggu, aku cium leher jenjangnya yang sexy, sementara tanggannya melepas bra-ku seraya meremas-remas payudaraku. Aku sangat bernafsu saat itu aku ingin juga merasakan kedua puting payudaranya. Kulucuti Bra hitamnya dan tersembul putingnya merah muda tampak menegang, dengan cepat kukulum putingnya yang segar itu. Kudengar ia melenguh kencang seperti seekor sapi, tapi lenguhan itu sangat indah kudengar. Kunikmati lekuk-lekuk tubuhnya, baru kurasakan saat ini seperti seorang pria, dan aku mulai tak dapat menahan diriku lalu kurebahkan Kak Deris di sofa itu. Kujilati semua bagian tubuhnya, kulepas celana dalamnya dan lidahku mulai memainkan perannya seperti yang diajarkan Tante Anis kepadaku. Entah karena nafsuku yang menggebu sehingga aku tidak jijik untuk menjilati semua bagian analnya. Sementara tubuhnya menegang dan Deris menjambak rambutku, dia seperti menahan kekuatan dasyat yang melingkupinya.

Ketika aku sedang asyik Menjelajahi tubuh Kak Deris, tiba-tiba pintu depan berderit terbuka. Spontan kami berdua mengalihkan pandangan ke kamar tamu, tiba-tiba Tante Anispun sudah berdiri di depan pintu. Aku agak kaget tetapi matanya terbelalak melihat kami berdua berbugil. Dijatuhkannya barang bawaannya dan tanpa basa-basi ia membuka semua baju yang dikenakannya, lalu menghampiri Deris yang terbaring disofa. Diciuminya bibirnya, lalu dijilatinya leher Deris secara membabi buta, dan tanggannya yang satu mencoba meraihku. Aku tahu maksud Tante Anis, kudekatkan wajahku kepadanya, tiba-tiba wajahnya beralih ke wajahku dan bibirnya menciumi bibirku. aku membalasnya, dan Kak Deris mencoba berdiri kurasakan payudaraku dikulum oleh lidah Kak Deris. Aku benar-benar merasakan sensasi yang luar biasa kami bercinta bertiga. Untung waktu itu hujan mulai datang sehingga lingkungan mulai berubah menjadi dingin, dan keadaan mulai temaram. Kak Derispun kini melampiaskan nafsunya menjarah dan menikmati tubuhku, sementara aku berciuman dengan Tante Anis. Kak Deris mulai menghisap klitorisku, aku tak tahu perasaan apa pada saat itu. Setelah mulut Tante Anis meluncur ke leherku aku berteriak keras seakan tak peduli ada yang mendengar suaraku. Aku sangat tergetar secara jiwa dan raga oleh kenikmatan sensasi saat itu.

Tibalah giliranku yang dibaringkan di sofa, dan Kak Deris masih mengoral klitorisku, sementara Tante Anis memutar-mutarkan lidahnya di payudaraku. Akupun menjilati payudara Tante Anis yang sedikit kusut di makan usia, kurasakan lidah-lidah mereka mulai menuruni tubuhku. Lidah Kak Deris menjelejah pahaku dan lidah Tante Anis mulai menjelajah bagian sensitifku. Dibukalah Pahaku lebar oleh Kak Deris, sementara Tante Anis mengulangi apa yang telah dilakukan Kak Deris tadi, dan kini Kak Deris berdiri dan kulihat ia menikmati tubuh Tante Anis. Dijilatinya punggung Tante Anis yang menindihku dengan posisi 69, dan Kak Deris menelusuri tubuh Tante Maria. Tetapi kemudian ia menatapku dan dalam keadaan setengah terbuai oleh kenikmatan lidah Tante Anis. Kak Deris menciumi bibirku dan aku membalasnya juga, hingga tak terasa kami berjatuhan dilantai yang dingin. Aku sangat lelah sekali dikeroyok oleh mereka berdua, sehingga aku mulai pasif. Tetapi mereka masih sangat agresif sekali, seperti tidak kehabisan akal Kak Deris mengangkatku dan mendudukan tubuhku di kedua pahanya, aku hanya pasrah. Sementara dari belakang Tante Anis menciumi leherku yang berkeringat, dan Kak Deris dalam posisi berhadapan denganku, ia menikmatiku, menjilati leherku, dan mengulum payudaraku. Sementara tangan mereka berdua menggerayangi seluruh tubuhku, sedangkan tanganku kulingkarkan kebelakang untuk menjangkau rambut Tante Anis yang menciumi tengkuk dan seluruh punggungku.

Entah berapa banyak rintihan dan erangan yang keluar dari mulutku, tetapi seakan mereka makin buas melahap diriku. Akhirnya aku menyerah kalah aku tak kuat lagi menahan segalanya aku jatuh tertidur, tetapi sebelum aku jatuh tertidur kudengar lirih mereka masih saling menghamburkan gairahnya. Saat aku terbangun adalah ketika kudengar dentang bel jam berbunyi dua kali, ternyata sudah jam dua malam hari. Masih kurasakan dinginnya lantai dan hangatnya kedua tubuh wanita yang tertidur disampingku. Aku mencoba untuk duduk, kulihat sekelilingku sangat gelap karena tidak ada yang menyalakan lampu, dan kucoba berdiri untuk menyalakan semua lampu. Kulihat baju berserakan dimana-mana, dan tubuh telanjang dua wanita masih terbuai lemas dan tak berdaya. Kuambilkan selimut untuk mereka berdua dan aku sendiri melanjutkan tidurku di lantai bersama mereka. Kulihat wajah cantik Kak Deris, dan wajah anggun Tante Anis, dan aku peluk mereka berdua hingga sinar matahari datang menyelinap di kamar itu.

Datanglah Pagi hari dan aku harus kembali pergi kuliah, tetapi ketika mandi seseorang mengetuk pintu kamar mandi dan ketika kubuka ternyata Kak Deris dan Tante Anis. Mereka masuk dan di dalam kamar mandi kami melakukan lagi pesta seks ala lesbi. Kini Kak Deris yang dijadikan pusat eksplotasi, seperti biasanya Tante Anis menggarap dari belakang dan aku menggarap Kak Deris dari depan. Semua dilakukan dalam posisi berdiri. Tubuh Vera yang tinggi semampai membuat aku tak lama-lama untuk berciuman dengannya aku lebih memfokuskan untuk melahap buah dadanya yang besar itu. Sementara tangan Tante Anis membelai-belai daerah sensitif Kak Deris. Dan tanganku menikmati lekuk tubuh Kak Deris yang memang sangat aduhai. Percintaan kami dikamar mandi dilanjutkan di ranjang suami Tante Anis yang memang berukuran besar, sehingga kami bertiga bebas untuk berguling, dan melakukan semua kepuasan yang ingin kami rengkuh. Hingga pada hari itu aku benar-benar membolos masuk kuliah.
Hari demi haripun berlalu dan kami bertiga melakukan secara berganti-ganti. Ketika Kak Deris belum bertugas aku lebih banyak bercinta dengan Kak Deris, tetapi setelah seminggu Kak Deris kembali bertugas ada ketakutan kehilangan akan dia. Mungkin aku sudah jatuh cinta dengan nya, dan dia pun merasa begitu. Malam sebelum Kak Deris bertugas aku dan Dia menyewa kamar hotel berbintang dan kami melampiaskan perasaan kami dan benar-benar tanpa nafsu. Aku dan Dia telah menjadi kekasih sesama jenis. Malam itu seperti malam pertama bagiku dan bagi Kak Deris, tanpa ada gangguan dari Tante Maria. Kami bercinta seperti perkelahian macan yang lapar akan kasih sayang, dan setelah malam itu Dia bertugas di perusahaan maskapai penerbangannya ke bangkok.
Aku tidk tahu mengapa kepergiannya ke bandara sempat membuatku menitikan air mata, dan mungkin aku telah menjadi lesbian. Karena Kak Deris membuat hatiku dipenuhi kerinduan akan dirinya, dan aku masih menunggu Kak Deris di kos Tante Anis. Walaupun aku selalu menolak untuk bercinta dengan Tante Anis, tetapi saat pembayaran kos, Tante Anis tak mau dibayar dengan uang tetapi dengan kehangatan tubuhku di ranjang. Sehingga setiap satu bulan sekali aku melayaninya dengan senang hati walaupun kini aku mulai melirik wanita lainnya, dan untuk pengalamanku selanjutnya kuceritakan dalam kesempatan yang lain.

Demikian kisah sex seorang mahasiswi yang mempunyai kepribadin sex lesbi antara ibu kos, dan teman kosnya.

Nikmatnya Seorang Janda Keturunan Arab

Cerita sex Janda

Tema kali ini menceritakan pengalaman Sex dari seorang Pria bernama Ricky. Ricky yang saat itu menginap Dihotel didaerah indonesia bagian timur karena sebuah pekerjaan, disana dia mendapatkan kenalan seorang Jantung (janda gantung) keturunan arab yang bernama Grace. Perkenalan singkat itu pada akhirnya membawa dan Ricky dan Grace pada suatu bubungan sex yang sangat liar penuh gairah. Mau tahu kelanjutan ceritanya, Langsung aja yuk baca.

Setelah sekian lama saya menginginkan untuk bisa berwisata sex, pada akhirnya saya mendapatkan keinginan itu. Saat itu saya mendapatkan tugas dari kantor, hal itu aku anggap sabagai liburan, walau ujung-ujungnya harus bekerja juga sih. Saat itu saya mendapatkan dinas luar di Indonesia bagian timur. Karena disana masih banyak peluang proyek yang bisa saya kerjakan.

Sampai pada hari itu, saya-pun berangkat dengan seorang Direktur Utama sebuah perusahaan besar di indonesia. Singkat cerita saat itu sampailah saya di lokasi proyek, disana saya bertemu beberapa orang penting yang berwenang dan saya mulai menjelaskan tujuan kedatangan kami. Setelah urusan kami selesai maka Direktur utama tersebut pulang terlebih dahulu karena masih ada urusan lain di Ibu kota.

Kini saya sendiri untuk mengurus semua segala perijinan untuk proyek yang akan saya kerjakan. Disana saya tinggal di sebuah Hotel melati yang tidak terlalu besar, tapi bersih dan nyaman untuk ditinggali. Letak hotel itu berada di pinggiran kota, suasana disekitar hotel itu nampak sepi, namun aman. Walaupun berada di pi nggiran kota, untuk sarana transportasi sangatlah mudah jika saya ingin kemana-mana.

Kamar saya saat itu terletak pada lantai dua yang kebetulan kamar saya menghadap ke arah laut. Hal itu menambah saya terasa nyaman dan relax. Selama disana setelah saya pergi mengurus segala perijinan dari satu instansi ke instansi yang lainnya, saya sering melepas lelah dengan cara duduk di balkon sembari melihat kearah laut. Para pekerja di hotel itu sangat ramah dan akrab pada setiap tamu hotel.

Hal ini bisa terjadi karena mungkin jumlah kamar di hotel itu tidak terlalu banyak, kamarnya berjumlah kira-kira sekitar 30 kamar. Saya tipe orang yang mudah akrab dengan orang lain, buktinya selama saya menginap dihotel itu saya sering mengobrol dengan tamu lain atau ekerja di hotel itu. Terkadang dengan nada bicara bercanda, saya sering diberi tawaran untuk berwisata sex.

Mulai dari satpam hingga pegawai hotel bertanya pada saya,karena hampir 2 minggu saya tidak pernah membawa teman kencan seperti tamu-tamu lainya. Saat itu saya hanya tersenyum saja, saya seperti itu bukannya saya tidak mau, tetapi waktu yang belum ada untuk berbuat seperti itu, maklum pikiranku masih fokus dengan pekerjaan.
Sungguh tidak terasa sudah 2 minggu saya menginap di hotel itu.

Sampai pada akhirnya karena segala perijinan yang diperlukan sudah terselesaikan, maka kini saya sudah bisa sedikit bernafas lega dan saya-pun mulai mencari hiburan. Semalam saya dapat merasakan kehangatan tubuh wanita penjual tubuh asal kota itu, saya mendapatkannya wanita itu dari satpam hotel. Sebenarnya wanita semalam itu cantik dan putih, sayang sekali permainan sex-nya tidak terlalu istimewa.

Semalam saat bermain sex dengan wanita penjual diri itu becek sekali Vagina-nya, ditambah lagi Vagina-nya sudah tidak kencang lagi. Tetapi lumayanlah buat mengurangi rasa stres. Sampai tiba saatnya, 2 hari lagi saya akan pulang ke Ibu Kota. Transportasi di daerah ini memang agak sulit. Untuk ke Jakarta saya harus ke ibukota propinsi dulu baru ganti pesawat ke Jakarta.

Celakanya dari kota ini ke ibukota propinsi dalam 1 minggu hanya ada 4 penerbangan dengan twin otter yang kapasitasnya hanya 17 seat. Belum lagi cadangan khusus buat pejabat Pemda yang tiba-tiba harus berangkat. Saya yang sudah booking seat sejak seminggu yang lalu, ternyata masih masuk di cadangan nomor 5. Alternatifnya adalah dengan menaiki kapal laut milik Pelni yang makan waktu seharian untuk sampai ibukota propinsi.

Rencansaya kalau tidak dapat seat pesawat terpaksa naik kapal laut. Sore itu saya ngobrol dengan satpam, yang membantu mencarikan perempuan, sambil duduk-duduk di cafe hotel. Kami membicarakan gadis Manado yang kutiduri tadi malam. Kubilang saya kurang puas dengan permainannya. Tiba-tiba saja pandanganku tertuju pada wanita yang baru masuk ke cafe.

Wanita itu kelihatan bertubuh tinggi, mungkin 169 cm, tubuhnya sintal dan dadanya membusung. Wajahnya kelihatan bukan wajah Melayu, tapi lebih mirip ke wajah Timur Tengah. Satpam itu mengedipkan matanya ke arahku,

” Bapak berminat ? Kalau ini dijamin oke, Arab punya,” ucapnya.

Wanita tadi merasa kalau sedang dibicarakan. Dia menatap ke arah kami dan mencibir ke arah satpam di sampingku,

“ Grace, sini dulu. Kenalan sama Bapak ini,” kata satpam itu.

“ Saya mau ke karaoke dulu,” balas wanita tadi.

Ternyata namanya Grace. Grace berjalan kearah meja karaoke dan mulai memesan lagu. Ruangan karaoke tidak terpisah secara khusus, jadi kalau yang menyanyi suaranya bagus lumayan buat hiburan sambil makan. Tapi kalau pas suara penyanyinya berantakan, maka selera makan bisa berantakan. Untuk karaoke tidak dikenakan biaya, hanya merupakan service cafe untuk tamu yang makan disana.

“ Dekatin aja Pak, temani dia nyanyi sambil kenalan. Siapa tahu cocok dan jadi,” kata satpam tadi kepada saya.
Saya berjalan dan duduk didekat Grace. Kuulurkan tanganku,

“ Boleh berkenalan Mbak? Perkenalkan Nama saya Ricky”, ucap saya.

“ Grace namaku,” jawabnya singkat dan kembali meneruskan lagunya.

Suaranya tidak bagus cuma lumayan saja, Cukup memenuhi standard kalau ada pertunjukan di kampung. Beberapa lagu telah dinyanyikan. dari lagu dan logat yang dinyanyikan wanita ini agaknya tinggal di Manado atau Sulawesi Utara. Dia mengambil gelas minumannya dan menyerahkan mike ke tamu cafe di dekatnya,

“ Sendirian saja nona atau …,” ucap saya mengawali pembicaraan.

“ Panggil saja nama saya Grace,” ucapnya.

Lalu kami mulai terlibat pembicaraan yang cukup akrab. Grace berasal dari Gorontalo. Dia memang berdarah Arab, menurutnya banyak keturunan Arab di Gorontalo. Kuamati lebih teliti wanita di sampingku ini. Hidungnya mancung khas Timur Tengah, kulitnya putih, rambutnya hitam tebal, bentuk tubuhnya sintal dan kencang dengan Buah dada-nya terlihat dari samping membusung padat.

Kemudian saya tawarkan untuk mengobrol di kamar saya saja. Lebih dingin, karena ber-AC, dan lebih rileks serta privacy terjaga. Saat itu dia menurut saja, lalu kami masuk ke dalam kamar. Satpam tadi kulihat mengangkat kedua jempolnya kearahku. Di dalam kamar, kami duduk berdampingan di karpet dengan menyandar ke ranjang sambil nonton TV.

Grace masuk ke kamar mandi dan sebentar kemudian sudah keluar lagi. Kami melanjutkan obrolan. Ternyata Grace seorang jantung (janda gantung) suaminya yang seorang pengusaha keturunan Arab juga, sudah 1 tahun suaminya menggantungkan hubungan mereka namun tidak diceraikan. Saat itu dia sedang mencoba membuka usaha kerajinan rotan dari Sulawesi yang dipasarkan disini.

Di kota ini dia tinggal bersama keluarganya. Saat itu dia bermain ke hotel, karena dulu juga pernah tinggal di hotel ini seminggu dan akrab dengan chef wanita yang bekerja di cafe. Dari tadi siang Chef tersebut sedang keluar, berbelanja kebutuhan cafe.
Mulailah aku melingkarkan tangan kiriku ke bahu kirinya. Saat itu dia sedikit menggerinjal namun tidak ada tanda-tanda penolakan.

Karena melihat responya yang seperti itu, saya saat itu semakin berani dan mulai meremas bahunya dan perlahan-lahan tangan kiriku menuju kedadanya. Sebelum tangan kiriku sampai di dadanya, ia menatapku dan bertanya,

“ Mau apa kamu, Ricky ?” Sebuah pertanyaan yang tidak perlu dijawab.

Kupegang dagunya dengan tangan kananku dan kudekatkan mukanya ke muksaya. Perlahan kucium bibirnya. Ia diam saja. Kucium lagi namun ia belum juga membalas cumbuan saya,

“ Ayolah Grace, 1 tahun tentulah waktu yang cukup panjang bagimu. Selama ini tentulah kamu merindukan kehangatan dekapan seorang laki-laki,” ucap saya mulai merayunya.

Kuhembuskan napasku ke dekat telinganya. Bibirku mulai menyapu leher dan belakang telinganya,

“ Ssss… Aghhhhh… tidak… Jangan Rick… ” ucapnya lirih.

“ Ayolah Grace, mungkin Penisku tidak sebesar punya suamimu itu, namun saya bisa membantu menuntaskan gairahmu yang terpendam”, ucapku merayunya.

Pada akhirnya Grace-pun menyerah, pandangan matanya mulai sayu, lalu saya mulai mencium lagi bibirnya, kali ini mulai ada perlawanan balasan dari bibirnya. tanganku segera meremas dadanya yang besar, namun sudah sedikit turun. Dia mendesah dan membalas cumbuan saya dengan berapi-api. Tangannya meremas Penis saya yang masih terbungkus celana.

Kududukan dia ditepi ranjang. Saya berdiri didepannya. tangannya mulai membuka ikatan pinggang dan ritsluiting celana saya, kemudian menyusup ke balik celana dalamku. Dikeluarkannya Penis saya yang mulai menegang. Dibukanya celana saya seluruhnya hingga bagian bawah tubuh saya sudah dalam keadaan polos. Mulutnya kemudian menciumi Penis saya.

Saat itu sementara tangannya memegang pinggangku dan mengusap buah zakar saya, lama kelamaan ciumannya berubah menjadi jilatan dan isapan kuat pada Penis saya. Kini ia mengocok Penis sayadengan mengulum Penis sayadan menggerakan mulutnya maju mundur. Desiran kenikmatan segera saja menjalari seluruh tubuh saya. Tangannya menyusup ke bajuku dan memainkan putingku.

Lalu saya-pun mulai membuka kancing bajuku agar tangannya mudah beraksi di dada saya. Kuremas rambutnya dan pantatkupun bergerak maju mundur menyesuaikan dengan gerakan mulutnya. Saya tak mau menumpahkan air mani dalam posisi ini. Kuangkat tubuhnya dan kini dia dalam posisi berdiri sementara saya duduk di tepi ranjang. Tanpa kesulitan segera saja kubuka celana panjang dan CD-nya.

Bulu Vagina-nya agak jarang dan berwarna kemerahan, Vagina-nya terlihat sangat menonjol di sela pahanya, seperti sampan yang dibalikkan. Ia membuka kausnya sehingga sekarang tinggal memakai bra berwarna biru. Kujilati tubuhnya mulai dari lutut, paha sampai ke lipatan pahanya. Sesekali kusapukan bibirku di bibir Vagina-nya.

Lubang Vagina-nya terasa sempit ketika lidahku mulai masuk ke dalam Vagina-nya. Ia merintih, kepalanya mendongak, tangannya yang sebelah menekan kepala saya sementara tangan satunya meremas rambutnya sendiri. Kumasukan jari tengahku ke dalam lubang Vagina-nya, sementara lidahku menyerang Clitoris-nya. Saat itu dia melenguh perlahan dan kedua tangannya meremas Buah dada-nya sendiri.

Tubuhnya melengkung ke belakang menahan kenikmatan yang kuberikan. Ia merapatkan selangkangannya pada kepaka saya. Kulepaskan bajuku dan kulempar begitu saja ke lantai. Akhirnya ia mendorongku sehingga saya terlentang di ranjang dengan kaki masih menjuntai di lantai. Ia berjongkok dan,

“ Slurpppp….”

Dia Kembali menjilat dan mencium Penis saya beberapa saat, lalu Dia mulai naik keatas ranjang dan duduk diatas dada saya menghadapkan Vagina-nya di mulutku. Tangannya menarik kepala saya meminta saya agar menjilat Vagina-nya dalam posisi demikian.

Kuangkat kepala saya dan segera lidahku menyeruak masuk ke dalam liang Vagina-nya. Tanganku memegang erat pinggulnya untuk membantu menahan kepala saya. Ia menggerakan pantatnya memutar dan maju mundur untuk mengimbangi serangan lidahku. Gerakannya semakin liar ketika lidahku dengan menjilat dan menekan Clitoris-nya.

Saat itu Grace melengkungkan tubuhnya sehingga bagian Vagina-nya semakin menonjol. tangannya kebelakang diletakan di paha saya untuk menahan berat tubuhnya. Dia mulai bergerak kesamping dan menarikku sehingga saya menindihnya. Kubuka bra-nya dan segera kuterkam gundukan gunung kembar di dadanya. Putingnya yang keras kukulum dan kujilati.
Terkadang kumisku kugesekan pada ujung putingnya. Mendapat serangan demikian ia merintih,

“ Oughhhh… Ughhhh… Ricky, ayo kita lakukan permainan sex ini, cepetan kontol kamu masukin sekarang… Oughhh… ” ucap diiringi dengan desahanya.

Lalu tangan Grace mulai menggenggam erat Penis saya dan mengarahkan ke lubang Vagina-nya. Beberapa kali kucoba untuk memasukannya tetapi sangat sulit. Sebenarnya sejak kujilati sedari tadi kurasakan Vagina-nya sudah basah oleh lendirnya dan ludahku, namun kini ketika saya mencoba untuk melakukan penetrasi kurasakan sulit sekali.

Penis saya sudah mulai mengendor lagi karena sudah beberapa kali belum juga menembus Vagina-nya. Saya ingat ada kondom di laci meja, masih tersisa 1 setelah 2 lagi saya pakai tadi malam, barangkali dengan memanfaatkan permukaan kondom yang licin lebih mudah melakukan penetrasi. Namun saat itu saya ragu untuk mengambilnya.

Karena pada saat itu Grace kelihatan sudah di puncak nafsunya dan dia tidak memberikan sinyal untuk memakai kondom. Kukocokkan Penis saya sebentar untuk mengencangkannya. Kubuka pahanya selebar-lebarnya. Kuarahkan Penis saya kembali ke liang Vagina Grace, lalu…

“ Rick… Ssss… cepat masukkan kontol kamu Rick.. Aghhhh… ,” desahnya.

Saat itu kepala Penis saya sudah melewati bibir Vagina-nya. Kudorong sangat pelan. Vagina-nya sangat sempit. Entah apa yang menyebabkannya, padahal dia sudah punya anak dan menurut ceritanya Penis suaminya satu setengah kali lebih besar dari Penis saya. Saat itu saya berpikir bagaimana caranya agar Penis suaminya bisa menembus Vagina-nya.

Mulailah Penis saya kumaju mundurkan dengan perlahan untuk membuka jalan nikmat ini. Beberapa kali kemudian Penis saya seluruhnya sudah menembus liang Vagina-nya. Saya merasa dengan kondisi Vagina-nya yang sangat sempit maka dalam ronde pertama ini saya akan kalah kalau saya mengambil posisi di atas. Mungkin kalau ronde kedua saya dapat bertahan lebih lama.

Akan kuambil cara lain agar saya tidak jebol duluan. Kugulingkan tubuhnya dan kubiarkan dia menindihku. Grace bergerak naik turun menimba kenikmatannya. Saya mengimbanginya tanpa mengencangkan ototku, hanya sesekali kuberikan kontraksi sekedar bertahan saja supaya Penis saya tidak mengecil. Grace merebahkan tubuhnya, merapat didada saya.

Kukulum Buah dada-nya dengan keras dan kumainkan putingnya dengan lidahku. Ia mendengus-dengus dan bergerak liar untuk merasakan kenikmatan. Gerakannya menjadi kombinasi naik turun, berputar dan maju mundur. Luar biasa Vagina wanita Arab ini, dalam kondisi saya dibawahpun saya harus berjuang keras agar tidak kalah. Untuk mempertahankan diri kubuat agar pikiranku menjadi rileks dan tidak berfokus pada permainan ini.

Kira-kira saat itu sudah 10 menit berlalu sejak penetrasi. Nampaknya Grace sudah ingin mengakhiri babak pertama ini. Karena saat itu dia memandang saya, kemudian mencium leher dan telinga saya,

“ Oughhh… Ricky, kamu luar biasa. Dulu dalam ronde pertama biasanya suamiku akan kalah, namun kami masih bertahan ”, ucapnya memuji saya.

Lalu sambunya,

“ Sssss… Aghhh… Tahan dulu Rick ya, aghhhh… sebentar lagi… aku… Aghhhhhh… ”
Dia tidak melanjutkan kalimatnya. Saya tahu kini saatnya beraksi, lalu mulailah kukencangkan otot Penis saya dan gerakan tubuh Grace-pun semakin liar. Saya-pun mengimbangi dengan genjotan Penis saya dari bawah. Ketika dia bergerak naik, pantatku kuturunkan dan ketika dia menekan pantatnya ke bawah Saya-pun menyambutnya dengan mengangkat pantatku.

Kepalanya bergerak kesana kemari diiringi dengan rambutnya yang hitam lebat acak-acakan. Sprei yang saat itu sudah terlepas dan tergulung di sudut ranjang, dan bantal di atas ranjang semuanya sudah jatuh ke lantai. Keadaan diatas ranjang seperti kapal yang pecah dihempas badai. Ranjangpun ikut bergoyang mengikuti gerakan kami. Suaranya berderak-derak seakan hendak patah.

Saya-pun semakin mempercepat genjotanku dari bawah agar iapun segera berlabuh di dermaga kenikmatan, Tidak lama kemudian,

“ Oughhhh… Yeahhhh… Ssss… Aghhh… ”, Grace mendesah.

Punggungnya melengkung ke atas, mulutnya menggigit putingku. Kurasakan desiran kenikmatan mendesak lubang Penis saya. Saya tidak tahan lagi. Ketika pantatnya menekan ke bawah, kupeluk pinggangnya dan kuangkat pantat saya, dan,
“ Oughhh… ak…u tidak tahan lagi Grace… Aghhh…. A..a.. aku … Oughhh…”, desah saya.

Saat itu Grace memberontak dari pelukanku sampai peganganku pada pinggulnya terlepas. pantatnya naik dan segera diturunkan lagi dengan cepat,

“ Rick… Oughhh… Ricky… Aku juga tidak tahan lagi…. Aghhhh… ” desah Grace.

Kemudian kaki grace mengunci Kaki saya dan tubuhnya mengejang kuat. dengan kaki saling mengait saya menahan gerak tubuhnya yang mengejang. Giginya menggigit lenganku sampai terasa sakit. Denyutan dari dinding Vagina-nya saling berbalasan dengan denyutan di Penis saya. Beberapa detik kemudian, kami masih merasakan sisa-sisa kenikmatan.

Ketika sisa-sisa denyutan masih terjadi tubuhnya menggetar, dia berbaring diatas dada saya sampai akhirnya Penis saya mulai mengecil dan terlepas dengan sendirinya dari Vagina-nya. Sebagian air mani mengalir keluar dari Vagina-nya di atas perutku. Grace berguling ke samping setelah menarik napas panjang,

“ Luar biasa kamu kau Rick, Suamiku tidak pernah menang dalam ronde pertama, memang dalam berhubungan dia sering mengambil posisi di atas. Namun kamu sanggup membawa aku terbang ke angkasa,” ucapnya sambil mengelus dada saya.

“ Saya-pun rasanya hampir tidak sanggup menandingimu. Mungkin sebagian besar laki-laki akan menyerah di atas ranjang kalau harus bermain denganmu. Milikmu benar-benar sempit,” ucap saya balas memujinya.

Memang kalau tadi saya harus bermain diatas, rasanya tak sampai sepuluh menit saya pasti sudah KO. Makanya, jangan cuma penetrasi terus main genjot saja, teknik,

“ Kamu orang Melayu pribumi, tapi kok bulunya banyak gini. Keturunan India atau mungkin Arab ya? ”, tanya saya.

“ Nggak ah, asli Indonesia lho…”, jawabnya.

Dia masih terus memujiku beberapa kali lagi. Kuajak ia mandi bersama dan setelah itu kami duduk di teras sambil minum soft drink dan melihat laut. Saya hanya mengenakan celana pendek tanpa celana dalam dam kaus tanpa lengan. Dia mengenakan kemeja saya, sementara bagian bawah tubuhnya hanya ditutup dengan selimut yang dililitkan tanpa mengenakan pakaian dalam.
Saat itu grace duduk membelakangiku, posisi tubuhnya disandarkan di bahu saya. Saat itu bibir saya sesekali mencium rambut dan belakang telinganya. Kadang mulutnya mencari mulutku dan kusambut dengan ciuman ringan. Tangan kanannya melingkar di kepala saya,

“ Kamu nggak takut hamil melakukan hal ini denganku ? ”, tanya saya.

“ Saya dulu pernah kerja di apotik, jadi saya tahu pasti cara mengatasinya. Saya selalu siap sedia, siapa tahu terjadi hal yang diinginkan seperti sore ini. Saya sudah makan obat waktu masuk ke kamar mandi tadi. Tenang saja, toh kalaupun hamil bukan kamu yang menanggung akibatnya.” ucapnya enteng.

Jadi dia selalu membawa obat anti hamil. Untung saja saya tadi tidak berlsaya konyol dengan memakai kondom. Mungkin saja sejak ditinggal suaminya dia sudah beberapa kali bercinta dengan laki-laki. Tapi apa urusanku, saya sendiri juga melakukannya. yang penting malam ini ia menjadi teman tidurku. Matahari sudah jauh condong ke Barat, sehingga tidak terasa panas.

Saat iut hampir satu jam kami duduk menikmati sunset. Gairahku mulai timbul lagi. Kubuka dua kancing teratas bajunya. Kurapatkan Penis saya yang sudah mulai ingin bermain lagi ke pinggangnya. Kususupkan tanganku kebalik bajunya dan kuremas buah dadanya,

“ Eughhhhh…” lenguhnya.

“ Masuk yuk, sudah mulai gelap. Anginnya juga mulai kencang dan dingin,” ucap saya.

Kamipun masuk ke dalam kamar sambil berpelukan. Sekilas kulihat tatapan iri dan kagum dari tamu hotel di kamar yang berseberangan dengan kamar saya,

“ Grace, aku mau lagi baby… ”, ucap saya.

Lalu saat itu kami-pun bersama-sama merapikan sprei dan bantal yang berhamburan akibat pertempuran babak pertama tadi. Kubuka bajunya dan kutarik selimut yang menutup bagian bawah tubuhnya. Kurebahkan Grace di ranjang. Kubuka kausku dan saya berdiri di sisi ranjang di dekat kepalanya. Grace mengerti maksudku. Didekatkan kepalanya ke tubuh saya dan ditariknya celana pendekku.

Sebentar kemudian mulut dan lidahnya sudah beraksi dengan lincahnya di selangkanganku. Saya mengusap-usap tubuhnya mulai dari bahu, dada sampai ke pinggulnya. Penis saya-pun tak lama sudah menegang dan keras, siap untuk kembali mendayung sampan. Sekitar 6 menit dia beraksi. Setelah itu kutarik kepalanya dan kuposisikan kakinya menjuntai ke lantai.

Kubuka mini bar dan kuambil beberapa potong es batu di dalam gelas. Kujepit es batu tadi dengan bibirku dan saya berjongkok di depan kakinya. Kurenggangkan kedua kakinya lalu dengan jariku bibir Vagina-nya kubuka. Bibirku segera menyorongkan es batu ke dalam Vagina-nya yang merah merekah. Ia terkejut merasakan perlakuan saya. Kaki dan tubuhnya sedikit meronta, namun kutahan dengan tanganku,

“ Oughhh… Ricky… Kamu… Freak… Jangan Rick… Cukup Rick… Aghhh…” ucapnya denga sedikit berteriak.

Saat itu saya tidak menghiraukan teriakannya dan terus melanjutkan aksiku. Rupanya sensasi dingin dari es batu di dalam Vagina-nya membuatnya sangat terangsang. Kujilati air dari es batu yang mencair dan mulai bercampur dengan lendir Vagina-nya,

“ Ricky… kamu bener-bener Maniak… Oughhhh….”, Lenguhnya setiap kali potongan es batu kutempelkan ke bagian dalam bibir Vagina dan Clitoris-nya.

Kadang es batu kupegang dengan jariku menggantikan bibirku yang tetap menjilati seluruh bagian Vagina-nya. Kakinya masih meronta, namun ia sendiri mulai menikmati aksiku. Kulihat ke atas ia menggigit ujung bantal dengan kuat untuk menahan perasaannya. Akhirnya semua potongan es batu yang kuambil habis. Saya masih meneruskan stimulasi dengan cara cunilingus ini.

Meskipun untuk ronde kedua saya yakin bisa bertahan lebih lama, namun untuk berjaga-jaga akan kuransang dia sampai mendekati puncaknya. yang pasti saya tak mau kalah ketika bermain dengannya. Kurang lebih sepuluh menit saya melakukannya. Dia terhentak dan mengejang sesaat ketika Clitoris-nya kugaruk dan kemudian kujepit dengan jariku. Kulepas dan kujepit lagi.

Dia merengek-rengek agar saya menghentikan aksiku dan segera melakukan penetrasi, namun saya masih ingin menikmati dan memberikan foreplay dalam waktu yang agak lama. Beberapa saat saya masih dalam posisi itu. tangan kanannya memegang kepala saya dan menekannya ke celah pahanya. Tangan kirinya meremas-remas Buah dada-nya sendiri.

Saya duduk di dadanya. Kini ia yang membrikan kenikmatan pada Penis saya melalui lidah dan mulutnya. Dikulumnya Penis saya dalam-dalam dan diisapnya lembut. Giginya juga ikut memberikan tekanan pada batang Penis saya. Dilepaskannya Penis saya dan kini dijepitnya dengan kedua Buah dada-nya sambil diremas-remas dengan gundukan kedua dagingnya itu.

Kugerakkan pinggulku maju mundur sehingga Penis saya-pun bergesekan dengan kulit kedua Buah dada-nya. Saya merubah posisi saya dengan menindihnya berhadapan, kemudian mulutku bermain disekitar Buah dada-nya. Grace kelihatan tidak sabar lagi dan dengan sebuah gerakan tangannya sudah memegang dan mengocok Penis saya dengan menggesekannya pada bibir Vagina-nya.

Tanganku mengusap gundukan Buah dada-nya dan meremas dengan pelan dan hati-hati. Ia menggelinjang. Mulutku menyusuri leher dan bahunya kemudian bibirnya yang sudah setengah terbuka segera menyambut bibirku. kami segera berciuman dengan ganas sampai terengah-engah. Penis saya yang sudah mengeras mulai mencari sasarannya. Kuremas pantatnya yang padat dan kuangkat pantatku,

“ Ricky… Ayo… Masukk… Kan !!!” ucapnya.

Tangannya menggenggam Penis saya dan mengarahkan ke dalam guanya yang sudah basah. Saya mengikuti saja. Kali ini ia yang mengambil iSaniatif untuk membuka lebar-lebar kedua kakinya. Dengan perlahan dan hati-hati kucoba memasukan Penis saya kedalam liang Vagina-nya. Masih sulit juga untuk menembus bibir Vagina-nya. tangannya kemudian membuka bibir Vagina-nya dan dengan bantuan tanganku maka kuarahkan Penis saya ke Vagina Grace.

Begitu melewati bibir Vagina-nya, maka kurasakan lagi sebuah liang yang sempit. Perlahan-lahan dengan gerakan maju mundur dan memutar maka beberapa saat kemudian Penis saya sudah menerobos kedalam liang Vagina-nya. Saya bergerak naik turun dengan perlahan sambil menunggu agar pelumasan pada Vagina-nya lebih banyak.

Ketika kurasakan Vagina-nya sudah lebih licin, maka kutingkatkan tempo gerakanku. Grace masih bergerak pelan, bahkan cenderung diam dan menungguku untuk melanjutkan serangan berikutnya. Kupercepat gerakanku dan Grace bergerak melawan arah gerakanku untuk menghasilkan sensasi kenikmatan. Saya menurunkan irama permainan. Kini ia yang bergerak liar.

Tangannya memeluk leherku dan bibirnya melumat bibirku dengan ganas. Saya memeluk punggungnya kemudian mengencangkan Penis saya dan menggenjotnya lagi dengan cepat. Kubisikkan untuk berganti posisi menjadi doggy style. Dia mendorong tubuh saya agar dapat berbaring tengkurap. Pantatnya dinaikkan sedikit dan tangannya terjulur kebelakang menggenggam Penis saya dan segera menyusupkannya kedalam Vagina-nya.

Lalu saya mulai menggenjot lagi Vagina-nya dengan menggerakkan pantatku maju mundur dan berputar. Kurebahkan tubuhku di atasnya. kami berciuman dengan posisi sama-sama tengkurap, sementara Vagina kami masih terus bertaut dan melakukan aksi kegiatannya. Saya menusuk Vagina-nya dengan gerakan cepat berulang kali. Iapun mendesah sambil meremas sprei.

Saya berdiri di atas lututku dan kutarik pinggangnya. Kini ia berada dalam posisi nungging dengan pantat yang disorongkan ke Penis saya. Setelah hampir sepuluh menit permainan kami yang kedua ini, Grace semakin keras berteriak dan sebentar-bentar mengejang. Vagina-nya terasa semakin lembab dan hangat. Kuhentikan genjotanku dan kucabut Penis saya.

Grace berbalik terlentang dan sebentar kemudian saya naik ke atas tubuhnya dan kembali menggenjot Vagina-nya. Kusedot putingnya dan kugigit bahunya. Kutarik rambutnya sampai mendongak dan segera kujelajahi daerah sekitar leher sampai telinganya. Ia semakin mendesah dan mengerang dengan keras. Ketika ia mengerang cukup keras, maka segera kututup bibirnya dengan bibirku.

Saat itu Grace menyambut bibirku dengan ciuman yang panas. Lidahnya menyusup ke mulutku dan menggelitik langit-langit mulutku. Saya menyedot lidahnya dengan satu sedotan kuat, melepaskannya dan kini lidahku yang masuk ke dalam rongga mulutnya. kami berguling sampai Grace berada di atasku. Grace menekankan pantatnya dan Penis saya-pun semakin dalam masuk ke liang kenikmatannya,

“ Oughhh… Grace,” desahku setengah berteriak.

Grace bergerak naik turun dan memutar. Perlahan-lahan kugerakkan pinggulku. Karena gerakan memutar dari pinggulnya, maka Penis saya seperti disedot sebuah pusaran. Grace mulai mempercepat gerakannya, dan kusambut dengan irama yang sama. Kini ia yang menarik rambutku sampai kepala saya mendongak dan segera mencium dan menjilati leherku.

Hidungnya yang mancung khas Timur Tengah kadang digesekkannya di leherku memberikan suatu sensasi tersendiri. Grace bergerak sehingga kaki kami saling menjepit. kaki kirinya kujepit dengan Kaki saya dan demikian juga kaki kiriku dijepit dengan kedua kakinya. dalam posisi ini ditambah dengan gerakan pantatnya terasa nikmat sekali. Kepalanya direbahkan didada saya dan bibirnya mengecup putingku.
Kuangkat kepalanya, kucium dan kuremas Buah dada-nya yang menggantung. Setelah kujilati dan kukecup lehernya kulepaskan tarikan pada rambutnya dan kepalanya turun kembali kemudian bibirnya mencari-cari bibirku. Kusambut mulutnya dengan satu ciuman yang dalam dan lama. Grace kemudian mengatur gerakannya dengan irama lamban dan cepat berselang-seling.

Pantatnya diturunkan sampai menekan paha saya sehingga Penis saya masuk terbenam dalam-dalam menyentuh rahimnya. kakinya bergerak agar lepas dari jepitanku dan kini kedua Kaki saya dijepit dengan kedua kakinya. Grace menegakkan tubuhnya sehingga ia dalam posisi duduk setengah jongkok di atas selangkanganku. Dia kemudian menggerakan pantatnya maju mundur.

Sembari menekan kebawah, sehingga Penis saya tertelan dan bergerak ke arah perutku. Rasanya seperti diurut dan dijepit sebuah benda yang lembut namun kuat. Semakin lama semakin cepat ia menggerakkan pantatnya, namun tidak menghentak-hentak. darah yang mengalir ke Penis saya kurasakan semakin cepat dan mulai ada desiran yang merambat disekujur tubuh saya,

“ Oughhh… Sssss… Aghhhhh!”, desahan Grace semakin liar.

Saya tahu sekarang bahwa iapun akan segera mengakhiri pertarungan ini dan menggapai puncak kenikmatan,

“ Tahan Honey, slow down aja, aku masih ingin lebih lama lagi merasakan nikmatnya bercinta denganmu ”, ucap saya.

Saya menggeserkan tubuh saya ke atas sehingga kepala saya menggantung di bibir ranjang. Dia segera mengecup dan menciumi leherku. Tak ketinggalan hidungnya kembali ikut berperan menggesek kulit leherku. Saya sangat suka sekali ketika hidungnya bersentuhan dengan kulit leherku,

“ Ricky… Oughhh… aku udah nggk tahan lagi … Aghhhh… ”, desahnya.

Saat itu saya meggelengkan kepala saya memberi isyarat untuk bertahan sebentar lagi.
Saya bangkit dan duduk memangku Grace. Penis saya kukeraskan dengan menahan napas dan mengencangkan otot Penis. Saat itu dia semakin cepat menggerakkan pantatnya maju mundur sementara bibirnya ganas melumat bibirku dan tangannya memeluk leherku.

Tanganku memeluk pinggangnya dan membantu mempercepat gerakan maju mundurnya. Dilepaskan tangannya dari leherku dan tubuhnya direbahkan ke belakang. Kini saya yang harus bergerak aktif. Kulipat kedua lututku dan kutahan tubuhnya di bawah pinggangnya. Gerakanku kuatur dengan irama cepat namun Penis saya hanya setengahnya saja yang masuk sampai beberapa hitungan dan kemudian sesekali kutusukkan Penis saya sampai mentok. Dia merintih-rintih, namun karena posisi tubuhnya ia tidak dapat bergerak dengan bebas.

Kini saya-pun sepenuhnya yang mengendalikan permainan, ia hanya dapat pasrah dan menikmati. Kutarik tubuhnya dan kembali kurebahkan tubuhnya ke atas tubuh saya, matanya melotot dan bola matanya memutih. Giginya menggigit bahu saya, lalu saya menggulingkan tubuh saya, kini saya berada diatasnya kembali. Lalu saya mengangkat kaki kanannya ke atas bahu kiriku.

Kemudian saya menarik tubuhnya sehingga selangkangannya dalam posisi menggantung merapat ke tubuh saya. Kaki kirinya kujepit di bawah ketiak kanan saya. Dengan posisi duduk melipat lutut saya menggenjotnya dengan perlahan beberapa kali dan kemudian saya hentakkan dengan keras. Saat itu Grace berteriak dengan keras setiap saya menggenjotnya dengan keras dan cepat.

Kepalanya bergerak-gerak dan matanya seperti mau menangis. Kukembalikan kakinya pada posisi semula. Saya masih ingin memperpanjang permainan untuk satu posisi lagi. Kaki saya keluar dari jepitannya dan ganti kujepit kedua kakinya dengan Kaki saya. Vagina-nya semakin terasa keras menjepit Penis saya. Saya bergerak naik turun dengan perlahan untuk mengulur waktu.

Saat itu Grace terlihat sudah tidak sabar lagi. Matanya terpejam dengan mulut setengah terbuka yang terus merintih dan mengerang. Gerakan naik turun, Dan saya percepat dan semakin lama semakin cepat. Kini kurasakan desakan kuat yang akan segera menjebol keluar lewat lubang Penis saya. Kukira sudah lebih dari setengah jam lamanya kami bergumul.

Saya-pun sudah puas dengan berbagai posisi dan variasi. Keringatku sudah berbaur dengan keringatnya. Kurapatkan tubuh saya di atas tubuhnya, kulepaskan jepitan Kaki saya. Betisnya kini menjepit pinggangku dengan kuat. Kubisikan, “ Ssss… aghhhh… ini saatnya Honey… Aghhh…”, ucap saya.

Grace-pun melenguh kecil ketika pantatku menekan kuat ke bawah. Dinding Vagina-nya berdenyut kuat menghisap Penis saya. Ia menyambut gerakan pantatku dengan menaikan pinggulnya. Bibirnya menciumku dengan ciuman ganas dan kemudian sebuah gigitan hinggap pada bahu saya. Satu desiran yang sangat kuat sudah sampai di ujung lubang Penis saya.
Saya menahan tekanan Penis saya ke dalam Vagina-nya. Gelombang-gelombang kenikmatan terwujud lewat denyutan dalam Vagina-nya bergantian dengan denyutan pada Penis saya seakan-akan saling meremas dan balas mendesak. Denyut demi denyutan, teriakan demi teriakan dan akhirnya kami bersama-sama mendapatkan orgasme kami, sesaat kemudian setelah mengeluarkan teriakan keras dan panjang, lalu kami,

“ Grace… Oughhh… ”, desah saya.

“ SSs… Aghhhhh… Ayo keluarin Rick… Oughhhhh… ”, ucap grace.

Pada akhirnya desiran yang tertahan sejak tadipun memancar dengan deras di dalam Vagina-nya. Kutekan Penis saya semakin dalam di Vagina-nya. Tubuhnya mengejang dan pantatnya naik. Ia mempererat jepitan kakinya dan pelukan tangannya. Kupeluk tubuhnya erat-erat dan tangannya menekan kepala saya di atas dadanya. Ketika dinding Vagina-nya berdenyut, maka kubalas dengan gerakan otot Penis saya.

Grace-pun kembali mengejang dan bergetar setiap otot Penis saya saya gerakkan.
Napas dan kata-kata penuh kenikmatan terdengar putus-putus, dan dengan sebuah tarikan napas panjang saya terkulai lemas di atas tubuhnya. kami masih saling mengecup bibir dan keadaan kamarpun menjadi sunyi, tidak ada suara sedikitpun. Saat itu hanya ada nafas yang panjang tersengal yang berangsur-angsur berubah menjadi teratur.

Tidak lama setelah itu kemudian kami berdua sudah bermain dengan busa sabun di kamar mandi. Kami saling menyabuni dengan sesekali melakukan cumbuan ringan. Setelah mandi barulah kami merasa lapar setelah dua ronde kami lalui. Sambil makan Grace menelpon keluarganya, kalau malam ini dia tidak pulang dengan alasan menginap di rumah temannya.

Tentu saja dia tidak bilang kalau temannya adalah seorang laki-laki bernama Ricky.
Malam itu dan malam berikutnya tentu saja tidak kami lewatkan dengan sia-sia. Mandi keringat, mandi kucing, mandi basah dan tentunya mandi kenikmatan menjadi acara kami berdua. Pada keesokan harinya setelah mengecek ke agen Merpati ternyata saya masih mendapat seat penerbangan ke kota propinsi, seat terakhir lagi.

Ketika chek out dari hotel kusisipkan selembar 100 ribuan ke tangan satpam , dan satpam itu tersenyum,

“ Terima kasih Pak,” ucapnya sambil menyambut tasku dan membawakan ke mobil.
“ Kapan kesini lagi, Pak? kalau Grace nggak ada, nanti akan saya carikan Grace yang lainnya lagi,” bisiknya ketika sudah berangkat ke bandara.

Ketika itu Grace mengantar saya sampai ke bandara dan sebelum turun dari mobil kuberikan kecupan mesra di bibirnya. Supir mobil hotel hanya tersenyum melihat tingkah kami. Singkat cerita 1 tahun kemudian saya kembali lagi ke kota itu dan ternyata Grace tidak berada di kota itu lagi.

Ketika kutelfon ke nomor yang diberikannya sudah tidak aktif lagi. Tapi yasudahlah mungkin saat itu adalah kenangan wiasata sex yang paling terindah bagi saya bersama Grace. Cukup sekian cerita sex saya, Thanks Grace. Semoga saya bisa bertemu kembali dan bisa bernostalgia sex lagi dengan kamu. Selesai.

Nikmatnya SEX Di Dapur

oyam 17

Tema kali ini menceritakan pengalaman Sex dari seorang ABG yang bernama Teguh. Berawal dari Kran air dapur yang terlepas dari pangkalnya, maka Teguh bisa menyetubuhi Bibi/ Tante-nya yang telah lama di idam-idamkan. Mau tahu kelanjutan ceritanya, Langsung aja yuk baca dan simak baik baik.

Panggil saja nama saya Teguh (nama samaran), di situs dewasa ini saya akan berbagi cerita tentang pengalaman sex mesum yang sangat memicu adrenalin. Usia saya saat ini 25 tahun. Kisa sex ini terjadi ketika saya duduk dibangku SMA, tepatnya ketika saya masih duduk di bangku kelas III SMA. Sampai saat ini Cerita Hot mesum saya ini masih tertanam dala benak dan fikiran saya.

Cerita sex saya ini tergolong cerita sex yang tidak wajar, kenapa begitu ?? karena saya disini akan menceritakan kisah sex dengan Bibi saya yang memang cantik bahenol dan mempesona. Kisah sex ini berawal dari dititipkan-nya saya oleh orangtusaya kepada adik kandung ibu saya yaitu Bibiku. Sungguh benar-benar cantik, bertubuh putih mulus bibi saya ini.

Pokonya para pembaca sekalian melihat Bibi saya pasti akan berfikir sperti saya. Saya saja yang sebagai keponakanya sangat amat ingin sekali menikmati hangatnya berhubungan intim dengannya. Bibi saya ini bernama Irma, Bibi Irma ini adalah seorang orang tua tunggal dari ke 2 anaknya, anaknya 1 laki-laki dan satunya lagi perempuan.

Bibi saya ini menjanda bukan karena kehendaknya, beliau menjanda karena ditinggal suaminya meninggal akibat kecelakaan motor pada event motor cross. Almarhun suami Bibi Irma ini adalah seorang pembalap motor cross yang cukup terkenal di daerahnya. Sungguh malang sekali Bibi Irma ini, diusia yang terhitung masih cukup muda sudah menjadi janda dengan 2 orang anak pada usianya yang masih 35 tahun.

Walaupun Bibi Irma janda beranak 2, namun tubuhnya sungguh terawat sekali dan masih singset dan sexy. Maklum sajalah walaupu seorang janda Bib Irma ini termasuk JAPAN (janda mapan) kondisi ekonominya tergolong lebih dari cukup. Bibi Irma hampir setiap minggu melsayakan senam erobik, spa dan masih banyakk perawatan yang dilsayakanya.

Alhasil, Bibi Irma bila dibandingkan dengan gadis berusia 22 tahun tidak kalah. Ditambah lagi Bibi Irma mempunyai pantatnya semok dengan pinggul yang singset. Betis dan pahanya sangat putih sekali para pembaca, bahkan tumpukan lemak dan selulit tidak ada sedikitpun ditubuhnya. Mantap kan. Buah dada-nya lumayan besar, saya perkirakan ukuran BH-nya sekitar 34B.

Buah dadanya itu loh, masih kencang sekali, tidak kendor sedikitpun. Jadi Jika diluar rumah, Bibi Irma ini seperti seorang Remaja yang menggugah gairah kaum laki-laki.

Kisah sex sedarah saya dengan Bibi Irma ini sungguh tidak terduga sekali, bahkan saya tidak menyangka bisa bersetubuh denganya. Pada waktu itu suasana rumah sedang sepi, saat itu saya sepulang sekolah saya, melihat Bibi yang sedang asyik memasak untuk hidangan makan siang. Oh iya Bibi saya ini adalah seorang dosen, kebetulan sekali saat itu hari itu jadwal mengajar Bibi hanya satu mata kuliah saja.

Dengan langkah yang terlihat lelah karena kecapekan, secara spontan saya langsung munuju menghampiri meja makan dan berkata,

“ Bibi, makananya belum siap yah? ”, tanya saya pada bib Irma.

“ Belum nih Guh, sabar dulu ya, Mbak Surti (pembantu Bibi saya) dari pagi disusruh belanja malah belum pulang, jadi Bibi repot sendiri deh ”, keluh Bibi Irma.

Saat itu terlihat di dahi-nya mengalir cucuran keringat, belum lagi tangannya yang belepotan dengan berbagai macam bumbu yang sedang diraciknya. Kelihatan sekali kalau Bibi Irma tidak pernah bekerja keras seperti ini. Walaupun begitu, entah kenapa terlihat sekali wajah Bibi saya semakin cantik. Saat itu dia hanya menggunakan daster pendek yang sebenarnya tidak ketat.

Sehingga saat itu terlihat bentuk pantat yang semok dan pinggulnya yang sexy dibali daster tipisnya. Daster itu jadi kelihatan agak ketat dan memetakan garis dari celana dalamnya kalau dia sedang membungkukkan badannya. Uhhh, seksi sekali pikiran saya mulai melayang tak jelas. Belum selesai saya mebayangkan Bibi Irma,tiba-tib dia berkata,

“ Bik, Teguh bantuin Bibi ya ? ”, ucap saya.

“ Boleh-boleh Guh, sini-sini !!! ”, jawab Bibi tidak keberatan.

Kemudian saya menuju kearah Bibi, saat itu tidak ada angin tidak ada hujan, belum sampai saya mendekat, entah karena apa tiba-tiba kran air di cucian piring copot. Hal itu secara otomatis air langsung menyembur dengan derasnya mengenai Bibi Irma yang kebetulan saat itu Bibi berada didepan kran tadi, lalu,

“ Aduh Guh, tolongin Bibi, gimana nih Guh ?? ”, ucapBibi saya dengan paniknya berusaha menutupi saluran air yang menyembur dengan tangannya.

Karena tubuh Bibi saya tidak terlalu tinggi, untuk mencapai saluran itu dia harus sedikit membungkuk. Terlihat sekali dasternya yang sudah basah kuyup itu sekali lagi memetakan pantatnya yang besar. Garis celana dalamnya kini terlihat lebih jelas.
Dengan tergesa-gesa, tanpa pikir-pikir lagi saya segera mendekat dan membantunya menutup saluran air itu dengan tanganku juga.

Tanpa saya sadari ternyata posisi tubuhku saat itu seperti memeluk tubuhnya dari belakang. Bisa di bayangkan, tanpa sengaja juga Penis saya mengenai belahan pantatnya yang sekal dan semok. Keadaan ini bertahan beberapa lama. Hingga menimbulkan sesuatu yang kotor dipikiranku,

“ Guh gimana ini nih ? ”, tanya Bibi saya tanpa bisa bergerak.

“ Duh gimana ya Bibi, Teguh juga bingung nih Bik ? ”, ucap saya mengulur waktu.

Saat itu, karena gesekan-gesekan yang berlebihan di Penis saya, saya jadi tidak bisa menahan gairah untuk merasakan tubuhnya. Pelan-pelan saya melepas satu tanganku dari saluran air itu, pura-pura meraba-raba disekitar cucian piring, mencari sesuatu untuk menutup saluran air itu sementara. Tanpa sepengetahuannya saya justru melepas celana saya berikut juga celana dalamku.

Memang agak susah tapi akhirnya saya berhasil dan dengan tetap pada posisi semula kini bagian bawahku sudah tidak tertutup apa-apa lagi. Lalu,

“ Wah, nggak ada yang bisa buat nutup Bibi. Sebentar Teguh carikan dulu yah Bik ”, ucap saya.

Kini niatku sudah tidak bisa ditahan lagi, pelan-pelan saya melepas peganganku di saluran air, kemudian,

“ Pegang dulu Bibi ”, ucap saya sedikit terengah menahan nafsu.

“ Yah, gih sana cepetan, Bibi sudah pegal nih ”, ucap Bibi.

Kemudian tanpa pikir panjang, secepat kilat saya menyingkap dasternya, kemudian secepat kilat juga berusaha untuk melorotkan celana dalamnya yang entah warnanya apa, karena sudah basah kuyup oleh air, warna aslinya jadi tersamar.

“ E… e… e… apa-apan ini Guh, jangan gitu dong !!! ”,tegur Bibi padaku.

Saat itu tanpa sadar Bibi melepas pegangannya dari saluran air untuk menahan tanganku yang masih berusaha melepaskan celana dalamnya. Air menyembur lagi.

“ Aohhhh… Ughhh… ”, ucap Bibi saya jadi tidak jelas karena mulutnya kemasukan air.

Tanpa sadar juga Bibi saya berusaha untuk menutup saluran air dengan tangannya lagi, otomatis tanganku sudah tidak ada yang menahan lagi. Kesempatan pikirku, dengan satu sentakan celana dalam Bibi saya melorot sampai diujung kakinya.

“ Oughhhh…. Guh jangan, aku ini Bibimu, jangann Guh, tolong… !!!”, ucap Bibi memohon.

Kepalang tanggung, saya langsung jongkok. Saya lalu menyibak pantatnya yang besar dan mencari liang senggamanya. Kudekatkan kepalsaya, kujulurkan lidahku untuk mencapai Kewanitaan-nya.

“ Sss… Guh… Aghhhh… ”, desah Bibi.

Ternyata jilatan pertama saya ternyata membuatnya bergetar tanpa bisa beranjak dari tempat semula, kalau bergerak air pasti akan menyembur lagi. Saat itu lidahku semakin leluasa merasakan aroma dari Kewanitaan-nya, semakin kedalam membuat Bibi saya bergetar hebat. Entah kenapa sudah tidak ada lagi bahasa tubuhnya yang menunjukkan penolakan.

Saat itu kepalanya semakin menggeleng-geleng tidak keruan. Kecari Clitorisnya, memang agak sulit, setelah dapat kuhisap habis, dua jariku juga ikut menusuk liang Kewanitaan-nya. Tidak terkira jumlah lendir yang keluar, tak lama kemudian, terasa pantatnya bergetar hebat.

“ Aghhhh… Oughhh… Guh… Sssss… Aghhhh… ”, dengan erangan keras, rupanya Bibi saya sudah mencapai Klimaks.

Saat itu tubuhnya langsung lunglai tapi tanpa melepas pengangannya dari saluran air.
Aduh saya belum apa-apa pikirku. Langsung saya berdiri, kusiapkan senjatsaya yang sudah mengacung dengan keras. Dengan dua tanganku saya coba menyibakkan kedua belahan pantatnya sambil kudekatkan Penis saya pada Kewanitaan-nya. Kudorongkan sedikit demi sedikit.

Begitu sudah betul-betul tepat dimulut liang kenikmatannya, tanpa ba-bi-bu langsung kulesakkan dengan kasar,

“ Aghhh… sakit Guh… Aow… pelan-pelan… ”, kepala Bibi saya langsung melonjak keatas, tanpa sengaja pegangannya di saluran air terlepas.

Air menyembur dengan deras. Kepalang basah, begitu mungkin pikir Bibi saya karena selanjutnya dia hanya berpegangan dipinggiran cucian piring. Sudah tidak ada penolakan pikirku. Kudiamkan sebentar Penis saya yang sudah masuk hingga pangkalnya didalam Kewanitaan Bibi saya, ku nikmati benar-benar bagaimana ternyata Kewanitaan yang sudah mengeluarkan tiga orang manusia ini masih saja nikmat menggigit.

Sungguh sensasi yang sangat luar biasa sekali. Pelan-pelan kutarik, kemudian kudorong lagi,

“ Oughhh… Guh… Sssss… Aghhhh… terus sayang… cepetin sodokan kamu… Oughhh… cepat, Aghhhh… ”, desah Bibi.

Terus sayang pantatnya bergoyang melawan arah dari kocokanku,

“ Oughhh… Yeahhh… Nah gitu Guh, Oughhh… ya gitu teruuss… ”, Pinta Bibi saya.

Saat itu saya terus mengocokkan Penis saya dengan cepat. Sebentar kemudian tubuhnya mulai bergetar hebat,

“ Yang cepat Guh, Bibi sudah mau keluar lagi… Oughhh… Aghhh… ”, ucap Bibi nikmat.

Kemudian kepalanya semakin menggeleng-geleng tidak karuan,

“ Cepatt… cepatt truss… ouchh… Bibi kelluaarr… aghhhhhhhhhh ”,

Akhirnya Bibi Irma mendapatkan Klimaksnya di iringi dengan kepalanya yang melonjak naik, tangannya mencengkeram pinggiran cucian piring dengan erat,

“ Cabut dulu Guh… Bibi linuu… ”, pinta Bibi saya, karena merasakan saya yang masih mengocoknya dari belakang.

“ Akan Teguh cabut, tapi janji nanti diteruskan lagi ya Bik? ucap saya.

“ Iya, tapi sekarang dari depan aja yah Guh ”, janji Bibi saya.

Tubuhnya kemudian berbalik. Wajahnya sudah awut-awutan dan basah kuyup. Kemudian dia duduk diatas cucian piring sambil menghadapku. Saya mendekat, langsung kucari bibirnya dan kemudian kami berpagutan lama. Sambil kami berciuman, satu tangannya membimbing Penis saya kearah liang Kewanitaan-nya. Tanpa disuruh dua kali kudorongkan pantatku dibarengi dengan masuknya juga Penis saya.

“ Aghhhh… Oughhh… ”, erang Bibi saya, ciuman kami terlepas.

“ Genjot yang cepatt Guh… Aghhhhh… ”, pinta Bibi saya sambil pahanya semakin dilebarkan.

“ Begini Bik… ??? Ucap saya sambil mengocokkan Penis saya dengan cepat.

“ Gila kamu Guh… kuat sekalii kamu… ”, ucapnya sambil satu tangannya menarik satu tanganku, kemudian ditaruhnya di bagian atas Kewanitaan-nya.

Saya tahu mau maksudnya,

“ Aghhhh yang ituu… teruss Guh… ohh enakk… teeruss… ”, rintih Bibi saya ketika sambil Penis saya mengocok Kewanitaan-nya tanganku juga memelintir Clitorisnya.

Oughhh Guh, Bibi hampir sampai nih… ”, ucapnya.

Saat itu tubuhnya mulai bergetar agak keras,

“ Saya juga hampir klimaks Bik… Oughhh punya Bibi eenakk… ”, ucap saya mulai tidak bisa mengendalikan lagi, Klimaks saya tinggal sebentar lagi.

“ Mau dikeluarin dimana Bik ? tanya saya mrminta ijin.

“ Udah nggak usah mikirin itu, ayoo teruss… didalem juga nggak Papa
Ayoo…Bibi udah diujung nihh Guh… ”, ucap Bibi.

“ Oughhh… enakk… cepatt Guh… ”, desah Bibi saya.

“ Goyang Bik, kita barengan ajaa… Oughh ”, ucap saya.

Saat itu saya merasakan Klimaks saya sudah diujung. Semakin kupercepat kocokanku, Bibi saya juga mengimbangi dengan menggoyang pantatnya. Sambil berpegangan pada belakang pantatnya, kukeluarkan sperma saya.
“ Saya keluarr Bik… Aghhhhh… ” ucapku telah mencapai klimaks sembari kubenamkan dalam-dalam.

“ Bibi juga Guh… Aghhhh… gilaa… enaknya… ”, erangnya sambil jemarinya mencengkeram bahuku.

Akhirnya kami berdua terkulai lemas. Kudiamkan dulu Penis saya yang masih ada didalam Kewanitaan-nya. Kulirik ada sedikit lelehan sperma yang keluar dari Kewanitaan-nya. Seperti tersadar dari dosa, Bibi saya mendorong badanku.

“ Kamu nakal Guh, berani sekali kamu berbua seperti ini pada Bibi ”,Ucap Bibi saya.

“ Tapi Bibi juga menikmatinya kan? ”, balas saya.

Tanpa berkata apa-apa, dia kemudian turun, meraih celana dalamnya kemudian berlalu kekamar mandi. Saya berusaha mengejarnya tapi dia sudah lebih dulu masuk kamar mandi kemudian menguncinya,

“ Bibi air di tandon tadi sudah habis hloh ”, canda saya dari luar kamar mandi tapi tidak ada balasan dari dalam.

Semenjak kejadian itu hubungan saya dengan Bibi semakin menjadi-jadi saja. Hampir setiap hari kami melakukan Hubungan Sex jika suasana rumah memungkinkah. Demikian cerita sex saya. Selesai.

Cewe Bali Yang Seksi Dan Cantik

hot

Hari itu aku nganter nyokap ke salah satu bank di Denpasar,disana nyokap nyelesain urusannya,sambil menunggu aku membaca koran harian yang tersedia ditempat itu,setelah agak lama menunggu aku pergi ketoilet karena kebelet kencing, didepan toilet aku berpapasan ama salah seorang teller bank itu yang kuliat dari nametagnya namanya Alvi orangnya lumayan cakep,kulitnya putih,agak mungil dengan lesung pipit yang membuatnya terlihat semakin manis,aku udah beberapa kali nganter nyokap kesana makanya udah familiar ama wajahnya tapi belum ada kesempatan buat kenalan,kebetulan papasan langsung kugunakan moment itu buat kenalan

“pagi mbak”‘sapaku ke dia

“,iya bli ada apa bli,?”jawabnya

“boleh kenalan nggak?,kenalin saya Ageunk” lanjutku lagi

“ooh kirain apaan,saya Alvi”jawabnya,

singkat cerita aku bisa berkenalan dengannya dan akupun bisa mendapatkan pin bb dan nomor hp nya,langsung ku invite pinnya dan kusave nopenya. Sorenya iseng ku chat dia

A : “Sore Alvi cantik”

N : “Sore juga Bli Ageunk”

A : “Lagi ngapain ni?”

N : “ Lagi Santai aja,baru abis mandi

A : “ Ada acara nggak, Kalau nggak JJ yuk ?”

N : “Hmm nggak ada sih,mau kemana emang?

A : “Yaa nyari makan aja,kujemput dikost ya?

N : “Okey Bli Ageunk”.

Cerita sex, Dia kost didaerah Renon Denpasar kira – kira 1 jam perjalanan aku sampe di kekostnya langsung ku miscall krn ku gak tau yg mana kamarnya,diapun nyamperin aku yang menunggu di depan pintu pagar,dia kliatannya udah siap jj,udah rapi, dengan makeup natural,rambutnya dikuncir dan dia pake t shirt ketat warna hijau yang membuat dadanya walaupun nggak begitu gede cukup menonjol dan jeans ketat yang membungkus pantat indahnya dan bikin aku menelan ludah ngeliatnya

N : “Langsung jalan,apa mampir dulu ?”

A : “Langsung aja yuk?”

Akupun menyerahkan helm padanya dan langsung menstarter motorku,kamipun menuju arah taman kota Denpasar, nyampe sana kami mencari spot yang agak terlindung untuk duduk .aku pun mulai mengajaknya ngobrol

A : “ Alv,Bli boleh nanya sesuatu nggak?”

N : “ nanya apaan Bli,serius banget kayanya

A : “ emang pacarmu nggak marah ya ntar kalo tau kamu jalan ama bli?”

N : “Alvi blum punya pacar kok bli sekarang,baru aja putus”

A : “ hhmm boleh donk bli jadi gantinya?”

N : “jangan dulu dehh bli,Alvi masih trauma,baru 2 minggu juga putusnya

A : “Ooh oke kalo gitu bli bakal nunggu kamu siap”

N : “makasi ya Bli udah bilang suka ke Alvi tapi kita temenan dulu deh,baru juga kenal tadi pagi”

Suasana jadi sepi,karena aku ama dia sama – sama diam untuk waktu yang lama Karena perut mulai keroncongan kamipun pergi dari situ buat nvari makan pilihan jatuh kesebuah resto cepat saji yang lokasinya nggak jauh dari taman kota,sehabis makan aku mengantarnya pulang ke tempat kostnya ditengah perjalanan mendadak turun hujan padahal aku nggak bawa jas hujan,untung tempat kostnya nggak jauh lagi akupun nekat menerobos hujan pikirku toh entar lagi nyampe,sampe kostnya ternyata sepi mungkin karena hari jumat para penghuni kost yang lain yang kebanyakan pegawai kantor dan mahasiswa pada pulang kampung ternyata hujan semakin lama semakin deras padahal rumahku jauh dari sana kira – kira 20 kilo lagi mungkin karena kasihan aku nggak diijinin pulang olehnya untung disana nggak ada tuan rumahnya

“Nginep sini aja Bli Ageunk.hujannya tambah deras tuh,jauh lho ke Mengwi”katanya

“Gak apa-apa nih?”tanyaku

“Gak apa daripada ntar Bli sakit”sahutnya

“Tapi Bli gak punya ganti nih,basah semua”

“Tenang aja dilemari ada baju ama celana pendek punya kakakku yang ketinggalan disini mudah – mudahan pas buat Bli”setelah menyerahkan pakaian ganti buatku dia pun pergi kekamar mandi buat ganti pakaian, tak lama kemudian dia keluar kamar mandi masih dengan rambut yang basah,mungkin dia abis keramas,dia make baju model daster gitu tapi panjangnya Cuma selutut,giliran aku yang ganti pakaian dikamar mandi,pakaian yang dia kasih ke aku celana model boxer ama t shirt gitu,karena kebasahan sampe ke daleman terpaksa daleman ku copotdan aku nggak pake daleman malam itu,keluar dari kamar mandi kuliat dia udah rebahan diatas kasur

“ Alv,Bli Ageunk tidur dimana nih?”Tanyaku

“ disini aja bli,nggak ada tempat lagi juga”

Cerita Dewasa, Kamarnya emang kecil cuma punya satu tempat tidur dan satu lemari pakaian aja plus kamar mandi dalam,tv pun ditaruh diatas lemari,karena nggak ada pilihan lain akupun rebahin badan disebelahnya,Karena tempat tidurnya ukuran single kadang kami nggak sengaja bersentuhan ternyata aku dan Alvi sama – sama suka tidur tanpa lampu,jadilah lampu kamar kami padamkan karena cuaca yang dingin dan agak pusing karena kehujanan kami berduapun segera terlelap tengah malam mungkin karena nggak terbiasa tidur ditempat baru aku terbangun dan mendadak pengen buang air kecil,sehabis dari kamar mandi ku lihat samar – samar dasternya tersingkap sampai kepaha menampakkan pahanya yang mulus ,pelan – pelan burungku mulai berdiri,dengan pelan kurebahkan badan disebelahnya biar nggak ngagetin dia kuelus pelan dan lembut pahanya perlahan burungku makin mengeras kusingkap makin keatas dasternya hingga kebagian pangkal paha aku kaget ternyata dia juga nggak pake cd sepertiku, gairahsex.com aku berpikir apakah dia juga nggak pake bra?

Kuintip dadanya ternyata benar dugaanku,dia tidur tanpa memakai daleman sama sekali,karena otakku mulai dirasuki birahi kusingkap bagian dadanya dan mulai meremas dengan lembut puting susunya yang walaupun nggak begitu besar tapi padat dan menggiurkan bagi yang ngeliatnya mungkin karena rabaanku dia mulai menggeliat dan perlahan membuka matanya,karena mungkin masih ngantuk dia agak lambat menyadari apa yang kulakukan setelah sadar sepenuhnya dia kaget dan bertanya

“ngapain ni bli?’ngelihat dia bangun aku langsung meAlvuknya dan Alvumat bibirnya yang sexy sambil membisikkan rayuan

“Bli Ageunk sayang dan cinta ama Alvi” sambil tanganku mengelus daerah pribadinya,tak lama kurasakan memeknya mulai basah mungkin karena terus ku rangsang, terlihat wajahnya agak memerah dan dia mengerang lirih

“aahh bli….enak”menyadari reaksinya akupun tambah berani,langsung aja kupelorotin dasternya kebawah sampe dia bugil total,dia memekik pelan

“ihh.Bli Ageunk nakal,udah maen nelanjangin aja”katanyasambil meremas pelan burungku yang masih ada dibalik boxer, remasannya membuat aku menggelinjang karena enaknya,

“biar impas,Bli Ageunk juga harus bugil donk” lanjutnya, mendengarnya langsung aja aku membuka kaos dan boxerku sehingga burungku yang udah ngaceng maximal langsung menyapanya mungkin karena gemas dia langsung menggenggam burungku dan mengocoknya pelan,

“lumayan juga burungmu bli,gak gede banget tapi kenceng”katanya sambil menatap mataku dengan sayu, mungkin dia udah terangsang juga,aku hanya diam sambil tetap merangsang memeknya,lalu kuubah posisiku kearah selangkangannya,aku mulai mencium dan menjilat memeknya dan diapun bisa mengulum burungku erangan dan desahan kamu berdua pun mulai terdengar berbarengan,setelah agak lama mendadak dia mengerang dengan keras dan wajahku disemprot cairan dari dalam memeknya tanda dia udah dapat orgasme pertamanya,langsung kuubah lagi posisiku dan kuarahkan kepala burung kearah lubang memeknya,

“bli masukkan ya Alv?”

“iyaa bli masukin aja tapi pelan aja udah lama Alvi nggak maen ama cowok” sahutnya,dengan pelan kumasukkan burungku kememeknya,baru masuk ujungnya aja dia udah merintih mungkin karena udah lama nggak dientot, kutarik lagi burungku

“ahh bli masukin lagi donk”pintanya sambil menggigit bibir kemudian kulangi lagi,

kali ini dengan agak keras ku dorong burungku sampe dia menjerit pelan

“aaacch enak bli”

mendengar itu dengan semangat kugenjot dia dan berulangkali kukeluar masukkan burungku sambil menatap wajahnya yang mulai dihiasi keringat dan wajahnya menatapku sambil tersenyum manis dan dia berkata

“sekarang Alvi mau dah jadi pacarnya Bli Ageunk”,mendengarnya langsung kucium bibirnya sambil berkata

“makasih sayang” kamipun ngelanjutin persetubuhan itu dan mendadak dia mengerang dan meAlvuk tubuhku sambil Alvilitkan kakinya dipinggangku

“aauuch enak bli Alv dapat enaakk”jeritnya,Alvihat itu semakin kencang kusodok memeknya sampai dia terlonjak – lonjak dan kurasakan ada sesuatu yang akan memancar dari burungku rasa gatal mulai merambat kukeraskan lagi sodokanku sambil bertanya

“keluarin didalam ya Alv?”

“ya boleh bli”jawabnya,mendadak rasa gatal itu semakin menghebat langsung kuhunjamkan burungku sedalam mungkin dan spermakupun Alvuncur masuk tanpa hambatan kearah rahimnya, setelah burungku lemas lalu ku cabut dan kuberbaring disampingnya sambil meAlvuknya dan berbisik lembut ditelinganya

“makasi ya Alvi jegeg udah mau nerima bli” dia nyahut

“ya bli,Alvi juga sayang nich ama Bli Ageunk,muaach” dia mengecup bibirku,. Setelah kurang lebih setengah jam dia mengelus burungku sambil berbisik

“Bli maen lagi yuk?”,

“blom puas ya?ayoo deh” dari gerakan mengelus dia mulai mengocok sampai burungku yang tadinya lemas mulai menegang lagi,

setelah agak lama dikocok burungku udah ngaceng maksimal dan siap bercinta lagi ,dia memintaku terlentang dan menduduki burungku sampai dan mengarahkan burungku sampai menembus kedalam memeknya dan mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur secara ,burungku merasakan begitu nikmat dengan posisi ini,aku hanya bisa memegang dan mengelus pelan pinggang dan paha mulusnya,terlihat wajahnya mulai memerah dan titik keringat mulai menghiasi keningnya dia mengerang dan memepercepat ayunan pinggulnya sambil menggigit bibirnya dia mendadak berteriak kencang,

“oooh Bli Ageunk Alv nyampee” sambil menekankan pinggulnya sekeras mungkin kearah selangkanganku,dan terasa ada cairan yang menyembur dan membasahi burungku yang masih tertancap dilobang memeknya,aku yang masih belum orgasme langsung membalik posisi kami sehingga sekarang dia terbaring diatas kasur dan mulai kugenjot dia ,

karena udah lemas setelah orgasme tadi dia hanya bisa pasrah aja walaupun rintihannya sesekali terdengar,beberapa saat kemudian aku yang merasakan tanda akan orgasme mempercepat sodokanku dan tak lama kemudian spermaku pun menyembur dengan kencangnya menuju rahimnya,

setelah burungku Melemas kucabut dan kurebah disampingnya,dia hanya tersenyum ketika kucium bibirnya,karena sama – sama udah kelelahan kami pun terlelap tanpa pakaian sampai pagi,sejak saat itu kami resmi berpacaran.

SPG Hot Dan Seksi

spg

Begitu rasanya malas sekali karena pagi itu aku berangkat ke kantor pagi seklai karena banyak kerjaan yang menumpuk dan yang tidak enaknya saat berangkat di tengah jalan hujan turun deras sekali, karena tidak ingin basah kuyup jadinya aku berteduh di sekitar warung terdekat. Ibu permisi numpah berteduh Entah gak tau aku siapa namanya saat itu, hujan mendadak turun tanpa ada pertanda mendung.

“Gak apa apa dik silahkan berteduh nunggu hujan reda kalau di lanjut perjalanannya malah basah kuyup, jawab ibu pemilik warung tersebut.

“Saya pesan kopi susunya Bu, jangan banyak-banyak gulanya ya,” pintaku setelah mengambil duduk dalam warung itu. Sambil menunggu pesananku, kuamati pemandangan sekeliling warung itu.

Warung tempat kuberteduh terlihat sangat rapi dan bersih, walaupun ukurannya kecil. Sungguh, aku baru kali itu singgah disana, meskipun sehari-hari kerab melintasi jalan di depannya. Pagi itu, ada tiga orang yang turut berteduh sambil sarapan,

Kelihatannya mereka itu sopir dan kenek angkot yang pangkalannya tak seberapa jauh dari warung itu. Belum lagi kopi susu yang kupesan tiba dihadapanku, kulihat dua wanita muda masuk ke warung.

“Uhh, gila hujannya ya Fin.., untung sudah sampai sini,” kata yang berbadan agak gemuk pada temanya yang lebih langsing.

Dari penampilan mereka aku bisa menebak kalau mereka adalah sales promotion girl (SPG), dibelakang baju kaos yang mereka pakai ada sablonan bertulis Susu Siip produk susu baru buatan lokal. Keduanya langsung duduk dibangku panjang tepat di depanku.

“Ini Dik kopi susunya, apa nggak sekalian pesan sarapan Dik?” ibu pemilik warung membawakan pesananku.

“Makasih Bu, ini saja cukup. Saya sudah sarapan kok,” jawabku, Ibu itu pun berlalu, setelah sempat menawarkan menu pada dua wanita muda dihadapanku.

“Hm maaf Mas, apa tidak mau coba susu kami?” sebuah suara wanita mengejutkan aku.

Hampir saja aku tersedak kopi yang sedang kuseruput dari cangkirnya, sebagian kopi malah tumpah mengotori lengan bajuku.
“Duh maaf, kaget ya Mas. Tuh jadi kotor bajunya,” wanita yang agak gemuk menyodorkan tisue kepadaku.
“Ohh, nggak apa Mbak, makasih ya,” kuterima tisue pemberiannya dan membersihkan lengan bajuku.
“Maaf, susu apa maksud Mbak?” aku bertanya.
“Hik.. Hik.. Mas ini rupanya kaget dengar susu kita Fin,” canda sigemuk, si langsing tersenyum saja.
“Ini loh Mas, susu siip. Susu baru buatan lokal tapi oke punya. Harganya murah kok, masih promosi Mas, ada hadiahnya kalau beli banyak,” si langsing menjelaskan, ia juga menerangkan harga dan hadiahnya.

Sebenarnya aku ingin lebih lama diwarung itu supaya bisa lebih lama bersama dua wanita SPG susu itu, tapi nampaknya hujan sudah mulai berhenti dan aku harus melanjutkan perjalanan karena waktunya sudah mepet & Pekerjaan dikantor masih menunggu tuk diselesaikan.

“Saya tertarik Mbak, tapi kayaknya saya harus lanjutkan perjalanan nih, tuh hujannya sudah berhenti. Emm, gimana kalau saya kasih alamat saya, ini kartu nama saya dan kalau boleh Mbak berdua tulis namanya disini ya,” kusodorkan selembar kartu namaku sekaligus meminta mereka menulis namanya dibuku saku yang kubawa.

“Oh Mas Andy toh namanya. Pulang kerjanya jam berapa Mas biar bisa ketemu nanti kalau kami kerumahnya,” si gemuk yang ternyata bernama Luna bertanya sambil senyum-senyum padaku.
“Jam empat sore juga saya sudah dirumah kok. Mbak Luna dan Mbak Wanda boleh kesana sekitar jam itu, saya tunggu ya,” jawabku. Wanda yang langsing juga tersenyum.

Aku kemudian membayar kopi susu pesananku dan meninggalkan warung, untuk segera menuju ke kantor. Jam 3 sore aku sudah menyelesaikan laporanku yang menumpuk, dan aku langsung pulang kekontrakanku.

Oh ya umurku saat itu sudah menginjak 28 tahun, aku coba mandiri merantau dikota kembang ini. Kuputar lagu-lagu melankolisnya Katon Bagaskara di VCD Player sambil kunikmati berbaring dikasur kamarku.

Foto Lusi kupandangi, pacarku itu sudah tiga minggu ini pindah ke Jakarta, bersama pindah tugas bapaknya yang tentara. Kayaknya sulit melanjutkan tali kasih kami, apalagi jarak kami sekarang jauh.

Dan sepertinya ini takdirku, berkali-kali gagal kawin gara-gara terpisah tiba-tiba, jadi jomblo sampai umur segitu. Membayangkan kenangan manis bersama Lusi, aku akhirnya lelap tertidur ditemani tembang manis Katon.

Sampai akhirnya gedoran pintu kontrakan membangunkanku. Astaga sudah jam setengah 5 sore, aku segera membukakan pintu utama kontrakanku untuk melihat siapa yang datang.

“Sore Mas Andy, duh baru bangun ya? Maaf ya mengganggu lagi,” ternyata yang datang Luna dan Wanda, SPG Susu yang kujumpai pagi tadi.
“Oh Mbak Luna dan Mbak Wanda.., saya pikir nggak jadi datang. Silahkan masuk yuk, saya basuh muka sebentar ya,” kupersilahkan mereka masuk dan aku kekamar mandi membasuh mukaku.

Sore itu Luna dan Wanda tidak lagi menggunakan seragam SPG, mereka pakai casual. Luna walau agak gendut jadi terlihat seksi mengenakan jeans ketat dipadu kaos merah ketat pula,gairah sex.com sedangkan Wanda yang langsing semakin asyik pakai rok span mini dipadu kaos kuning ketat.

Rumah kontrakanku type 36, jadi hanya ada ruang tamu dan kamar tidur yang ukurannya kecil, selebihnya dapur dan kamar mandi juga sangat mini dibagian belakang. Setelah basuh muka, aku menemani mereka duduk di ruang tamu.

“Wah ternyata Mas Andy ini Kerja di Farmasi ya, boleh dong kapan-kapan kita di jelasin masalah obat Mas?” Luna buka bicara saat aku duduk bersama mereka.
“Tentu boleh, kapan Mbak mau datang aja kesini,” jawabku.

Selanjutnya kami kembali bicara masalah produk susu yang mereka pasarkan. Bergantian bicara, Luna dan Wanda menjelaskan kalau susu yang mereka jual ada beberapa macam dengan kegunaan yang beragam.

Ada susu untuk ibu hamil, ibu menyusui, anak-anak usia sekolah, balita, bayi, orangtua, pertumbuhan remaja, sampai susu greng untuk menambah vitalitas pria. Nah, untuk susu penambah vitalitas pria itu, bicara mereka sudah berani agak porno dan mesum, membuat aku blingsatan mendengarnya.

“Hmm, boleh-boleh.. Saya ambil susu grengnya dua mbak, nanti kalau bagus saya tambah lagi lain kali,” aku memotong bicara mereka yang semakin ngawur.
“Nah gitu dong Mas, biar istri Mas senang kalau suaminya greng,” Wanda kembali bercanda.
“Duh.. Mbak, saya belum kawin nih. Maksud saya susu greng itu saya pakai buat kerja, supaya tetap fit kalau kerja,” kataku.

Jawabanku itu membuat mereka saling pandang, lalu keduanya tertawa sendiri.

“Wah kita kira Mas sudah punya istri, ternyata masih bujang. Kok ganteng-ganteng belum laku sih?” Luna menggoda.Gairah sex

Suasana terasa langsung akrab bersama dua SPG susu itu. Mereka pun menceritakan latar belakang mereka tanpa malu kepadaku. Luna, wanita berumur 26 tahun, dulunya karyaWanda sebuah bank, lalu berhenti karena dinikahi rekan sekerjanya.

Tapi kini dia janda tanpa anak sejak suaminya sakit dan meninggal, tiga tahun lalu. Sedangkan Wanda, bernasib sama. Wanita 24 tahun itu, pernah menikah dengan lelaki sekampungnya, tetapi kemudian jadi janda gantung sejak suaminya jadi TKI dan tak ada kabarnya sejak 4 tahun lalu. Keduanya terpaksa menjadi SPG untuk menghidupi diri.

“Kami malu Mas, sudah kawin masih bergantung pada orangtua, makanya kami kerja begini,” kata Wanda.

“Kalau Mas mau, gimana kalau saya seduhkan susu greng itu. Sekedar coba Mas, siapa tahu Mas jadi pingin beli lebih banyak?” Luna menawarkanku setelah obrolan kami semakin akrab.

Belum sempat kujawab dia sudah bangkit dan menanyakan dimana letak dapur, ia pun menyeduhkan secangkir susu greng buatku. Susu buatan Luna itu kucicipi, lalu kuteguk habis, kemudian kembali ngobrol dengan mereka.

Saat itu jam menunjuk angka tujuh malam. Lima belas menit setelah meneguk susu buatan Luna, aku merasakan dadaku bergemuruh dan panas sekujur tubuh, agak pusing juga.

“Ohh.. Kok saya pusing jadinya Mbak? Kenapa ya? Ahh..,” aku meremasi rambutku sambil bersandar di kursi bambu.

“Agak pusing ya Mas, itu memang reaksinya kalau pertama minum Mas. Mana coba saya pijitin lehernya,” Wanda pindah duduk kesampingku sambil memijiti tengkuk leherku, agak enakan rasanya setelah jemari lentik Wanda memijatiku.
“Nah, biar lebih cepat sembuh saya juga bantu pijit ya,” Luna pun bangkit dan duduk disampingku, posisiku jadi berada ditengah keduanya.

Tapi, astaga, Luna bukannya memijit leherku malah menjamah celana depanku dan memijiti penisku yang mendadak tegang dibalik celana.

“Ahh Mbaak.., mmfphh.. Ehmm,” belum selesai kalimat dari bibirku, bibir Wanda segera menyumpal dan melumat bibirku.

Gila pikirku, aku hendak menahan aksi mereka tapi aku pun terlanjur menikmati, apalagi reaksi susu sip yang kuteguk memang mujarab, birahiku langsung naik. Akhirnya kubalas kuluman bibir Wanda, kusedot bibir tipisnya yang mirip Enno Lerian itu.

“Waduh.., gede juga Andy juniornya Mas,” ucapan Luna kudengar tanpa melihatnya karena wajah Wanda yang berpagutan denganku menutupi.

Tapi aku tahu kalau saat itu Luna sudah membuka resleting celanaku dan mengeluarkan penisku yang tegang dari celana. Sesaat setelah itu, kurasakan benda kenyal dan basah melumuri penisku, rupanya Luna menjilati penisku.

“Ahh.., tidak Mbak.., jangan Mbak,” kudorong tubuh Wanda dan Luna, aku jadi panik kalau sampai ada warga yang melihat adegan kami.
“Ayolah Mas.. Kan sudah tanggung. Nanti pusing lagi loh,” Luna seperti tak puas, Wanda pun menimpali.
“Maksud saya jangan kita lakukan disini, takut kalau ketahuan Pak RT. Kita pindah kekamar aja yah,
” aku mengajak keduanya pindah ke kamar tidurku, setelah mengunci pintu utama kontrakanku.

Sampai di kamarku, bagaikan balita yang akan dimandikan ibunya,gairahsex.com pakaianku segera dilucuti dua SPG itu, dan mereka pun melepasi seluruh pakaiannya. Wah tubuh mereka nampak masih terawat, mungkin karena lama menjanda.

Sebelum melanjutkan permainan tadi, kuputar lagi lagu Katon Bagaskara dengan volume agak keras supaya suara kami tak terdengar keluar. Setelah itu, aku rebah dikasurku dan Luna segera mengulangi aksinya menjilati, menghisap penisku yang semakin mengeras.

Luna bagaikan serigala lapar yang mendapatkan daging kambing kesukaannya. Sedangkan Wanda berbaring disisiku dan kami kembali berpagutan bibir, bermain lidah dalam kecupan hangat. Dalam posisi itu tanganku mulai aktif meraba-raba susu Wanda disampingku, kenyal dan hangat sekali susu itu, lebih sip sari susu sip yang mereka jual kepadaku.
“Oh Mas, saya sudah nggak tahan Mas,” Luna mengeluh dan melepaskan kulumannya dipenisku.
“Ayo Lin, kamu duluan.. Tapi cepat yahh,” Wanda menyuruh Luna.

Wanita bertubuh agak gemuk itu segera menunggangiku, menempatkan vagina basahnya diujung penisku Luna berposisi jongkok dan bless, penisku menembusi vaginanya.

“Ohh.. Aaauhh.. Mass hengg,” Luna meracau sambil menggenjot pinggulnya naik turun dengan posisi jongkok diatasku. Kurasakan nikmatnya vagina Luna, apalagi lemak pahanya ikut menjepit di penisku.

Wanda yang turut terbakar birahinya segera menumpangi wajahku dengan posisi jongkok juga, bibir vaginanya tepat berada dihadapan bibirku langsung kusambut dengan jilatan lidah dan isapan kecil. Posisi mereka yang berhadapan diatas tubuhku memudahkan keduanya saling pagut bibir, sambil pinggulnya memutar, naik turun, menekan, diwajah dan penisku.

Lima belas menit setelah itu, Luna mempercepat gerakannya dan erangannya pun semakin erotis terdengar.

“Ahh Mass.., sayaa kliimmaakss.. Ohh ammphhuunnhh,” Luna mengejang diatasku, lalu ambruk berbaring disamping kananku. Melihat Luna KO, Wanda kemudian turun dari wajahku dan segera mengambil posisi Luna, dia mau juga memasukkan penisku ke memeknya.
“Ehh tunnggu Mbak Wanda, tunggu,” kuhentikan Wanda.

Aku bangkit dan memeluknya lalu membaringkannya dikasur, sehingga akulah yang kini diatas tubuhnya.

“Mass.. Aku pingin seperti Luna Masshh.. Puasin aku ya.. Meemmppffhh.. Ouhh Mass,” Wanda tersengal-sengal kuserang cumbuan, sementara penis tegangku sudah amblas dimekinya.
“Ohh enakhhnya memekmu Wanhh.. Enakhh ughh,”
“Engh.. Genjot yang kerass Mass, koontollmu juga ennahhkk.. Ohh Mass,” Wanda dan aku memanjat tebing kenikmatan kami hingga dua puluh menit, sampai akhirnya Wanda pun mengejang dalam tindihanku.

“Amphhunn Mass.. Ohh nikhhmatt bangghett Masshh..,” Wanda mengecup dadaku dan mencakar punggungku menahan kenikmatan yang asyik.
“Iya Wan.. Inii untukkhhmu.. Ohh.. Oohh,” aku pun menumpahkan berliter spermaku ke dalam vagina Wanda.

Setelah sama-sama puas, dua SPG susu itu pun berlalu dari rumahku, kutambahkan dua lembar ratusan ribu untuk mereka. Aku pun kembali tidur dan menghayalkan kenikmatan tadi.

wanita Yang Seksi Dan Hot

mantep

Disebuah Kota yang sejuk dan indah disitulah aku tinggal, saat itu usiaku baru 18 tahun, aku sekolah disebuah SMA swasta dikotaku, kegiatanku selain sekolah aku juga suka berolah raga, maka tidak aneh jika postur badanku atletik sebut saja namaku Sukro.

Kisah ini dimulai saat aku menginap di rumah seorang tetangga sebelah rumahku, dia seorang ibu dengan 2 orang anak suaminya seorang wiraswasta yang kadang jarang pulang ke rumah, sebut saja namanya Neng Marta, malam itu aku diminta menginap dirumah orang tuanya Neng Marta yang letaknya tidak jauh dari rumahku mengingat orangtuanya sedang pergi keluar kota dan kebetulan malam itu ada siaran langsung pertandingan sepakbola yang memang menjadi hobbyku makanya aku mengiyakan saat Neng Marta memintaku untuk menginap di rumah orangtuanya, memang hubungan keluargaku dengan Neng Marta sudah seperti saudara jadi dia nggak segan-segan meminta pertolongan padaku.

Malam itu saat aku sedang asik menonton per tandingan sepakbola, dia datang dengan anaknya yang masih kecil umurnya kira-kira 2 tahun.

“ Lagi nonKron apa Kro ?” Tanya dia padaku

“ Biasa Neng” jawabku sambil terus menonton pertandingan di televise

“ kamu udah maka Kro?” tanyanya lagi padaku

“ sudah Neng, tadi sebelum kesini saya makan dulu “ jawabku lagi

“oh…”,

“ ya udah kalo begitu,Neng tiduMarta lia dulu ya” kata Neng Marta padaku sambil membawa anaknya ke kamar,

“ Oh, iya Kro, nanti kamu tidur di kamar depan aja ya” kata Neng Marta sebelum masuk kekamarnya. “ iya, Neng “ jawabku singkat.

Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 22.00, sebentar lagi pertandingan sepakbola akan segera selesai, tiba-tiba Neng Marta keluar dari kamarnya dengan menggunakan pakaian tidur yang memperlihatkan lekukan badannya.

“kamu belum tidur, Kro ? “ Tanya Neng Marta padaku.

“ belum Neng, sebentar lagi “ jawabku sambil aku mencuri pandangan kea rah Neng Marta yang tampak begitu menggoda hasrat kelelakianku.

“ Neng sendiri belum tidur ?” tanyaku pada Neng Marta

“ Neng, gak bisa tidur Kro… gak tau kenapa ? “ jawab Neng Marta padaku

“Neng boleh temenin kamu disini Kro ?” Tanya Neng Marta

“ nanti kalo Neng udah ngantuk baru Neng tidur “ lanjutnya.

“ Boleh dong Neng, “ jawabku

Malam itu aku habiskan waktu dengan mengobrol dengan Neng Marta, saat aku ngobrol sesekali aku memperhatikan lekuk badan Neng Marta yang menggodaku walaupun dia sudah mempunyai 2 orang anak tapi dia pandai merawat tubuhnya sehingga terlihat masih segar, apa lagi kedua buah dadanya yang berukuran cukup besar yang selalu tidak pernah lepas dari pandanganku saat aku mengobrol dengannya. Malam semakin larut akhirnya aku tak kuasa menahan hasrat kelelakianku, aku takut Neng Marta tau apa yang sedang aku rasakan dan aku bayangkan, aku nggak mau Neng Marta marah.

“Neng, udah malam”,

“ saya tidur dulu ya…” kataku sambil beranjak dari tempat dudukku.

“ emang kamu udah ngantuk ya, Kro ? “ Tanya Neng Marta padaku

“ iya Neng”.

“ lagian nanti pagi saya harus latihan Neng “ jawabku

“ ya udah kalo begitu “ jawab Neng Marta singkat.

Malam itu aku tidur dikamar depan, hayalanku melayang dan membayangkan apa yang aku lihat saat aku ngobrol sama Neng Marta tadi. Malam itu kebetulan hujan turun di daerahku menambah suasana mendukung hayalanku tentang Neng Marta, andai saja Neng Marta mau malam ini tidur denganku, semakin aku menghayal semakin hilang rasa ngantukku padahal sudah hampir 2 jam aku berada di kamar, tapi rasa ngantuk itu gak kunjung datang juga.

Saat aku menghayal tentang Neng Marta, nggak tau setan apa yang menghampiriku sehingga aku berani melangkahkan kakiku menuju kamar Neng Marta, sesampainya aku didepan kamar Neng Marta aku beranikan diri untuk membuka pintu kamarnya, ternyata pintunya tidak di kunci, setelah pintu terbuka aku beranikan diri masuk ke kamar Neng Marta dengan perasaan yang nggak karuan antara nafsu dan takut, aku dekati tempat tidur Neng Marta, disana aku lihat Neng Marta sedang tertidur dengan pulas dan disampingnya anaknya yang berumur 2 tahun juga tertidur disisinya.

Aku tertegun beberapa saat memperhatikan tubuh indah yang ada di hadapanku, ingin rasanya aku menjamahnya tapi aku tidak memiliki keberanian untuk melakukannya karena aku takut Neng Marta marah padaku. Dengan hati berdebar-debar aku beranikan diri membangunkan Neng Marta yang sedang tertidur

“ Neng….Neng Marta “ kataku sambil menyentuh kakinya. Mendengan suaraku Neng Marta terbangun dari tidurnya, ia sepertinya kaget karena aku sudah ada di dalam kamarnya.

“ ada apa Kro?” tanyanya sambil kebingungan.

“ saya nggak bisa tidur Neng “ jawabku dengan suara bergetar menahan nafsuku.

“kamu mau tidur disini ?” Tanya Neng Marta sambil menggeser posisinya.

“ lia gimana Neng ?” tanyaku dengan perasaan yang gak karuan.

“ Emang kamu mo ngapain Kro?” Tanya Neng Marta dengan suara yang agak meninggi dan rasa takut. Mendengar pertanyaan itu aku langsung pergi meninggalkan kamar Neng Marta dengan perasaan bersalah dan takut Neng Marta marah. Sesampainya aku di kamarku aku rebahkan diriku di tempat tidur, aku menyesali apa yang sudah terjadi tadi tapi tetap saja bayangan tubuh Neng Marta tetap mengodaku sampai akhirnya aku tertidur lelap.

Pagi hari saat matahari mulai menyapa, aku terbangun dan langsung mengarahkan kakiku kea rah kamar mandi yang terletak di dekat dapur, saat aku melintas aku melihat Neng Marta sedang menyiapkan sarapan pagi. “ udah bangun Kro ?” Tanya Neng Marta mengagetkanku. “ ehhh.. udah Neng” jawabku dengan suara gugup, sambil terus berlalu menuju kamar mandi. Sesampai dikamar madi aku bergegas mandi dank arena aku sudah tidak sanggup menahan hasrat nafsuku maka aku melakukan o**ni maka tumpahlah lahar panas pagi itu di kamar mandi.

Selesai mandi aku bergegas kekamarku untuk segera pergi latihan dengan menahan rasa malu dan bersalah.

“Neng, saya pamit ya” kataku pada Neng Marta yang saat itu masih asik di dapur.

“ saya mau latihan dulu Neng “ kataku lagi.

“ loh, kamu nggak makan dulu Kro ?” Tanya Neng Marta padaku.

“makasih Neng”.

”udah terlalu siang” kataku sambil menuju keluar.

“ ya udah ati-ati perginya ya” kata Neng Marta.

“ya, Neng” jawabku singkat.

“makasih ya Kro” katanya lagi sambil memperhatikanku keluar dari rumahnya, aku hanya mengangguk tanpa berani menatapnya.

Seminggu setelah kejadian itu, aku sering kali menghindar untuk ketemu dengan Neng Marta, aku merasa malu atas apa yang aku lakukan waktu itu. Di suatu siang saat keluargaku sedang tidak ada di rumah tiba-tiba pintu rumahku diketuk oleh sesorang dari luar. Aku bergegas membukakan pintu, aku pikir orang tuaku pulang dari undangan, saat pintu aku buka. Aku terkejut ternyata yang datang adalah Neng Marta.

”ehh..Neng” kataku sambil menahan rasa malu.

“ kamu kemana aja Kro?”Tanya Neng Marta. Aku tidak menjawab.

“masuk Neng” kataku sambil mempersilahkan Neng Marta masuk. Neng Marta melangkah masuk kerumahku.

“pada kemana Kro?”.”kok sepi” Tanya Neng Marta.

“lagi pada pergi ke undangan Neng” jawabku singkat. Neng Marta duduk di kursi sopa di hadapanku .

”Kro….kamu marah sama Neng ya?” Tanya Neng Marta padaku.

“marah kenapa Neng?” tanyaku dengan perasaan bingung.

“ akhir-akhir ini kamu selalu menghindar untuk ketemu Neng kan?” tanyanya lagi. Aku terdiam

“ nggggak kok Neng” jawabku.

“kalo nggak, kenapa setelah kejadian yang kamu nginep di rumah orang tua Neng kamu selalu mnghindak ketemu Neng?” Tanya Neng Marta.

“saya malu Neng”.”saya minta maaf, kalo saya udah lancang masuk kekamar Neng”.

”saya takut Neng marah” jawabku sambil tertunduk malu.

”kamu ini aneh Kro” kata Neng Marta sambil tertawa

“masa begitu aja Neng marah sih” kata Neng Marta lagi.

“emang apa sih yang kamu mau dari Neng?” Tanya Neng Marta padaku. Mendengar pertanyaan itu aku memandang Neng Marta dengan pandangan tajam.

“loh kok malah bengong !!!“ kata Neng Marta lagi yang mengejutkaku. Aku hanya tersenyum .

“ kapan kamu mau nginep lagi?” Tanya Neng Marta lagi.

“nggak tau Neng” jawabku singkat. Sedang asik-asiknya kami mengobrol tiba-tiba ibuku pulang “ehhh…ada Neng Marta” sapa ibuku .

“ dah lama Neng ?” Tanya ibuku.

“ iya…tante”.

“ tadi sih tante” jawab Neng Marta singkat.

“ ini tante, saya mau minta Krolong sama Sukro buat jagain rumah mama lagi mala mini “ kata Neng Marta pada ibuku.

“ ohhhh… boleh aja “ jawab ibuku. Setelah itu kami ngobrol banyak hal sampai akhirnya Neng Marta pamit pulang dan sebelum pulang Ia sempat mengingatkan aku untuk menjaga rumah ibunya dan memberikan kunci rumah kepadaku.

Malam itu aku tidur di rumah orang tuanya Neng Marta, suasana malam yang begitu dingin ditambah hujan Martatik-Martatik membuat suasana hening. Untuk melepas rasa sepiku aku mencoba mencari hiburan dengan menonKron televisi, tapi setelah beberapa kali aku cari acara yang menarik untuk aku KronKron ternyata nggak ada yang menarik maka aku putuskan untuk menonKron video yang ada di Laptopku, kebetulan di Laptopku banyak sekali video yang dapat mengusir penatku. Satu demi satu video blue yang ada di Laptopku aku putar tanpa aku perhatikan keadaan disekitarku karena aku pikir aku hanya sendirian di rumah itu. Tapi tiba-tiba

“ Sukro…… “ suara itu mengejutkan aku. Aku terkejut dan memalingkan muka ke arah suara itu. Ternyata Neng Marta sudah berdiri di depan pintu kamarku.

“ loh..kok Neng bisa masuk sih “ tanyaku pada Neng Marta

“ kan pintunya udah saya kunci Neng?” tanyaku lagi. Neng Marta hanya tersenyum

“ Neng jugakan punya kunci rumah ini Kro “ jawab Neng Marta.

“Neng udah lama ?” tanyaku pada Neng Marta.

“ iya…” jawab Neng Marta singkat. “kamu lagi nonKron film apa Kro” Tanya Neng Marta padaku.

“ini Neng…” jawabku sambil malu-malu. Neng Marta berjalan mendekati meja dimana Laptopku diletakkan.

“ ohhhhhhh….” Ujar Neng Marta. Sampil terus memperhatikan adegan yang terjadi dalam film di Laptopku. “kamu suka nonKron film gituan ya Kro” Tanya Neng Marta sambil duduk di samping tempat tidur. “ iya…Neng “ jawabku polos. “kalo Neng suka juga?” aku balik bertanya sama Neng Marta. “ sapa sih yang gak suka nonKron film begituan” jawab Neng Marta. “ tapi Neng lebih seneng praktekinnya” kata Neng Marta sambil tertawa nakal. “ ahh..Neng bisa aja “ jawabku sambil memandang kearah Neng Marta. Akhirnya kami berdua ngobrol tentang banyak hal terutama tentang seks ternyata Neng Marta suka juga membicarakan masalah yang satu ini, makin lama obrolan kami makin seru dan tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 malam. “Neng..gimana hubungan seks Neng sama om Doni” tanyaku dengan berhati-hati.

Neng Marta menarik napas panjang “ Neng nggak mau cerita itu Kro” jawabnya. “ loh..emang kenapa?” tanyaku. Akhirnya setelah beberapa saat Neng Marta mau juga menceritakan hubungannya dengan om Doni suaminya, dia bercerita bahwa hubungannya baik-baik aja hanya beberapa bulan belakangan ini Neng Marta merasakan hubungannya dengan om doni kurang greget tidak seperti sebelum-sebelumnya . aku mendengarkan cerita Neng Marta dengan seksama. “Neng, kalo saya denger cerita Neng tadi rasanya Neng ama om doni harus mencari vareasi dong” saranku. “ jangan gitu-gitu aja” ujarku lagi.”gitu-gitu aja gimana maksudnya?” Tanya Neng Marta. “ ya.. gitu “. “ saya nggak bisa jelasin Neng” jawabku dengan nada gugup. “maksud kamu Neng harus nonKron film dulu?”. “ atau vareasi posisi berhubungan gitu?” Tanya Neng Marta. “ ya…mungkin itu salah satu yang bisa membantu Neng ama om doni supaya lebih hot lagi “ jawabku nakal. “ kamu bisa aja Kro” kata Neng Marta. “ kaya kamu udah pengalamn aja” kata Neng Marta lagi sambil tersenyum. “ ada saran lain gak ?” Tanya Neng Marta. Aku tersenyum “ maaf ya Neng mungkin saran saya ini konyol “ kataku. “ Apa?” Tanya Neng Marta penasaran. “ Mungkin Neng harus coba ama orang lain “ kataku. “ maaf ya Neng, jangan marah”.”inikan Cuma saran” ujarku lagi.

Neng Marta terdiam. Mungkin dia sedang memikirkan matang-matang saranku tadi.

“tapi dengan siapa Neng harus melakukannya Kro?” Tanya Neng Marta

“siapapun pasti mau Neng, soalnya Neng kan masih cantik, seksi lagi “ jawabku nakal

“ kamu bisa aja Kro “. Kata Neng Marta sambil tersipu manja.

“ kalo Neng pilih kamu, kamu mau nggak?” Tanya Neng Marta.

Aku terkejut mendengar pertanyaan itu. Padahal dalam hatiku itulah yang aku inginkan. Tapi aku berusaha jual mahal . “ loh…kenapa harus saya Neng ?” tanyaku.

Neng Marta menarik napas panjang. “ ya..udah lupain aja Kro…” jawab Neng Marta sambil beranjak dari duduknya. “ Neng tidur dulu ya.” Katanya. “ slamat malam Kro” ujarnya lagi.

Aku terdiam dan terpaku dan tidak menjawab apa yang Neng Marta ucapkan. Aku hanya memandang berlalunya Neng Marta di hadapanku dan keluar dari kamarku.

Aku merasa menyesal kenapa tidak aku iyakan aja pertanyaan Neng Marta tadi. Hayalanku melambung jauh membayangkan kami berdua bercinta, bergumul dan saling meregang. Ohhhh indahnya jika terwujud gumanku dalam hati.

Karena aku merasa haus aku melangkahkan kakiku menuju dapur untuk mengambil segelas air minum, sesampainya didapur aku terkejut karena aku melihat Neng Marta ada disana sedang mengambil air minum juga. Tetapi yang membuat aku terpesona adalah Neng Marta hanya menggunakan kaos putih yang tipis tanpa menggunakan bawahan.

“ Neng….” Kataku.

“ ehhh…kamu Kro “ katanya. “ mo ambil minum ya?” tanyanya lagi

“ iya …Neng “ jawabku sambil terus memperhatikan tubuh Neng Marta yang terlihat menggodaku

Aku melangkahkan kakiku mendekati Neng Marta. Pikiranku sudah tidak karuan antara hasrat dan takut. Tapi aku beranikan diri untuk lebih dekat dengan Neng Marta. Saat sudah dekat entah kenapa keberaniaku timbul lebih besar untuk memeluk Neng Marta.

“ Neng….boleh saya minta sesuatu, Neng ?” tanyaku

“ kamu mau minta apa Kro “ tanyaku

“ boleh saya peluk Neng “ tanyaku

Neng Marta tersenyum. “ sini …” katanya sambil mengulurkan kedua tanganya ke arahku.

Tanpa pikir panjang aku peluk Neng Marta dengan eratnya. Dan tanpa aku sadari kemaluanku ternyata sudah tegang. Dengan sedikit keberanian aku kecup kening Neng Marta dan diapun terbawa suasana itu. Neng Marta memejamkan matanya. Tanpa menunggu waktu lama aku kecup bibir dan aku lumat habis bibir Neng Marta yang terlihat sangat menikmati permainanku, aku telusuri rongga mulutnya dengan lidahku….dan diapun membalasnya dengan nafsunya yang membara.

Tidak hanya disitu, tanganku mulai beraksi meremas kedua buah dadanya yang monKrok. Diapun mendesah “ ahhhhhh….Sukro “ desahnya. Aku tidak peduli aku coba singkapkan kaos yang dia gunakan aku masukkan tanganku ke celana dalamnya, aku elus kemaluannya. Ternyata sudah basah. “ ohhhhh.. Sukro kamu nakal “ desahnya lagi. Aku makin bernapsu. Aku angkat kaos yang dipakain Neng Marta ternyata dia tidak menggunakan BH langsung aku isap putingnya yang selama ini menggoda imanku, aku lumat putingnya, aku isap. “ ooohhhhh….sukroooo” desahnya membuat napsuku semakin membara.

“ Neng, aku sayang Neng” kataku

“ mmmmhhhmmmm ….” Desahnya tanpa bisa mnjawab

“ Kro…. Jangan disini, dikamar aja ya “ ajaknya padaku

Akupun mengikuti kemauannya menuju kamarnya.

Sesampainya dikamarnya, aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan langka ini, aku langsung lucuti kaos yang dipakai Neng Marta dan sedikit memaksa aku pelorotkan celana dalam yang dipakainya.

“ sabar dong Kroooo “ kata Neng Marta

Aku tidak pedulikan perkataan Neng Marta, aku dorong dia ke tempat tidur aku buka kakinya dan aku jilat kemaluannya dengan lidahku. “ uhhhh….ssstttt… ohhhhhh “ desahnya

Aku terus mempermainkan lidahku di dalam kemaluannya, ia menggelinjang penuh kenikmatan dan setelah beberapa saat aku mempermainkan lidahku dikemaluannya ia menekan kepalaku sehingga aku makin terpendan di dalam kemaluannya.

“ ohhhh…Sukrooo….yesssss…terussssss Krooooo “ desahnya penuh napsu

“ ohhhhh….ssssssSSSSssss….Sukro kamu nakal “ ujarnya

Akhirnya aku merasakan ada cairan manis yang keluar dari kemaluannya, aku tidak berhenti dan terus menjilat dan menghisapnya.

“ Kro…udah sayang, gentian ya “ kata Neng Marta

Akupun menghentikan kegiatannku. Neng Martapun duduk di atas tempat tidur dan ia menariku untuk lebih mendekat. Tanpa ragu-ragu ia membuka celanaku dan tanpa kemaluanku yang sudah menegang

Ia mengusap kemaluanku dengan lembutnya dan akhirnya ia mengulumnya dengan penuh napsu

“ ohhh… Neng…..SSsssss “ desahku

Dia terus mengocok kemaluanku, Neng Marta memang sudah berpengalaman dengan hal ini.

“ ohhhhh….yesssssss “ desahku lagi

“ mmmmhhhhmmm…. “ desahnya

“ Neng udah, Neng “ kataku

Neng Martapun menghentikan kegiatannya.

“ aku masukin ya Neng “ pintaku dengan penuh napsu

Neng Marta nggak menjawab ia hanya mengangguk tanda setuju.

Maka dengan bantuan tangannya aku arahkan kemaluanku kea rah kemaluannya. blesssssssssssssssssssss, Neng Marta sedikit tersentak sambil menyeMartagai….bleess bleess bleess bleess bleess bleess bleess bleess bleess bleess ooohhh bleess bleess bleess aku tarik ulur penisku keluar masukandalam kemaluan Neng Marta……..

“ohhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh “ desahan panjang keluar dari mulut Neng Marta

Setelah puas dengan gerakan tadi aku lanjutkan pergerakan ku, kulipat kakinya keatas sehinga aku merasakan kemaluannya menyempit kugoyang kemaluanku dengan penuh napsu….srelp srelp srelp sreppppp kutahan dan ku putar kemaluanku dalam kemaluannya…

“mbaaaaaaaaaaaaakkk aku…oooohhhh”. cretttttttttt cretttttt crettttttttt “ ooohhh “ Neng Marta memeluku dengan erat

“oooooohhhhhh….” dia juga berteriak ternyata dia juga merasakan lahar panas tumpah dari dalam kemaluannya.

Tubuh kami basah oleh keMartagat, kamipun saling berpandangan dan tersenyum tanda suka dan gembira.

“ Sukro, makasih ya “ katanya

“ makasih apa Neng?” tanyaku

“ kamu udah memberikan kepuasan sama Neng “ katanya

Aku hanya tersenyum. Dan akhirnya malam itu kamipun tidur berdua dengan tanpa sehelai benangpun. Dan kami ulangi beberapa kali hubungan itu layaknya suami istri.

Setelah kejadian itu, kami selalu menyempatkan untuk melakukannya baik itu dirumah Neng Marta, dirumah orang tuanya malah sempat waktu itu karena Neng Marta tahu dirumahku hanya ada aku ia memintaku untuk melayaninya dikamarku. Dan sejak hubungan gelapku dengan Neng Marta aku sering mendapat tambahan uang saku untuk sekolahku.

Selingkuh Dengan Teman Satu Gedung

cewe

Nama panggilanku Murti. Aku berusia 25 tahun dan bekerja di sebuah perusahaan swasta di Surabaya pada posisi yang cukup menyenangkan baik secara status maupun secara ekonomi. Aku seorang blasteran Jawa-Jepang, namun secara fisik, banyak orang mengira aku keturunan Chinese karena warna kulitku putih dan mataku tidak lebar. Rambutku pendek seleher. Aku tergolong wanita yang kurus dengan tinggi badan 176 cm dan berat 59 kg. Namun aku merasa memiliki bentuk tubuh yang bagus, dengan kaki yang panjang, dan payudara yang tidak besar namun padat dan kencang. Sejak remaja, kehidupan seksualku tergolong cukup ‘bebas’ untuk orang Indonesia. Selama aku cocok dan dia cocok, aku easy going sajalah. Mungkin sikap ini juga yang membuatku belum mendapatkan pasangan ‘resmi’ hingga sekarang, tapi…, peduli amat? aku toh enjoy aja dengan ini semua.

Waktu itu akhir bulan Juni 99. Karena akhir bulan, seperti biasa aku sibuk membaca dan mengevaluasi laporan hasil kerja anak buahku, dan menuliskan laporan untuk atasanku. Karena waktu sudah sangat sempit, aku memutuskan untuk bekerja overtime sampai selesai. Gedung perkantoran tempatku bekerja tergolong pelit, mereka mematikan lampu dan listrik utama setelah lewat pukul enam sore. Karena itu aku menyewa sebuah ruang khusus yang memang disediakan gedung itu untuk orang-orang yang ingin lembur. Ruangan itu kecil sekali, sekitar 3×3 meter, tidak berjendela, sehingga terkesan seperti dikurung dalam sebuah kotak korek api, dan AC-nya tidak begitu dingin. Namun karena tuntutan karier, ya sudahlah, aku langsung menginput data ke dalam notebook untuk diemailkan pada kantor pusat. Tak terasa, aku sudah bekerja hingga pukul delapan malam.

Karena AC yang kurang bagus, aku merasa kegerahan dan haus. Aku ingat, di luar bilik kecil ini, di dekat lift, ada sebuah dispenser air minum, aku segera berdiri dan keluar dari ruang itu untuk mengambil air minum. Ketika aku membuka pintu, aku melihat seorang Lelaki sedang mengambil air di dispenser itu. Nah, aku lega bahwa ternyata dispenser itu bekerja. Aku segera menghampiri dispenser itu, mengambil gelas, dan menuangkan air ke gelasku. Lelaki yang sedang minum tadi tersenyum menyapaku, aku tersenyum balik, sekedar ramah tamah basa-basi. Lelaki itu berbadan besar, tingginya sekitar 180-an lebih tinggi dariku yang tergolong jangkung. Ia tidak terlalu kurus atau gemuk, meskipun tidak juga berbentuk seperti binaragawan. Tubuhnya terbungkus rapi oleh kemeja Kenzo warna hijau muda dan di lehernya terikat dasi bercorak ramai khas Gianni Versace. Wajahnya pun biasa saja, tampang orang pengejar karir di usia pertengahan duapuluhan.

“Sedang lembur juga, Mbak?”, Tanyanya mencoba mencairkan suasana sepi.

“Iya, biasa, Mas, akhir bulan. Pas hari Jumat lagi.”

“Oh, pasti lagi nyelesaikan progress report yah?

“Iya, untung udah selesai barusan.”

“Wah, baguslah. Eh, omong-omong, Mbak kantornya di lantai berapa?”.

“Di lantai sebelas, di PT (perusahanku). Kalau Mas?”.

“Saya di lantai delapan, di PT (perusahaannya).””Oh, wajarlah kalau kita nggak pernah ketemu”.

“Haha, iya, rupanya ada gunanya juga lembur. Kita bisa saling kenal.” Lelaki itu berkesan begitu sopan dan ramah, matanya sedari tadi memandang hanya ke mataku, tidak ke arah kemejaku yang dua kancing atasnya terbuka, sehingga nampak putihnya kulit dadaku mengintip keluar.

“Oh iya, kita belum kenalan, Namaku Albert.” Katanya sambil mengulurkan tangannya mengajak berjabatan tangan.

“Aku Murti.” Jawabku sambil tersenyum semanis yang aku bisa.

“Murti pulang nanti naik apa?”.

“Oh, aku bawa mobil sendiri. Kalau kamu?”.

“Aku naik mobil juga…, Eh, Murti keberatan nggak kalau kita makan malam bareng setelah ini?”.

Wah, orang ini ‘direct’ juga yah? pikirku kegirangan.

“Boleh aja, apa Albert nggak ada yang nungguin di rumah?”.

“Ah, belum kok.” Jawabnya sambil mengerdipkan mata kiri dan tersenyum manis.

“OK, aku akan beres-beres dulu yah!”, Kataku sambil melangkah balik ke bilikku.

Aku segera mengemasi notebook dan kertas-kertas kerjaku secara terburu-buru. Ada yang aneh di pikiranku. Aku merasakan ada gairah yang mendorongku untuk berhubungan lebih intim dengan Albert. Padahal orangnya biasa saja, kulitnya rada gelap, rambutnya cepak, wajahnya biasa saja meski ukuran tubuhnya memang cukup besar untuk ukuran orang sini. Tapi cara dia bicara, cara dia tersenyum, cara dia memandang mataku, benar-benar hangat, namun tidak nakal atau kurang ajar. Nyatanya, ia tidak berusaha mencuri pandang ke arah yang tidak-tidak seperti Lelaki lainnya yang pernah ketemu aku. Hmm… Kira-kira apakah dia ada keinginan untuk bercumbu denganku atau tidak yaa?

Selagi aku asyik mengkhayalkannya, terdengar ketukan di pintu.

“Masuk!” Kataku sambil berharap bahwa itu adalah Albert.

Ternyata benar, Albert berdiri di pintu itu sambil menenteng tas notebook di tangan kanannya. Dasinya telah dilepas, dan kancing bajunya terbuka yang di atasnya, sehingga nampak rambut-rambut halus di situ.

“Gimana, udah selesai?”, Tanyanya.

“Iya, udah, tapi sewa overtime nya sampai jam sepuluh nih, jadi masih rugi kalau aku tinggalkan sekarang!” Aku mencoba mengajak bercanda.

“Haha, pelit juga kamu, Mur! Boleh aku masuk?”.

“Silakan aja, asalkan kamu nggak keburu pulang”.

“Ah, nggak kok, ini kan Jumat, biasanya juga pulang telat”.

“Biasanya kemana aja kalau Jumat malam?”.

“Paling-paling pergi sama teman-teman main badminton atau basket”.

“Oh, seru dong? Apa sekarang nggak Bertungguin teman-temannya?”.

“Ah, mendingan juga di sini nemenin Reni. Sekali-kali boleh kan ganti suasana?”Kami kembali tertawa-tawa.

Ia duduk di meja kerja, sementara aku duduk di kursi kerjaku yang tadi.

“Wah, panas sekali di sini…, AC-nya kurang bagus yah?” Katanya sambil menggulung lengan bajunya ke atas, dan membuka satu lagi kancing baju di dadanya. Aku menahan diri untuk tidak melihat ke arah rambut-rambut di dadanya.

“Mur, kamu nggak panas pakai blazer di ruang kaya gini?” Tanyanya dengan nada yang terkesan wajar, meski mungkin saja tujuannya nakal.

“Well, sebenarnya iya sih…, boleh nggak aku copot blazernya?”

“Hahaha, kok pakai minta izin segala sih? Memangnya aku Papa mertua kamu?”.

Humornya membuatku tertawa geli, tapi juga sekaligus membuatku ingin berbuat lebih jauh dengannya. Maka aku berdiri dari kursi, dan melepaskan blazerku dengan gaya yang aku buat-buat agar nampak seksi. Aku menunggu apa reaksi dia kalau dia melihat bahwa ternyata kemeja yang aku kenakan ini tidak berlengan, sehingga kehalusan bahuku bebas dilihatnya.

“Wah, ternyata nggak ada lengannya toh?, Bisa-bisa nanti orang hanya menempelkan selembar kain saja di bawah blazer”. Candanya mengomentari.

“Sialan, aku kira kamu akan bilang aku seksi, Bert!”, Jawabku menggoda.

“Hah? wah, kalau itu sih…, apa kamu masih kurang yakin? sampai-sampai aku perlu meyakinkan diri kamu lagi?”

“Hihihi, ada-ada saja. Tapi thanks lho!”, Kataku sambil mengerdipkan mata.

Lalu dengan gaya yang kocak ia menceritakan bahwa seorang pialang saham ulung akan lebih merasa tersanjung bila dipuji atas kepandaiannya memasak daripada atas kepiawaiannya menganalisis saham. Wow, aku jadi merasa tersanjung juga karena itu berarti dia mengakui keindahanku.

Tiba-tiba dia berkata lagi, “Kamu nggak minta dipijitin sekalian, Mur? Kan kalau di film-film semi, adegan cewe buka blazer dilanjut dengan adegan pijit itu trus berlanjut dengan adegan yang biasanya disensor?”.

Ya ampun…, caranya begitu jantan sekali dan sama sekali nggak kurang ajar…, Aku jadi luluh juga dibuatnya, dan aku jadi rela untuk menyerahkan tubuhku padanya…, meski sebenarnya akulah yang menginginkannya.

Aku segera menjawab, “Terserah deh, tapi nggak usah disensor juga nggak apa-apa kok”.

“OK deh, itu berarti adegan yang disensor itu bisa aja dilakukan nanti?”Katanya, sambil berdiri di belakang kursiku dan mulai memijit bahuku.

Kami terdiam sejenak, ia memijit bahuku lewat kemejaku. Rasanya mantap juga, tapi tali bra yang kukenakan terasa menyakitkan sedikit. Dan dia bukannya tak tahu itu, ia menyingkapkan kemeja tanpa lenganku ke bawah, sehingga kini pundakku terpampang di hadapannya.

“Huh, tali ini menggangguku memamerkan keahlianku memijit!” Katanya sambil menyingkirkan tali bra ku ke samping, aku jadi merasa begitu seksi, Bertelanjangi perlahan-lahan seperti ini membuat pikiranku jadi aneh-aneh.

“mm…, nikmat sekali Bertt…”, Kataku sambil menikmati pijitannya yang memang nikmat dan membuatku menggeliat-geliat sedikit.

Tangannya dengan mantap memijiti pundak dan leherku, membuatku merasa begitu rileks, dan terus terang saja…, terangsang. Tiap kali jemarinya yang hangat itu menyentuhku, rasanya begitu nikmat hingga aku mengerang keenakan.

“mm…, mm…, aduuh, enaknyaa…, boleh juga tangan kamu, Bert!”

“Eh, rintihannya jangan dibuat-buat gitu dong! Nanti aku jadi ingin mijit bagian yang lain!”. Ia membuatku jadi makin terangsang dengan pilihan katanya yang selalu di luar perkiraanku.

“Berarti kalau aku merintih-rintih yang dibuat-buat, kamu pijit bagian yang lain yah?”

“OK! Setuju!” Candanya dengan nada seperti orang sedang rapat kampung. “Aahh… mmhh…, Ohh..” Rintihku aku buat-buat sambil bercanda.

Tiba-tiba tangannya langsung turun meremas kedua payudaraku yang masih terbungkus bra itu. Tangannya diam di situ, dan dia bilang, “Tuh kan? apa aku bilang? kalau kamu buat-buat gitu, tanganku jadi memijit bagian yang lain!” Katanya sambil bercanda…, padahal aku sudah mabuk kepayang dan ingin tangannya segera meremas kedua payudaraku.

“Udahlah Bert…, sekarang kita mulai aja deh”, Kataku dengan nada serius.

“Baiklah, Saya juga ingin melakukannya sejak tadi, kalau kamu yang minta oke lah!”, Katanya.

Ia pun langsung menurunkan bra-ku ke bawah, hingga kedua payudaraku kini terbuka lebar. Ia memutar kursiku hingga kami kini berhadapan. Ia berlutut di depanku, matanya menatap mataku yang telah sayu terlanda birahi. Aku menggerakkan tanganku untuk melepas kacamata minusku, namun ia menghalanginya.

“Nggak apa-apa, Mur…, Aku senang melihat kamu dengan kaca mata itu…, seksi sekali!” Katanya sambil mengedipkan mata kiri.

Tanpa banyak kata, ia lalu memajukan kepalanya dan mengulum bibirku, aku terpejam ketika merasakan lidahnya menerobos mulutku. Aku agak terkejut ketika ia melepaskan bibirnya dari bibirku. Belum sempat aku membuka mata, aku sudah merasakan jilatan lidahnya membasahi leherku yang jenjang, merambat menyusuri bahuku…, hangat sekali rasanya.

“Nngg…”, Aku mulai merintih pelan sambil menengadahkan kepalaku. Sementara lidahnya melingkar-lingkar mengolesi leherku, turun ke belahan dadaku…, menari-nari di situ…, uhh…, aku semakin tak karuan rasanya.

“Augh, cium yang aku mesra…!” Aku meracau tak karuan.

“Wah…, ketahuan nih, udah pengen yaa?”, Godanya nakal. Aku sudah kesetanan, segera kudekap kepalanya dan kutarik mendekati dadaku, dan kubusungkan kedua dadaku agar ia segera mengulum puting payudaraku. Dia malah berkata lagi, “Iya, iya aku tahu maksudnya kok…, sslurp”.

“Uhgkk”, Mulutnya menangkap puting payudaraku yang kanan, lidahnya menjilat-jilat lembut, aduuh…, rasanya gelii dan nikmaat sekali…, aku menggelinjang-gelinjang menahan geli yang luar biasa, lidahnya seperti melingkar-lingkari puting payudaraku dengan cepat namun lembut. Begitu gelinya hingga punggungku terlepas dari sandaran kursi dan melengkung seperti busur panah.

Kini lidahnya berpindah ke puting payudaraku yang kiri, mengait-ngaitnya…, Aduuhh aku semakin lupa daratan, Aku nggak tahu kenapa, tapi jilatan Albert rasanya begitu berbeda, benar-benar membuatku seperti melayang-layang kegelian, rasanya seluruh badanku kehilangan energi…, lemas sekali, tapi terasa nikmaat sekali. Puting payudaraku yang kanan kini dipilin-pilinnya.

Uhhfff…, Kedua puting payudaraku yang sensitif ini menjadi bulan-bulanan mulut rakus Albert, aku merintih dan mengerang sebisaku, keringatku mulai menetes, rasanya sulit sekali untuk bernafas teratur, tiap kali menarik nafas selalu terhenti oleh rasa geli yang menyengat puting payudaraku.

Tiba-tiba ia berhenti. “Mur, naik ke meja dong?”, Katanya sambil mendirikan tubuhku. Karena sudah terangsang tak karuan, aku menurut saja ketika ia menelentangkan tubuhku di meja kantor, kemejaku telah terbuka kancingnya, namun ia tidak melepasnya, hanya menyingkirkan ke kiri kanan. Aku sempat tertegun melihat kemeja Albert masih tampak rapi, hanya celananya saja yang terlihat menonjol karena desakan kejantanannya. Aku tertegun juga ketika melihat kedua puting payudaraku terlihat kemerahan, berdenyut denyut dan mencuat tinggi sekali. Aku segera kembali terpejam ketika mulut rakusnya kembali menyerang kedua payudaraku. Puting-putingku dijilat, dihisap, digigit, dan aku tak tahu diapakan lagi…, rasanya luar biasa geli dan nikmat. Aku hanya bisa telentang di meja itu sambil terengah-engah dan menggelinjang menahan serbuan birahi.

“Ahhkk…, sshh…, mmh…”, Aku mendesah dan meracau tak karuan. Sementara tangan kananku mulai gatal dan menyusup kebalik rok mini dan celana dalamku, menggosok-gosok bibir kemaluanku yang rupanya telah lembab dan basah sekali dari tadi.

Kini Albert memilin-milin kedua puting payudaraku dengan jari-jarinya, dan lidahnya menyusuri perutku yang langsing, menjilati puMurku. Lidahnya mendarat di tempat-tempat tak terduga yang memberiku sensasi yang luar biasa selain pilinan jarinya pada puting payudaraku. Paha bagian dalamku tak luput dari jilatan-jilatannya yang mesra dan buas. Disingkapkannya rok miniku ke atas, lalu jemarinya kembali ke puting payudaraku seolah tak membiarkan mereka istirahat. Digigitnya karet celana dalamku, secara refleks aku merapatkan kaki dan mengangkat punggungku agar ia mudah melepaskannya. Aku tak tahu diapakan, tapi celana dalamku segera lepas. Secara sukarela aku mengangkangkan kedua tungkaiku lebar-lebar agar ia bisa memandangi kewanitaanku yang telah membanjir karena ulahnya.

Albert melepaskan kedua putingku, lalu menekan pahaku keluar, agar ia lebih bebas lagi memandangi kewanitaanku. Aku hanya terengah-engah memandangi langit-langit dalam keadaan terangsang sekali. Akhirnya aku mampu menarik nafas panjang, karena kedua putingku tak lagi menerima sengatan birahi darinya. Tapi tiba-tiba kurasakan hawa dingin di kewanitaanku, ia meniup-niupnya, memberiku rasa geli yang aneh…, membuatku semakin tak tahan lagi, ingin ia segera menancapkan kejantanannya ke tubuhku.

“Ohh…, cepatlahh Alberto…, ayo…, kamu hebat… deh!”.

“Mur…, badan kamu indah sekali…, luar biasa…, cantik sekali”.

“Please, lakukan sesuatu…” Aku merintih memintanya segera menyelesaikannya.”Ahhgg…”, Aku menjerit dan menggelinjang hebat ketika lidahnya tiba-tiba menyayat clitorisku dengan cepat dan tajam. Lalu kewanitaanku seperti diselimuti oleh sesuatu yang basah, panas, dan lunak, terhisap-hisap, dan clitorisku tersayat-sayat oleh sesuatu.

Karuan saja aku makin tak tahan, menggeliat-geliat tak karuan, punggungku terangkat-angkat dari meja itu, mataku tak mampu kubuka, nafasku kian terasa berat, rasanya gelii sekali…, nikmat tak terkira, “Oohh…, Alberto…, uuhh…, enaak sekalii…, sshh…, kamu apain akuu…, aduuhh”.

Rintihanku kian tak terkendali, aku segera memlintir-mlintir kedua puting payudaraku untuk menambah kenikmatan, meremas kedua payudaraku yang kenyal, sementara Albert tak henti mengirimkan kehangatan birahi lewat bibir kewanitaanku. Jilatan dan hisapan mulut Albert kian buas menerpa kewanitaanku. Apalagi ketika jarinya Bertusukkannya ke dalam liang kewanitaanku, dan menari-nari di dalamnya…, Aduuh…, benar-benar tak terperi nikmatnya.

Tusukan jari Albert menyentuh tempat yang tepat…, berkali-kali…, Aduhh…, terasa seluruh energiku seperti terhisap ke tempat itu…, terkumpul di situ…, lalu meledak.

“Aahhgg Albert…, uhh..”, Aku segera mencapai klimaks. Orgasme yang luar biasa sekali…, merenggut sebagian kesadaranku…, hingga kini aku terkulai lemas. Aku mencoba mengatur nafas…, tapi sia-sia…, kenikmatan ini benar-benar membuatku terbang melayang. Aku terpejam, merasakan nikmatnya diriku terombang-ambing ke alam tak sadar…, menggumam.

“mmhh…, Albert…, nikmat sekali…, hh”.

“Murti, mau istirahat dulu?”.

“Ngghh…, nggak…, langsung aja, goyang yang cepat! sekarang!”, Aku tak mampu mengontrol pilihan kataku lagi, birahiku telah menguasai diriku.

“Well, baik kalau begitu..”, Itu kata terakhir yang kudengar dari Albert, lalu sambil hanya dapat memandangi langit-langit aku merasa pahaku dikangkangkan, tiba-tiba…, sspp…, Kejantanannya mengisi tiap rongga di liang kewanitaanku ini.

“Aduuhh…, Ohh…, terusin sayangghh…, deeper…”, Aku merintih tak karuan ketika ia mulai menggerakkan tubuhnya. Ia berdiri sementara aku telentang di meja, jelas ia sangat leluasa menggerakkan tubuhnya, kejantanannya terasa menyodok dan menggerus-gerus seluruh bagian dalam kewanitaanku dengan buas dan garangnya.

Aku tak mampu bergerak membalas karena masih lemas oleh orgasme yang pertama tadi…, namun persetubuhan ini rasanya lebih hebat lagi…, rasa-rasanya seluruh tubuhnya memasuki liang kewanitaanku, aku hanya memejamkan mata, menggeliat, merintih. “Uhh…”. Sodokan-sodokan kejantanannya terasa kian dalam menerobos daMur kewanitaanku telapak-telapak tangannya yang kaMur tak henti meremas dan memegang kedua payudaraku.

Beberapa menit kemudian, Albert tiba-tiba menarik kejantanannya dari kewanitaanku, lalu dengan begitu cepat membalikkan tubuhku hingga kini badanku tengkurap di meja, namum kakiku menjuntai ke lantai, puting payudaraku terasa geli merasakan dinginnya meja kantor itu, aku hanya terengah.

Albert menikamkan kejantanannya lagi ke lubang kewanitaanku dari belakang…, “Uffhh…”, sensasi yang berbeda lagi…, ia mengocok tubuhku keras sekali hingga meja itu bergoyang-goyang, saat itu juga, aku merasakan klimaks menyambar tubuhku…, kewanitaanku serasa mengejang, menggigit kejantanan Albert, kedua tanganku mencengkeram ujung meja kuat-kuat, tubuhku menegang, dan aku merasakan adanya gelombang kenikmatan yang menyapu jiwaku, merenggut tenagaku, aku menjerit tertahan “Ahkk!”. Lalu aku merasakan nikmat yang luar biasa dan tubuhku serasa lemas sekali.

“Aduuh…, Bertt…, Enakk sekali.., hh”.

“Tahan sebentar, ya Murti…, bisa kan?”, Jawabnya sambil mempercepat gerakannya.

“Ahhkk…, sakit…, pelan-pelan dongg..”, Kewanitaanku terasa ngilu.

“Sebentar saja yang…, sebentaar lagii”.

“Ohh…, Uhhg…, Ngg..”, Aku mengerang-erang menahan ngilu, namun rasa sakit itu tak bertahan lama ketika tiba-tiba kehangatan kembali mengalir lewat kewanitaanku. Aku serasa melambung lagi oleh orgasme yang ketiga, ketika sperma Albert menyembur menghangatkan sudut-sudut liang kewanitaanku. Kali ini, kenikmatan itu mengantarkanku ke alam tak sadar untuk beberapa saat.

Cukup lama aku tertelungkup di meja itu, terengah-engah, dibanjiri keringat, lemas sekali seperti setengah pingsan. Yang dapat kurasakan hanya rasa nikmat dan kepuasan tiada tara, aku sempat melihat Albert melemparkan tubuhnya ke kursi kerja, lalu memejamkan matanya.

Beberapa saat kemudian, aku tersadar. Dengan sisa tenagaku aku mencoba berdiri dan merapikan kemejaku yang telah kusut tak karuan karena habis bersetubuh tanpa melepaskan pakaian. Tak kukenakan kembali celana dalamku karena telah sedikit basah oleh cairan kenikmatanku ketika foreplay tadi.

Kukenakan kembali blazerku, kulihat Albert sedang berdiri bersandar di pintu tanpa ada kusut sedikitpun di kemejanya, namun wajahnya tampak berseri-seri.

“Murti, udah jam sepuluh seperempat!”.

“Iya, sudah waktunya pulang nih”.

“Nah, dengan begini kamu nggak rugi kan?”.

“Apanya yang nggak rugi?”.

“Kan bayar sewa ruang overtimenya sampai jam sepuluh!?”.

Kami tertawa-tawa lagi. Lalu berjalan menuju tempat parkir mobil kami di lantai lima. Di lift, sebenarnya ingin juga sekedar berpelukan atau berciuman, tapi sayang sekali satpam gedung ikut berada di lift, senyam senyum memandangi wajah-wajah kami yang kusut meski berseri-seri. Semenjak itu, aku masih beberapa kali lagi melakukannya dengan Albert, sampai ia dipindah tugaskan menjadi kepala pemaMuran di daerah lain. Dan aku?

Well…, Ia memang luar biasa, tapi availability ialah segalanya, bukan? Aku kembali mengejar karier, sambil bertualang dari satu pelukan ke pelukan lain para Lelaki (dan kadang-kadang wanita) yang aku taklukkan dengan tubuhku.